Panduan Kita

Cara membangun kepercayaan dengan pasangan baru

Kepercayaan dengan pasangan baru dibangun dari konsistensi kecil dan transparansi sukarela, bukan dari pengawasan, cek HP diam-diam, atau janji besar di awal.

Oleh Nadia Syarif 8 menit baca
Cara membangun kepercayaan dengan pasangan baru
(CC0 1.0) via rawpixel

Tiga bulan pertama sebuah hubungan sering terasa seperti ujian tak kasat mata: pasanganmu telat membalas chat dua jam, dan kepalamu langsung menyusun sepuluh skenario tentang apa yang mungkin terjadi. Di fase ini, kepercayaan belum terbentuk, dan otak cenderung mengisi kekosongan informasi dengan tebakan, biasanya tebakan terburuk.

Kepercayaan bukan sesuatu yang otomatis muncul karena kamu resmi pacaran. Ia dibangun, sedikit demi sedikit, dari cara dua orang saling memperlakukan di ratusan momen kecil. Kabar baiknya, proses ini bisa diarahkan dengan sengaja. Kabar yang perlu diwaspadai: banyak orang, tanpa sadar, justru merusak kepercayaan sambil merasa sedang memperkuatnya.

Artikel ini membahas fondasi yang benar-benar membangun kepercayaan, membedakannya dari kontrol yang sering menyamar sebagai perhatian, dan menunjukkan cara menyikapi rasa cemas yang wajar muncul di fase awal tanpa merusak hubungan yang sedang tumbuh. Anggap ini bukan daftar aturan kaku, melainkan cara berpikir yang bisa kamu sesuaikan dengan karakter kamu dan pasangan.

Kepercayaan dibangun dari konsistensi kecil, bukan janji besar

Salah kaprah paling umum di awal hubungan adalah menganggap kepercayaan datang dari deklarasi besar. “Aku serius sama kamu”, “aku nggak akan pernah bikin kamu kecewa”, “kamu bisa percaya aku seratus persen”. Kalimat-kalimat ini terasa manis, tapi tidak membangun apa-apa. Kepercayaan tidak dibentuk oleh apa yang kamu ucapkan tentang dirimu, melainkan oleh apa yang berulang kali kamu lakukan.

Yang benar-benar dibaca pasangan adalah pola: apakah kamu muncul saat bilang akan muncul, apakah kamu mengabari saat telat, apakah kamu ingat hal yang dia ceritakan minggu lalu. Setiap tindakan kecil yang konsisten adalah setoran ke rekening kepercayaan. Ketika konflik pertama datang, dan pasti datang, saldo itulah yang menentukan apakah dia memberi kamu kesempatan menjelaskan atau langsung berasumsi buruk.

Karena itu, tahan keinginan untuk mengesankan lewat gestur dramatis. Keandalan yang tenang, yang bisa diprediksi, jauh lebih membangun daripada kejutan besar sekali-kali yang diikuti keandalan yang naik-turun.

Contoh konkretnya sederhana. Kamu bilang akan mengabari setelah sampai rumah, lalu benar-benar mengabari, meski cuma satu baris. Kamu ingat dia sedang deg-degan menunggu hasil wawancara kerja, lalu bertanya duluan bagaimana hasilnya. Kamu bilang tidak suka ditelepon saat rapat, dan dia menghormatinya tanpa ngambek. Hal-hal seperti ini terlihat remeh satu per satu, tapi ketika terjadi berulang, otak pasangan diam-diam menyimpulkan: orang ini bisa dipegang omongannya. Kesimpulan itulah yang jadi kepercayaan, jauh sebelum kata “percaya” pernah diucapkan.

Bedakan kepercayaan dengan kontrol

Ini pembeda yang paling sering kabur, terutama saat perasaan sedang menggebu. Banyak perilaku yang dikemas sebagai bentuk sayang atau keseriusan sebenarnya adalah kontrol, dan kontrol adalah lawan dari kepercayaan, bukan bentuknya.

Beberapa tanda yang perlu dikenali:

  • Meminta akses ke semua password sebagai “bukti tidak ada yang disembunyikan”
  • Menuntut laporan lokasi terus-menerus atau memantau status online
  • Melarang atau membatasi pertemanan tertentu tanpa alasan yang masuk akal
  • Marah kalau kamu butuh waktu sendiri atau ruang pribadi

Logikanya sederhana: kalau kamu benar-benar percaya seseorang, kamu tidak butuh mengawasinya setiap saat. Pengawasan justru lahir dari ketidakpercayaan, dan ia menciptakan lingkaran setan, makin diawasi, makin tertekan, makin banyak hal disembunyikan, makin curiga.

Kepercayaan yang sehat memberi ruang lalu memperhatikan pola dari waktu ke waktu. Kontrol berusaha menghapus ruang itu demi rasa aman yang semu. Kalau kontrol pasangan meningkat sampai membatasi gerak, mengisolasi kamu dari orang terdekat, atau menakut-nakuti, itu sudah bukan soal kepercayaan lagi, melainkan tanda hubungan yang tidak sehat. Kamu bisa menghubungi layanan SAPA Kementerian PPPA di 129 atau WhatsApp 08111-129-129 untuk berkonsultasi.

Transparansi yang sehat vs pengawasan

Kalau pengawasan merusak, apa gantinya? Jawabannya transparansi sukarela. Ada perbedaan besar antara membuka informasi karena kamu memilih terbuka dan membukanya karena diinterogasi.

Transparansi sukarela terlihat seperti ini: kamu cerita duluan kalau ketemu teman lama, menyebut rencana akhir pekan tanpa ditanya, menjelaskan konteks sebelum sesuatu jadi salah paham. Efeknya menenangkan, karena pasangan tidak perlu mengorek atau menebak. Keterbukaan yang datang atas kemauan sendiri mengirim pesan bahwa kamu tidak punya yang perlu disembunyikan, tanpa harus membuktikannya lewat pemeriksaan.

Sebaliknya, hubungan di mana setiap informasi harus ditarik satu per satu akan menumbuhkan curiga, bahkan ketika sebenarnya tidak ada yang salah. Ketertutupan yang terus-menerus membuat pasangan mengisi sendiri kekosongan itu.

Perlu ditegaskan: transparansi bukan berarti melapor tiap menit atau kehilangan seluruh privasi. Kamu tetap berhak punya ruang pribadi. Transparansi hanya soal tidak menyembunyikan hal-hal yang wajar diketahui pasangan dalam sebuah hubungan.

Bandingkan dua situasi berikut. Di situasi pertama, kamu diam soal rencana dinner dengan rekan kerja lawan jenis, lalu pasangan tahu belakangan dari orang lain, dan langsung muncul pertanyaan kenapa disembunyikan. Di situasi kedua, kamu menyebutnya lebih dulu, santai, “Besok aku dinner sama tim, mungkin pulang agak malam.” Isi kegiatannya sama persis, tapi dampaknya ke kepercayaan berlawanan. Yang membedakan bukan kegiatannya, melainkan apakah pasangan mendengarnya dari kamu atau harus menemukannya sendiri. Menyebut lebih dulu menghapus ruang bagi kecurigaan untuk tumbuh.

Cara membaca sinyal saat kepercayaan mulai retak

Kepercayaan jarang runtuh mendadak. Biasanya ada tanda-tanda halus yang mudah diabaikan kalau kamu tidak memperhatikan. Beberapa sinyal awal:

  • Kamu mulai menyaring apa yang diceritakan karena takut reaksinya berlebihan
  • Salah satu pihak mulai mengecek diam-diam atau menaruh curiga tanpa dasar jelas
  • Muncul pola menghindari topik tertentu karena selalu berakhir bertengkar
  • Rasa perlu “membuktikan diri” terus-menerus, seolah selalu dalam posisi terdakwa

Kalau kamu menyadari salah satu pola ini, jangan tunggu sampai membesar. Bicarakan selagi masih kecil. Sebutkan yang kamu rasakan tanpa menuduh: “Belakangan aku ngerasa kita jadi hati-hati banget satu sama lain. Kamu ngerasa gitu juga nggak?” Percakapan yang jujur dan tidak defensif sering kali cukup untuk memperbaiki retak sebelum menjadi jurang.

Perlu diwaspadai juga kebiasaan “menguji” pasangan diam-diam, misalnya sengaja tidak membalas untuk melihat reaksinya, atau melempar jebakan pertanyaan untuk mengecek apakah dia berbohong. Tes-tes tersembunyi seperti ini terasa seolah melindungi diri, padahal justru merusak fondasi dari dalam. Kalau dia lulus tes, kamu tetap tidak benar-benar tenang dan akan membuat tes berikutnya. Kalau dia gagal karena salah paham, kamu menghukumnya atas jebakan yang tidak dia tahu ada. Jauh lebih sehat mengganti tes tersembunyi dengan pertanyaan terbuka. Kepercayaan tumbuh dari kejelasan, bukan dari permainan yang cuma satu pihak tahu aturannya.

Kalau kamu yang sulit percaya karena luka masa lalu

Kadang masalahnya bukan pada pasangan sekarang, tapi pada apa yang kamu bawa dari hubungan sebelumnya. Kalau kamu pernah dibohongi atau dikhianati, wajar kalau kewaspadaanmu jadi lebih tinggi. Yang tidak adil adalah membuat pasangan sekarang membayar kesalahan orang lain.

Kuncinya adalah memisahkan dua orang yang berbeda. Pasangan sekarang belum berbuat salah, dan memperlakukannya seolah dia akan mengkhianati kamu justru bisa mendorongnya menjauh, lalu ketakutanmu seakan terbukti sendiri.

Cara yang lebih sehat: sampaikan ketakutan itu sebagai informasi, bukan tuduhan. “Aku pernah dibohongi di hubungan sebelumnya, jadi kadang aku cemas berlebihan soal hal-hal kecil. Itu bukan salahmu, tapi aku pengin kamu tahu.” Kejujuran semacam ini membantu pasangan memahami reaksimu tanpa merasa dihakimi, dan memberi kamu ruang untuk sembuh perlahan sambil memperhatikan bukti nyata bahwa dia bisa diandalkan.

Kalau luka lama terasa terlalu mengganggu keseharian dan hubungan, berbicara dengan konselor atau psikolog bisa sangat membantu memprosesnya.

Membangun kembali kepercayaan setelah salah satu pihak melanggar

Di hubungan baru, kesalahan pasti terjadi. Ada yang kecil, seperti lupa hari penting atau membatalkan rencana mendadak. Ada juga yang lebih berat, seperti kebohongan yang ketahuan. Yang menentukan bukan kesalahannya, tapi cara menanganinya.

Untuk pelanggaran kecil, perbaikan cepat justru memperkuat kepercayaan. Akui spesifik apa yang salah, akui dampaknya ke dia, lalu tunjukkan perubahan konkret. Jangan biarkan menumpuk, karena pelanggaran kecil yang dibiarkan berulang berubah jadi pola, dan pola jauh lebih sulit dipulihkan daripada satu insiden.

Untuk pelanggaran yang lebih serius, kepercayaan tidak bisa dipulihkan lewat satu permintaan maaf. Yang dibutuhkan adalah konsistensi jangka panjang: bertindak sesuai ucapan berulang kali sampai bukti baru menutupi bukti lama. Pihak yang dilanggar berhak butuh waktu, dan menuntut “kok kamu masih belum percaya aku?” hanya memperlambat pemulihan. Kalau kedua pihak menganggap hubungan layak diperjuangkan, kesabaran dan tindakan nyata yang berbicara, bukan janji.

Kepercayaan itu selalu dua arah

Satu hal terakhir yang mudah terlupa: kepercayaan bukan sesuatu yang kamu tuntut dari pasangan sambil lupa memberikannya balik. Kalau kamu ingin dipercaya, kamu juga perlu menunjukkan bahwa kamu mempercayai dia, dengan memberi ruang, tidak mengawasi berlebihan, dan tidak langsung berasumsi buruk saat ada ketidakpastian.

Memberi kepercayaan lebih dulu bukan berarti naif atau menutup mata terhadap tanda bahaya. Kamu tetap memperhatikan pola dan tetap boleh menyesuaikan sikap kalau bukti menunjukkan sesuatu yang keliru. Bedanya, kamu memulai dari asumsi baik dan membiarkan tindakan pasangan yang membuktikan sebaliknya, alih-alih memulai dari curiga dan menuntut dia membuktikan dirinya tak bersalah setiap hari. Sikap pertama mengundang keterbukaan; sikap kedua mengundang pertahanan diri dan jarak. Dalam banyak hal, kepercayaan bersifat menular: orang yang merasa dipercaya cenderung menjaga kepercayaan itu, sementara orang yang merasa terus dicurigai lama-lama lelah dan berhenti berusaha.

Hubungan yang sehat bukan yang tidak pernah punya kecemasan, melainkan yang punya cara menangani kecemasan itu tanpa berubah jadi curiga atau kontrol. Dibangun dari konsistensi kecil, dijaga dengan transparansi sukarela, dan diperbaiki dengan cepat saat ada yang retak, kepercayaan pada akhirnya menjadi salah satu hal paling menenangkan yang bisa dimiliki dua orang.

Kalau hubunganmu masih di fase paling awal, ada baiknya juga membaca cara mengelola ekspektasi dalam hubungan asmara yang baru jalan, karena ekspektasi yang selaras adalah fondasi yang membuat kepercayaan lebih mudah tumbuh. Dan kalau kamu mulai melihat tanda-tanda kontrol yang berlebihan, panduan cara handle pasangan yang posesif dengan kepala dingin bisa membantu kamu menyikapinya dengan tenang.

Langkah-langkahnya

  1. Bangun konsistensi lewat tindakan kecil di bulan-bulan pertama

    Kepercayaan tumbuh dari pola, bukan dari satu peristiwa besar. Di tiga bulan pertama, yang paling dibaca pasangan adalah apakah ucapan kamu cocok dengan tindakan: bilang akan telepon jam 8, teleponlah jam 8. Bilang akan datang, datanglah. Kesan pertama dibentuk oleh hal-hal kecil yang berulang, bukan oleh gestur romantis sekali-kali. Jangan berlomba menunjukkan komitmen dramatis di awal. Justru keandalan yang tenang dan bisa diprediksi yang membuat orang merasa aman. Setiap kali kamu menepati hal kecil, kamu menyetor ke rekening kepercayaan yang akan kamu perlukan saat konflik pertama datang.

  2. Sampaikan ekspektasi secara eksplisit, jangan berharap dia menebak

    Banyak retak kepercayaan berawal dari asumsi yang tidak pernah diucapkan. Kamu mengira 'pacaran berarti balas chat dalam sejam', dia mengira 'kalau sibuk ya nanti dibalas'. Keduanya benar menurut versi masing-masing, dan keduanya kecewa. Ucapkan ekspektasi kamu dengan kalimat langsung: 'Aku merasa lebih tenang kalau kamu kabari sebelum tidur.' Lalu tanyakan versinya. Menyepakati aturan main bersama jauh lebih sehat daripada diam lalu menghukum saat harapan yang tak pernah disebut tidak terpenuhi. Ekspektasi yang jelas membuat pasangan tahu bagaimana caranya bisa dipercaya, bukan menebak-nebak.

  3. Tepati janji kecil sebelum membuat janji besar

    Orang cenderung membesar-besarkan komitmen di fase awal: 'aku nggak akan pernah bikin kamu kecewa'. Janji sebesar itu mustahil ditepati dan malah jadi utang yang akan ditagih. Lebih kuat membangun kredibilitas dari janji kecil yang realistis dan konsisten ditepati: mengabari kalau telat, mengingat hal yang dia ceritakan, muncul saat bilang akan muncul. Kalau kamu ragu bisa menepati sesuatu, jangan janjikan. Lebih baik berkata 'aku coba, tapi belum tentu bisa' daripada berjanji lalu gagal. Kepercayaan lebih cepat rusak oleh janji besar yang meleset daripada oleh kejujuran soal keterbatasan.

  4. Praktikkan transparansi sukarela, bukan karena diminta

    Ada beda besar antara membuka informasi karena kamu memilih terbuka dan membukanya karena diinterogasi. Transparansi sukarela terlihat seperti: cerita duluan kalau ketemu teman lama, menyebut rencana akhir pekan tanpa ditanya, menjelaskan konteks sebelum jadi salah paham. Ini menurunkan kecemasan pasangan tanpa dia harus memata-matai. Sebaliknya, informasi yang selalu harus dikorek satu per satu memupuk curiga. Transparansi bukan berarti melapor tiap menit atau kehilangan privasi; ini soal tidak menyembunyikan hal yang wajar diketahui pasangan. Keterbukaan yang datang atas kemauan sendiri jauh lebih menenangkan daripada yang dipaksa keluar.

  5. Sepakati batas privasi berdua sejak awal

    Kepercayaan yang sehat justru berdiri di atas privasi yang dihormati, bukan yang dihapus. Bicarakan sejak awal: apa yang nyaman dibagi dan apa yang tetap jadi ruang pribadi masing-masing. Meminta password semua akun, melacak lokasi terus-menerus, atau mengecek HP diam-diam bukan tanda kedekatan, melainkan tanda kecemasan yang dialihkan jadi kontrol. Kesepakatan yang adil misalnya: kita saling terbuka soal hubungan ini, tapi chat dengan sahabat atau keluarga tetap ranah pribadi. Batas yang jelas dan disepakati bersama membuat kepercayaan tumbuh alami, bukan dipaksa lewat pengawasan yang malah melelahkan keduanya.

  6. Saat cemas, cek fakta dulu sebelum menuduh

    Rasa cemas akan muncul, terutama kalau kamu punya luka lama. Kuncinya adalah jeda sebelum bereaksi. Ketika dia telat membalas dan kepalamu langsung menyusun skenario terburuk, tahan dulu. Bedakan fakta ('chat belum dibalas tiga jam') dari tafsiran ('dia pasti bosan denganku'). Tanyakan dengan nada ingin tahu, bukan menghakimi: 'Tadi kamu ke mana? Aku sempat kepikiran.' Memberi ruang untuk penjelasan sebelum menuduh menjaga hubungan dari pertengkaran yang tidak perlu. Menuduh berdasarkan tafsiran, apalagi berulang, justru mengikis kepercayaan pasangan kepada kamu, bukan sebaliknya.

  7. Perbaiki pelanggaran kecil segera, jangan biarkan menumpuk

    Di hubungan baru, kesalahan kecil pasti terjadi: lupa hari penting, salah ucap, membatalkan rencana. Yang menentukan bukan kesalahannya, tapi seberapa cepat dan tulus diperbaiki. Akui spesifik apa yang salah, akui dampaknya, lalu tunjukkan perubahan konkret. Pelanggaran kecil yang dibiarkan menumpuk berubah jadi pola, dan pola yang berulang jauh lebih sulit dipulihkan daripada satu insiden. Ritual perbaikan yang cepat justru memperkuat kepercayaan, karena pasangan belajar bahwa saat ada masalah, kamu menghadapinya, bukan menghindar. Jangan tunggu masalah membesar; tangani selagi masih kecil dan mudah diperbaiki.

  8. Beri waktu; kepercayaan penuh butuh bulan, bukan minggu

    Tidak ada jalan pintas. Kepercayaan penuh terbentuk setelah cukup banyak situasi membuktikan bahwa pasangan bisa diandalkan, termasuk saat sulit. Jangan memaksakan tempo, baik ke diri sendiri maupun ke dia. Menuntut 'kenapa kamu belum sepenuhnya percaya aku?' setelah beberapa minggu justru kontraproduktif. Biarkan kepercayaan menguat berjenjang seiring konsistensi terbukti. Nikmati prosesnya alih-alih mengejar titik akhir. Kalau fondasinya benar, konsistensi, transparansi, dan perbaikan yang sehat, kepercayaan akan datang pada waktunya, dan begitu terbentuk ia menjadi salah satu hal paling menenangkan dalam sebuah hubungan.

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa lama biasanya kepercayaan penuh dengan pasangan baru terbentuk?

Tidak ada patokan pasti karena bergantung pada seberapa sering situasi menguji hubungan dan bagaimana keduanya menanganinya. Umumnya kepercayaan menguat berjenjang selama berbulan-bulan, bukan dalam hitungan minggu. Yang mempercepat adalah konsistensi antara ucapan dan tindakan, transparansi sukarela, dan cara sehat menangani konflik pertama. Yang memperlambat adalah janji yang meleset, informasi yang selalu harus dikorek, dan pola menghindar saat ada masalah. Fokuskan energi pada kualitas interaksi harian, bukan mengejar tenggat 'harus percaya penuh dalam sekian bulan'. Kepercayaan yang dipaksa cepat biasanya rapuh, sedangkan yang tumbuh alami cenderung bertahan.

Apakah wajar meminta cek HP pasangan untuk memastikan dia jujur?

Mengecek HP diam-diam atau menuntut akses ke semua chat umumnya merusak kepercayaan, bukan membangunnya. Logikanya terbalik: pengawasan mengirim pesan bahwa kamu berharap menemukan bukti buruk, dan itu menurunkan rasa aman keduanya. Kepercayaan justru dibangun dengan memberi ruang lalu memperhatikan pola perilaku dari waktu ke waktu. Kalau kamu merasa perlu mengecek terus-menerus, akar masalahnya biasanya kecemasan yang belum diobrolkan, bukan bukti yang harus dicari. Lebih sehat membicarakan kegelisahan itu secara terbuka dan menyepakati bentuk transparansi yang nyaman bagi keduanya, daripada mengubah hubungan menjadi pengawasan yang melelahkan dan bikin curiga makin dalam.

Saya susah percaya karena pernah dikhianati mantan. Bagaimana?

Luka dari hubungan sebelumnya nyata dan sah, tapi menghukum pasangan sekarang atas kesalahan orang lain tidak adil dan malah bisa mendorongnya menjauh. Pisahkan dua orang yang berbeda: pasangan sekarang belum berbuat salah. Sampaikan ketakutan kamu dengan jujur sebagai informasi, bukan tuduhan: 'Aku pernah dibohongi, jadi kadang aku cemas berlebihan. Itu soal masa laluku, bukan salahmu.' Kejujuran ini membantu dia memahami reaksi kamu tanpa merasa dihakimi. Bangun kepercayaan bertahap sambil memperhatikan bukti nyata bahwa dia bisa diandalkan. Kalau luka lama terasa terlalu mengganggu keseharian, berbicara dengan konselor atau psikolog bisa sangat membantu memprosesnya.

Pasangan minta password semua akun saya sebagai bukti sayang. Wajar?

Permintaan itu lebih dekat ke kontrol daripada kepercayaan. Hubungan yang sehat menghormati privasi masing-masing; keterbukaan soal hubungan tidak berarti menghapus seluruh ruang pribadi. Kepercayaan sejati justru berarti tidak butuh akses penuh untuk merasa aman. Kamu boleh menolak dengan tenang dan tetap menawarkan bentuk transparansi yang wajar, misalnya terbuka soal siapa yang kamu temui atau rencana akhir pekan. Kalau penolakan itu dibalas dengan marah, ancaman, atau tuduhan bahwa kamu pasti menyembunyikan sesuatu, itu tanda kontrol yang perlu diwaspadai. Kalau kontrol meningkat sampai membatasi atau menakut-nakuti, hubungi SAPA Kementerian PPPA di 129 atau WhatsApp 08111-129-129.

Bagaimana membangun kepercayaan dalam hubungan jarak jauh?

Jarak membuat kamu kehilangan sinyal harian yang biasa membangun rasa aman, jadi komunikasi harus lebih sengaja. Sepakati ritme komunikasi yang realistis bagi keduanya, misalnya kabar singkat pagi dan panggilan lebih panjang beberapa kali seminggu, lalu tepati ritme itu. Konsistensi jadi lebih penting daripada di hubungan yang sering bertemu. Transparansi sukarela juga membantu: cerita duluan soal kegiatan agar pasangan tidak mengisi kekosongan dengan tebakan cemas. Hindari godaan mengawasi lewat status online atau lokasi, karena itu memicu kecurigaan alih-alih ketenangan. Percayakan pada pola yang terbukti dari waktu ke waktu, dan bicarakan segera saat ada yang mengganjal sebelum berubah jadi asumsi.

Cemburu itu tanda sayang atau tanda tidak percaya?

Cemburu adalah emosi manusiawi yang sesekali muncul, tapi menjadikannya bukti cinta itu keliru. Yang menentukan sehat atau tidak adalah apa yang kamu lakukan dengan rasa itu. Cemburu yang sehat diakui dan dibicarakan: 'Aku tadi cemburu waktu lihat kamu akrab dengan dia, boleh cerita?' Cemburu yang tidak sehat berubah jadi kontrol: melarang pertemanan, menuntut laporan, atau mengecek diam-diam. Rasa cemburu yang terus-menerus biasanya menandakan kecemasan diri yang perlu dikelola, bukan bukti pasangan tidak setia. Kelola dengan mengecek fakta dulu, bicarakan terbuka, dan hindari menuntut pembatasan yang justru mengikis kepercayaan pasangan kepada kamu.