Panduan Kita

Cara memperbaiki hubungan dengan rekan kerja setelah konflik

Konflik kantor jarang selesai sendiri. Panduan memperbaiki hubungan dengan rekan kerja setelah bentrok: dari jeda, pembicaraan, sampai kerja sama pulih.

Oleh Nadia Syarif 9 menit baca
Cara memperbaiki hubungan dengan rekan kerja setelah konflik
Foto: libraryofcongress (CC0 1.0) via rawpixel

Rapat Selasa berakhir dengan kamu dan Rian saling diam. Dia bilang laporan kamu telat dan bikin timnya kacau, kamu bilang dia tidak pernah kirim data yang lengkap, dan sisa rapat dihabiskan enam orang lain yang tiba-tiba sangat sibuk menatap layar laptop masing-masing. Sekarang hari Kamis. Kalian masih satu tim, masih satu proyek, dan masih harus duduk berseberangan sampai proyek itu selesai.

Ini yang membuat konflik kantor berbeda dari konflik dengan teman atau pasangan: kamu tidak punya opsi menghilang. Dengan teman, kamu bisa mengambil jarak berbulan-bulan dan hidup tetap berjalan. Dengan rekan kerja, kamu akan bertemu dia besok pagi, lusa, dan minggu depan, dalam kondisi harus saling bergantung untuk menyelesaikan sesuatu yang dinilai orang lain.

Dan konflik kantor yang tidak diperbaiki jarang berhenti di dua orang. Dia menyebar jadi masalah alur kerja, informasi yang sengaja tidak dibagikan, rapat yang berjalan lebih lambat karena semua orang menghindari topik tertentu, dan akhirnya jadi cerita yang dibawa ke tim lain.

Konflik kantor punya aturan main sendiri

Tiga hal membuat perbaikan hubungan di kantor tidak bisa disamakan dengan perbaikan hubungan pribadi.

Ada penonton. Konflik pribadi terjadi di ruang tertutup. Konflik kantor hampir selalu punya saksi, dan saksi itu punya kepentingan sendiri. Sebagian akan mendorong kalian berbaikan, sebagian justru menikmati situasinya, sebagian lagi diam-diam menyesuaikan cara kerja mereka supaya tidak kena imbas. Semakin lama kamu menunda, semakin banyak orang yang sudah membangun kebiasaan baru di sekitar konflik kalian.

Ada struktur kekuasaan. Kamu dan rekan kerja jarang berada di posisi yang benar-benar setara. Ada perbedaan senioritas, kedekatan dengan atasan, penguasaan informasi, atau kontrol atas sumber daya. Ketimpangan ini menentukan siapa yang lebih aman untuk memulai pembicaraan, dan siapa yang lebih berisiko kalau salah bicara.

Targetnya bukan kedekatan. Ini yang paling sering disalahpahami. Kamu tidak perlu menyukai rekan kerja kamu. Yang perlu kamu pulihkan adalah kemampuan bertukar informasi dengan jujur dan tepat waktu. Kalau kamu menargetkan pertemanan, kamu akan merasa gagal padahal hasilnya sudah cukup. Kalau kamu menargetkan kerja sama yang berfungsi, targetnya realistis dan bisa dicapai dalam hitungan minggu.

Petakan dulu: ini konflik tugas atau konflik orang?

Sebelum mengajak bicara, luangkan sepuluh menit untuk memisahkan dua lapisan yang biasanya tercampur.

Konflik tugas adalah perbedaan pendapat tentang pekerjaan itu sendiri. Urutan prioritas, standar kualitas, cara membagi tanggung jawab, siapa yang memutuskan apa. Konflik jenis ini sebenarnya sehat kalau dikelola. Tim yang tidak pernah berdebat soal isi pekerjaan biasanya bukan tim yang harmonis, tapi tim yang sudah berhenti peduli.

Konflik personal adalah soal rasa: merasa diremehkan, dipermalukan, tidak dianggap, atau dikhianati. Ini yang membuat orang membalas dendam lewat cara-cara halus, seperti membalas email lambat atau tidak meneruskan informasi yang sebenarnya berguna.

Masalahnya, konflik tugas yang dibiarkan terlalu lama akan berubah jadi konflik personal. Perdebatan soal deadline yang berulang tiga kali tanpa penyelesaian akhirnya berhenti jadi soal deadline, dan mulai jadi soal “dia tidak menghargai kerja saya”.

Cara menguji lapisan mana yang dominan: bayangkan besok pagi masalah teknisnya selesai total. Deadline dimundurkan, datanya lengkap, semuanya beres. Apakah kamu masih kesal? Kalau ya, yang tersisa itu lapisan personal, dan itu yang harus dibereskan lebih dulu. Menawarkan solusi teknis untuk luka personal yang belum diakui hampir selalu ditolak, dan penolakan itu akan terasa tidak masuk akal buat kamu.

Lima hal yang memperpanjang konflik tanpa kamu sadari

Diam yang dibungkus sopan. Kamu tetap menjawab pertanyaannya, tetap mengirim file yang diminta, tapi semua serba minimum. Tidak ada basa-basi, tidak ada informasi tambahan. Ini terasa seperti sikap profesional buat kamu, tapi terbaca sebagai hukuman buat dia. Dan hukuman memancing hukuman balik.

Mencari sekutu. Menceritakan versi kamu ke rekan lain terasa melegakan dan biasanya mendapat dukungan. Tapi setiap orang yang kamu rekrut jadi pendengar mempersulit jalan pulang, karena sekarang berbaikan berarti mengakui di depan penonton bahwa cerita kamu tidak seutuh itu.

Menunggu dia yang memulai. Logikanya terasa adil: dia yang salah, dia yang harus mulai. Tapi dia sedang berpikir hal yang persis sama tentang kamu. Menunggu keadilan sempurna adalah cara paling umum membuat konflik dua hari jadi konflik dua tahun.

Memperbaiki lewat chat. Chat menghilangkan nada suara, memberi waktu tak terbatas untuk menyusun kalimat defensif, dan meninggalkan jejak yang bisa dibaca ulang saat sedang kesal. Hampir semua percakapan perbaikan yang gagal dimulai dari niat baik yang dikirim lewat teks.

Memaksakan keakraban terlalu cepat. Setelah bicara, ada dorongan untuk membuktikan semuanya sudah beres: mengajak makan siang, bercanda lebih banyak dari biasanya. Ini justru terasa memaksa dan membuat pihak lain curiga. Pemulihan yang sehat biasanya membosankan dan bertahap.

Percakapan perbaikan: struktur yang bisa kamu pakai

Percakapan yang efektif jarang lebih dari 20 menit, dan strukturnya cukup sederhana.

Buka dengan porsi kamu. Bukan dengan keluhan, bukan dengan penjelasan, dan bukan dengan “saya cuma mau meluruskan”. Mulai dari apa yang memang salah kamu: “Saya naik nada bicara di rapat Selasa, dan itu tidak pantas apa pun isi masalahnya.”

Minta versinya, lalu benar-benar dengarkan. “Dari sisi kamu, kejadiannya seperti apa?” Lalu diam. Jangan menyiapkan bantahan sambil dia bicara, karena itu terlihat jelas dari wajah kamu.

Konfirmasi apa yang kamu tangkap. “Jadi yang paling mengganggu kamu bukan laporannya telat, tapi kamu tahu telatnya dari klien, bukan dari saya.” Langkah ini sering menyingkap bahwa masalah sebenarnya berbeda dari yang kamu kira selama tiga hari terakhir.

Sampaikan sisi kamu tanpa menghapus pengakuan tadi. Di sinilah kata “tapi” jadi berbahaya. “Saya minta maaf soal nada bicara, tapi kamu juga…” akan menghapus seluruh kalimat sebelumnya. Pisahkan jadi dua kalimat dan beri jeda. Lebih baik: “Soal nada bicara, itu salah saya. Ada satu hal lain yang ingin saya sampaikan supaya kamu tahu konteksnya.”

Tutup dengan aturan main, bukan perasaan. “Oke, kita saling mengerti ya” akan gagal dalam dua minggu, karena tidak ada yang bisa diperiksa. Ganti dengan kesepakatan konkret soal siapa mengabari siapa, kapan, dan lewat kanal apa.

Kalau dia tidak mau ikut memperbaiki

Kadang kamu sudah melakukan semuanya dengan benar dan tetap ditolak. Dia menjawab pendek, mengaku tidak ada masalah padahal jelas ada, atau menerima permintaan maaf kamu tanpa memberi apa pun sebagai balasan.

Yang perlu kamu terima: perbaikan hubungan butuh dua orang, permintaan maaf hanya butuh satu. Kamu bisa menyelesaikan bagian kamu secara utuh dan tetap tidak mendapat hubungan yang pulih. Itu bukan kegagalan kamu.

Sebelum menyimpulkan dia menolak, periksa dulu tiga kemungkinan yang sering terlihat mirip penolakan. Pertama, dia butuh waktu lebih lama dari kamu. Orang memproses konflik dengan kecepatan berbeda, dan jawaban pendek di hari pertama belum tentu berarti pintu tertutup. Kedua, dia tidak percaya ini tulus. Kalau sebelumnya pernah ada percakapan serupa yang tidak diikuti perubahan, wajar dia menunggu bukti dulu sebelum membuka diri. Ketiga, dia sebenarnya tidak tahu harus merespons apa. Tidak semua orang punya kosakata untuk percakapan seperti ini, dan diam kadang cuma kebingungan yang terlihat seperti sikap dingin.

Yang bisa kamu lakukan setelahnya cukup terbatas, dan justru itu yang membuatnya mudah: tetap kooperatif, tetap kirim informasi yang dia butuhkan tepat waktu, tetap netral di depan tim, dan berhenti menagih. Konsistensi selama beberapa minggu kadang mencairkan orang yang menolak di minggu pertama, karena dia sedang menguji apakah sikap baik kamu bertahan saat tidak dibalas.

Kalau setelah itu hubungannya tetap dingin tapi pekerjaan berjalan, itu hasil yang layak. Kamu tidak sedang mencari teman, kamu sedang menjaga agar pekerjaan tidak jadi korban.

Kapan konflik berhenti jadi urusan berdua

Ada garis yang perlu kamu kenali. Satu kali bentrok emosional adalah urusan kalian berdua, dan membawanya ke atasan terlalu cepat sering memperkeras posisi semua pihak.

Yang pantas dieskalasi adalah pola, bukan kejadian tunggal: perilaku yang berulang meski sudah dibicarakan berdua, sesuatu yang mulai merugikan pekerjaan orang lain, atau informasi penting yang ditahan secara sengaja. Kalau kamu sampai di titik ini, bawa catatan faktual, bukan cerita perasaan: tanggal, apa yang terjadi, siapa yang hadir, dan apa dampaknya ke pekerjaan.

Dan ada kategori yang tidak boleh kamu coba selesaikan berdua sama sekali: pelecehan, intimidasi, dan diskriminasi. Untuk yang ini, jangan menunda dan jangan menganggapnya sebagai konflik biasa yang butuh saling minta maaf. Cek kanal pelaporan resmi yang berlaku di tempat kerja kamu, karena mekanisme dan jalur pelaporannya berbeda antar perusahaan. Kalau ada unsur kekerasan terhadap perempuan atau anak, layanan SAPA dari KemenPPPA bisa dihubungi di 129 atau WhatsApp 08111-129-129.

Yang menentukan bukan percakapannya, tapi enam minggu setelahnya

Ada kesalahpahaman umum bahwa konflik selesai saat percakapan perbaikan berakhir dengan baik. Percakapan itu hanya membuka pintu. Yang benar-benar menutup konflik adalah apa yang kamu lakukan di minggu-minggu berikutnya, terutama saat sedang sibuk dan tidak ada yang memperhatikan.

Rekan kerja yang pernah bentrok dengan kamu akan tetap waspada selama beberapa minggu, dan itu bukan tanda dia menyimpan dendam. Itu cara normal manusia mengumpulkan bukti. Setiap kali kamu menepati kesepakatan kecil, bukti itu bertambah. Setiap kali kamu melewatkannya tanpa penjelasan, hitungannya mundur jauh lebih cepat daripada majunya.

Kalau ada satu momen kamu tidak sempat menepati, sebutkan duluan sebelum dia menyadarinya. Mengakui slip kecil secara sukarela membangun kepercayaan lebih cepat daripada berharap tidak ketahuan.

Yang membedakan tim yang tahan lama bukan jumlah konflik yang terjadi, tapi kecepatan mereka pulih setelahnya. Konflik akan tetap muncul selama orang masih peduli pada hasil pekerjaan. Yang bisa kamu bangun adalah kebiasaan memperbaikinya lebih cepat setiap kali.

Kalau bagian yang paling kamu ragukan adalah cara membuka percakapannya, baca panduan kami tentang cara minta maaf yang tulus tanpa terkesan basa-basi, karena pembukaan yang salah akan mematikan sisa percakapan sebelum dimulai. Dan supaya bentrok berikutnya tidak sampai ke titik yang sama, cara menyatakan tidak setuju tanpa berdebat membantu kamu membawa perbedaan pendapat ke meja tanpa membuatnya jadi urusan personal.

Langkah-langkahnya

  1. Beri jeda 24-48 jam, tapi jangan biarkan lewat seminggu

    Bicara saat kalian berdua masih panas hampir selalu memperburuk keadaan. Beri jeda 24-48 jam supaya emosi turun dan kamu bisa memisahkan fakta dari tafsiran. Tapi jeda punya batas atas yang sering dilanggar: lewat seminggu, diam berhenti jadi pendinginan dan mulai jadi kebiasaan. Tim di sekitar kalian akan menyesuaikan diri dengan kondisi itu, mulai memilih menghubungi salah satu dari kalian saja, dan konflik dua orang berubah jadi masalah alur kerja. Kalau kamu merasa belum siap setelah dua hari, tetap mulai dari interaksi kecil yang normal. Kesiapan penuh jarang datang sendiri, biasanya datang setelah kontak pertama yang tidak meledak.

  2. Pisahkan konflik tugas dari konflik personal

    Sebelum bicara, tentukan sendiri: ini beda pendapat soal cara kerja, atau soal rasa tidak dihormati? Konflik tugas terdengar seperti 'menurut saya urutannya harus dibalik'. Konflik personal terdengar seperti 'dia memotong saya di depan klien'. Keduanya sering muncul bersamaan, tapi butuh penanganan berbeda. Konflik tugas bisa langsung dinegosiasikan dengan data dan kesepakatan proses. Konflik personal tidak bisa diselesaikan dengan solusi teknis, karena yang dibutuhkan lebih dulu adalah pengakuan bahwa sesuatu memang terjadi. Kesalahan paling umum: menawarkan solusi proses yang rapi untuk luka personal yang belum diakui. Rekan kamu akan menolak solusi itu, dan kamu akan bingung kenapa, padahal usulanmu masuk akal.

  3. Turunkan tensi lewat interaksi kecil sebelum mengajak bicara serius

    Jangan lompat dari saling diam langsung ke ajakan 'kita perlu bicara'. Kalimat itu terdengar seperti panggilan sidang dan langsung menaikkan pertahanan. Mulai dari kontak kecil yang normal dulu: menyapa saat berpapasan, menanyakan hal teknis yang memang perlu kamu tanyakan, mengirim informasi yang berguna untuk pekerjaannya. Tujuannya bukan pura-pura tidak terjadi apa-apa, tapi membuktikan bahwa kamu tidak sedang menghukum dia lewat sikap dingin. Dua atau tiga interaksi kecil yang berjalan biasa akan membuat ajakan bicara terasa jauh lebih aman. Kalau interaksi kecil pun ditolak dengan jelas, itu informasi penting: dia belum siap, dan mendorong lebih keras justru akan menambah kerusakan.

  4. Ajak bicara empat mata di tempat netral, bukan lewat chat

    Konflik kantor tidak selesai di kolom chat. Teks tidak membawa nada suara, mudah dibaca ulang dengan tafsiran terburuk, dan bisa di-screenshot lalu beredar. Ajak bicara langsung, empat mata, di tempat yang bukan meja kerja salah satu pihak. Ruang rapat kecil, kantin di jam sepi, atau jalan keluar sebentar untuk kopi sudah cukup. Ajakannya dibuat ringan dan spesifik: 'Ada waktu 15 menit habis makan siang? Saya mau bicara soal rapat Selasa.' Sebutkan topiknya supaya dia tidak menebak-nebak dan datang dengan pertahanan penuh. Kalau kalian bekerja jarak jauh, video call jauh lebih baik daripada chat, dan sebaiknya tanpa peserta lain.

  5. Buka dengan bagian yang jadi tanggung jawab kamu

    Ini langkah yang paling menentukan. Buka bukan dengan keluhan, tapi dengan bagian yang memang salah kamu, sekecil apa pun porsinya. 'Saya naik nada bicara di rapat Selasa dan itu tidak pantas, apa pun isi masalahnya.' Kalimat seperti ini melakukan satu hal yang tidak bisa dilakukan argumen sebagus apa pun: membuat dia turun dari posisi bertahan. Selama dua orang sama-sama bertahan, tidak ada informasi baru yang masuk. Syaratnya, akui hanya yang benar-benar kamu yakini salah. Mengaku salah untuk hal yang kamu tidak yakini akan terdengar palsu, dan biasanya ketahuan. Jujur untuk porsi kamu, tetap jujur juga untuk porsi yang menurutmu bukan salahmu.

  6. Dengarkan versi dia sampai selesai, tanpa menyiapkan bantahan

    Setelah membuka, tanyakan versinya: 'Dari sisi kamu, kejadiannya seperti apa?' Lalu diam dan dengarkan sampai habis. Godaan terbesarnya adalah menyusun bantahan sambil dia bicara, dan itu selalu terlihat dari wajah. Kalau ada yang tidak akurat menurut kamu, catat dalam hati, jangan potong. Setelah dia selesai, ulangi inti yang kamu tangkap dengan kalimatmu sendiri: 'Jadi yang paling mengganggu kamu bukan laporannya telat, tapi kamu tahu telatnya dari klien, bukan dari saya.' Konfirmasi seperti ini sering menyingkap bahwa masalah sebenarnya berbeda dari yang kamu kira. Banyak konflik kantor selesai di titik ini, karena ternyata yang dipersoalkan tidak pernah dibicarakan sebelumnya.

  7. Tutup dengan kesepakatan cara kerja yang konkret

    Jangan tutup dengan 'oke, kita saling mengerti ya'. Kesepakatan yang tidak bisa diperiksa akan gagal dalam dua minggu. Tutup dengan aturan main yang jelas dan bisa dicek: siapa mengabari siapa kalau ada keterlambatan, kapan batas waktunya, lewat kanal apa, dan apa yang dilakukan kalau salah satu lupa. Contoh: 'Kalau saya lihat deadline bakal meleset, saya kabari kamu paling lambat H-1, lewat chat langsung, bukan di grup.' Sebagai penutup, sepakati juga cara mengoreksi satu sama lain di masa depan tanpa mengulang bentrok yang sama. Kesepakatan kecil yang ditepati membangun kepercayaan jauh lebih cepat daripada janji besar yang terdengar meyakinkan.

  8. Jaga konsistensi empat sampai enam minggu setelahnya

    Percakapan hanya membuka pintu. Yang menutup konflik adalah perilaku kamu di minggu-minggu berikutnya, saat tidak ada yang sedang memperhatikan. Tepati kesepakatan kecil itu, termasuk saat sedang sibuk dan gampang dilupakan. Hindari dua jebakan umum: menceritakan versi kamu ke rekan lain setelah berbaikan, dan menagih kehangatan terlalu cepat. Rekan kerja yang pernah bentrok denganmu akan tetap waspada beberapa minggu, dan itu wajar. Sikap netral profesional yang konsisten lebih berharga daripada keakraban yang dipaksakan. Kalau ada satu momen kamu tidak sempat menepati kesepakatan, sebut duluan sebelum dia menyadarinya. Mengakui slip kecil lebih cepat memulihkan kepercayaan daripada berharap tidak ketahuan.

Pertanyaan yang sering ditanya

Haruskah saya minta maaf duluan padahal merasa tidak sepenuhnya salah?

Minta maaf duluan bukan pengakuan bahwa kamu yang salah, dan bukan penilaian siapa yang lebih benar. Itu keputusan siapa yang lebih dulu mau menghentikan kerugiannya. Kuncinya adalah spesifik: minta maaf hanya untuk perilaku yang memang kamu lakukan, misalnya nada bicara, waktu penyampaian, atau memilih forum yang salah. Jangan minta maaf untuk substansi yang masih kamu yakini benar, karena itu akan terasa palsu dan justru merusak kredibilitas kamu. Kalimat yang sehat memisahkan keduanya: akui cara penyampaian yang keliru, lalu sampaikan bahwa soal isi masalahnya kamu masih melihat berbeda dan ingin membicarakannya dengan tenang.

Bagaimana kalau yang berkonflik dengan saya adalah atasan langsung?

Prinsipnya sama, tapi bebannya tidak seimbang, jadi cara masuknya perlu disesuaikan. Jangan tunggu dia yang memulai, karena banyak atasan tidak menyadari ada konflik yang perlu diperbaiki. Ajak bicara dengan bingkai pekerjaan, bukan bingkai perasaan: minta waktu singkat untuk menyamakan ekspektasi setelah kejadian tersebut. Fokuskan pada apa yang kamu butuhkan supaya bisa bekerja lebih baik, bukan pada siapa yang salah di rapat itu. Hindari mengoreksi dia di depan orang lain saat hubungan masih dingin. Kalau polanya merugikan kamu secara serius dan berulang, dokumentasikan kejadiannya dengan tanggal, lalu pertimbangkan bicara dengan HR.

Konfliknya terjadi di grup WhatsApp kantor dan dilihat semua orang. Apa yang harus saya lakukan?

Berhenti membalas di grup, itu langkah pertama dan paling mendesak. Setiap balasan tambahan menaikkan biaya sosialnya untuk kalian berdua dan mempersulit jalan pulang. Pindahkan pembicaraan ke jalur pribadi, idealnya bicara langsung, bukan chat pribadi. Aturan umumnya, kesalahan di ruang publik butuh koreksi di ruang publik yang sebanding. Jadi setelah kalian selesai bicara berdua, cukup satu pesan pendek dan netral di grup itu untuk menutup: sampaikan bahwa masalahnya sudah dibicarakan dan kesepakatannya apa. Jangan mengulang argumen di sana, jangan menyindir, dan jangan menghapus pesan lama karena itu justru terlihat seperti menutupi sesuatu.

Bagaimana kalau dia menyebarkan versi ceritanya sendiri ke tim?

Godaan terbesarnya adalah menyebarkan versi tandingan, dan itu hampir selalu merugikan kamu. Rekan yang mendengar dua orang saling menceritakan versi masing-masing biasanya menyimpulkan keduanya bermasalah, bukan memilih satu pemenang. Yang lebih efektif adalah membiarkan perilaku kamu yang bicara: tetap profesional, tetap kooperatif dengan orang tersebut di depan tim, dan jangan membahas konflik itu dengan pihak yang tidak terlibat. Kalau ada rekan yang bertanya langsung, jawab pendek dan netral tanpa membela diri panjang lebar. Kalau ceritanya sudah menyentuh tuduhan serius yang menyangkut kompetensi atau integritas kamu, itu bukan lagi gosip biasa dan pantas dibawa ke atasan atau HR.

Kapan konflik dengan rekan kerja perlu dibawa ke HR?

Satu kali bentrok yang emosional biasanya bukan urusan HR, dan membawanya ke sana terlalu cepat justru bisa memperkeras posisi kedua pihak. Yang pantas dieskalasi adalah pola, bukan kejadian tunggal: perilaku yang berulang meski sudah dibicarakan, sesuatu yang mengganggu pekerjaan orang lain, atau hal yang menyentuh pelecehan, intimidasi, dan diskriminasi. Untuk kategori terakhir, jangan tunda dan jangan coba selesaikan berdua. Sebelum melapor, kumpulkan catatan faktual: tanggal, kejadian, siapa yang hadir, dan dampaknya ke pekerjaan. Cek juga kanal pelaporan resmi yang berlaku di kantor kamu, karena mekanismenya berbeda-beda antar perusahaan.

Sudah saya coba semua, tapi hubungannya tetap dingin. Apakah itu berarti gagal?

Tidak. Target yang realistis untuk hubungan kerja bukan pertemanan, tapi kerja sama yang berfungsi. Kalau kalian sudah bisa bertukar informasi tepat waktu, duduk di rapat yang sama tanpa tegang, dan menyelesaikan pekerjaan bersama, itu sudah hasil yang layak meski kehangatannya tidak kembali. Sebagian orang memang tidak akan pernah cocok, dan memaksakan kedekatan justru melelahkan keduanya. Yang perlu kamu jaga adalah netralitas profesional yang konsisten. Kalau situasinya berkepanjangan sampai membuat kamu tertekan berat atau sulit berfungsi sehari-hari, pertimbangkan bicara dengan tenaga profesional. Layanan konseling SEJIWA dari Kementerian Kesehatan bisa dihubungi di 119 ekstensi 8, gratis dan 24 jam.