Panduan Kita

Cara menghadapi orang yang manipulatif

Manipulasi bekerja lewat rasa bersalah, kebingungan, dan urgensi palsu. Panduan mengenali polanya, memasang batas, dan menjaga kewarasan kamu.

Oleh Nadia Syarif 9 menit baca
Cara menghadapi orang yang manipulatif
(CC0 1.0) via rawpixel

Kamu masuk ke sebuah percakapan dengan yakin bahwa kamu benar. Empat puluh menit kemudian kamu keluar sambil minta maaf, sudah setuju melakukan hal yang tadinya kamu tolak, dan kamu tidak bisa menunjuk kalimat mana persis yang membalik arahnya. Itu pengalaman yang paling sering diceritakan orang saat berhadapan dengan manipulasi: bukan rasa ditipu, tapi rasa bingung yang datangnya belakangan.

Manipulasi jarang terlihat seperti manipulasi saat sedang berlangsung. Ia tidak datang dengan wajah jahat. Ia datang sebagai kepedulian, sebagai kekecewaan, sebagai orang yang sedang terluka dan kebetulan kamu penyebabnya. Karena itu, panduan yang menyuruh kamu “tegas saja” biasanya gagal - masalahnya bukan keberanian, tapi kabut.

Kenapa manipulasi sulit dikenali saat sedang terjadi

Ada tiga alasan teknis, dan ketiganya bisa dilawan.

Pertama, kecepatan. Hampir semua tekanan manipulatif butuh keputusan sekarang. Ditunda satu malam, sebagian besarnya kehilangan daya. Ini sebabnya jeda adalah alat paling kuat yang kamu punya, jauh lebih kuat daripada balasan yang cerdas.

Kedua, pemindahan topik. Percakapan dimulai dari satu hal konkret - kamu tidak bisa datang Sabtu - lalu berpindah ke wilayah yang tidak bisa dimenangkan siapapun: siapa kamu sebenarnya, seberapa sayang kamu, apa yang kamu lakukan lima tahun lalu. Begitu topiknya jadi karakter kamu, tidak ada lagi kesimpulan yang bisa dicapai. Yang ada cuma kelelahan, dan kelelahan itu yang membuat kamu menyerah.

Ketiga, campuran benar dan salah. Manipulasi yang efektif selalu mengandung kebenaran. Kamu memang pernah membatalkan janji. Kamu memang pernah lupa. Potongan benar itu yang membuat seluruh bangunannya terasa benar, padahal kesimpulannya melompat jauh: dari “kamu pernah lupa” ke “kamu memang tidak pernah peduli”. Lompatan itu yang perlu kamu lihat, bukan potongan faktanya.

Ada satu tanda tubuh yang cukup bisa diandalkan. Kalau kamu berulang kali keluar dari percakapan dengan orang yang sama dalam keadaan lelah, bingung soal apa yang sebenarnya dibahas, dan merasa bersalah tanpa bisa menyebut untuk apa - itu bukan kebetulan. Kamu tidak perlu bisa membuktikan apapun untuk mulai memperhatikan pola itu.

Pola yang paling sering muncul

Kamu tidak perlu hafal istilah teknisnya. Yang perlu kamu kenali adalah bentuknya.

Rasa bersalah sebagai tagihan. “Setelah semua yang saya lakukan untuk kamu.” Bantuan di masa lalu diubah jadi utang yang tidak pernah lunas dan tidak pernah disepakati nilainya.

Menulis ulang kejadian. “Saya nggak pernah bilang begitu, kamu yang salah ingat.” Kalau ini terjadi sekali, mungkin memang salah ingat. Kalau berulang dan selalu menguntungkan satu pihak, itu bukan soal ingatan.

Korban yang bergilir. Setiap kali kamu menyampaikan keberatan, dia yang berakhir sebagai pihak yang terluka, dan kamu berakhir menghibur dia soal keluhan kamu sendiri.

Hadiah dengan kait. Bantuan atau pemberian yang datang tanpa diminta, lalu muncul lagi berbulan-bulan kemudian sebagai alasan kenapa kamu tidak boleh menolak.

Ancaman halus. Bukan “saya akan menyakiti kamu”, tapi “ya sudah kalau begitu, mungkin memang lebih baik saya menghilang saja”. Kalimat yang membuat kamu bertanggung jawab atas emosi orang dewasa lain.

Segitiga. Orang ketiga dibawa masuk sebagai bukti: “semua orang juga merasa kamu berubah”. Bukti yang tidak bisa dicek, dari orang yang tidak pernah bicara langsung ke kamu.

Pujian yang mengurung. “Untung ada kamu, cuma kamu yang ngerti saya.” Terdengar hangat, tapi pelan-pelan jadi jabatan yang tidak boleh kamu tinggalkan. Menolak permintaan berikutnya otomatis berarti mengkhianati posisi yang tidak pernah kamu lamar.

Bergeser terus. Kamu penuhi satu syarat, syaratnya berpindah. Datang Sabtu, lalu kenapa cuma sebentar. Tinggal lebih lama, lalu kenapa kelihatan tidak ikhlas. Garis akhirnya selalu bergerak sedikit lebih jauh dari posisi kamu sekarang, karena memang tidak ada garis akhir.

Satu catatan penting: menemukan satu pola di daftar ini belum berarti apa-apa. Semua orang pernah memakai sebagian dari ini saat sedang terdesak, termasuk kamu dan saya. Yang berarti adalah frekuensi dan arahnya.

Bedakan manipulasi dari orang yang sedang kesulitan

Ini bagian yang sering dilewati, dan akibatnya mahal. Orang yang sedang panik, cemas berat, atau sedang hancur juga bisa mendesak, membesar-besarkan, dan memakai rasa bersalah. Bedanya ada pada tiga hal.

Arah. Manipulasi berjalan satu arah dan hasilnya selalu menguntungkan pihak yang sama. Orang yang sedang kesulitan juga memberi, hanya sedang tidak sanggup.

Respon terhadap umpan balik. Kalau kamu bilang “cara kamu tadi bikin saya tertekan”, orang yang sedang kesulitan biasanya kaget dan menyesuaikan. Kalau responnya justru memutar balik jadi kesalahan kamu, itu informasi.

Pemulihan. Kesulitan punya awal dan akhir. Pola punya usia bertahun-tahun.

Perhatikan juga kebiasaan menempel label diagnosis dari internet. Sebutan seperti narsisistik atau sosiopat adalah istilah klinis, dan menempelkannya ke pasangan atau orang tua lewat kuis daring lebih sering menutup pemahaman daripada membukanya. Kamu tidak perlu tahu nama gangguannya untuk tahu bahwa sebuah pola merugikan kamu.

Prinsip utama: jangan menang, kurangi bahan bakar

Naluri pertama kebanyakan orang adalah membuktikan. Mengumpulkan tangkapan layar, menyusun kronologi, menyiapkan argumen yang begitu rapi sampai dia tidak punya pilihan selain mengakui.

Ini hampir tidak pernah berhasil, dan alasannya bukan karena bukti kamu kurang kuat. Perdebatan adalah lapangan tempat manipulasi paling nyaman. Setiap argumen baru dari kamu adalah bahan baru untuk diputar. Setiap bukti bisa dijawab dengan konteks, dengan “kamu sengaja mengumpulkan bukti untuk menyerang saya”, atau dengan menggeser topik lagi ke karakter kamu.

Pendekatan yang lebih efektif membosankan, dan justru itu kekuatannya. Kurangi apa yang bisa dipakai. Jangan setor informasi pribadi baru. Pindahkan hal penting ke tulisan. Perpendek jawaban. Pasang batas yang cuma butuh kamu untuk dijalankan. Ulangi batas itu dengan kalimat yang sama.

Tujuannya bukan membuat dia mengakui apapun. Tujuannya membuat tekanan berhenti menghasilkan sesuatu. Sebagian besar pola berhenti bukan karena pelakunya sadar, tapi karena polanya berhenti bekerja.

Pergeseran ini juga melepas kamu dari beban yang tidak masuk akal. Kalau syarat kamu boleh menjaga diri adalah pengakuan dari orang yang diuntungkan oleh keadaan sekarang, kamu menyerahkan kunci hidup kamu ke pihak yang paling tidak punya alasan untuk membukanya. Kamu boleh memasang batas tanpa persetujuan siapapun, dan tanpa perlu menang lebih dulu.

Kalimat yang bisa dipakai saat tekanan datang

Kalimat pendek lebih baik daripada kalimat yang benar. Latih beberapa sampai keluar otomatis.

  • “Saya perlu waktu memikirkan ini. Saya kabari besok.”
  • “Saya lihat kejadiannya berbeda dari kamu. Sepertinya kita nggak akan sepakat soal itu.”
  • “Saya paham kamu kecewa. Jawaban saya tetap tidak bisa.”
  • “Kalau nadanya seperti ini, saya berhenti dulu. Kita lanjut nanti.”
  • “Kalau memang ada yang keberatan, saya lebih nyaman dengar langsung dari orangnya.”
  • “Kita bahas soal Sabtu. Yang lain nanti saja.”

Perhatikan yang tidak ada di daftar itu: tidak ada pembelaan, tidak ada penjelasan panjang, tidak ada serangan balik. Penjelasan adalah undangan untuk berdebat. Kamu boleh menolak tanpa membuktikan bahwa penolakan kamu layak.

Nada juga penting. Kalimat-kalimat ini bekerja kalau diucapkan datar dan tenang, bukan sinis atau menantang. Begitu ada nada kemenangan di suara kamu, percakapannya kembali jadi pertandingan, dan kamu masuk lagi ke lapangan yang tadi susah payah kamu tinggalkan. Sasarannya bukan membuat dia kalah. Sasarannya membuat percakapan itu selesai.

Kalau kamu sulit mengucapkannya secara langsung, tulis dulu. Chat memberi kamu jeda yang tidak dimiliki percakapan tatap muka, dan menahan kamu dari terseret memberi penjelasan yang tidak perlu. Untuk hal yang penting - uang, jadwal, kesepakatan - tulisan juga menyisakan jejak yang tidak bisa dibengkokkan minggu depan.

Ketika tekanan sudah berubah jadi kekerasan

Ada garis yang harus dinamai terang-terangan. Kalau tekanan sudah disertai ancaman terhadap kamu atau dirinya sendiri, isolasi dari keluarga dan teman, kontrol atas uang dan dokumen kamu, pengawasan ponsel dan lokasi, atau kekerasan fisik maupun seksual - maka ini bukan lagi soal keterampilan komunikasi.

Di situasi seperti itu, memasang batas justru bisa menaikkan risiko, dan yang kamu butuhkan bukan kalimat yang lebih baik tapi rencana keamanan dan pendampingan. Untuk kasus kekerasan, layanan SAPA milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bisa dihubungi di 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Kalau ada bahaya langsung, hubungi polisi.

Kalau tekanannya membuat kamu merasa putus asa atau muncul pikiran menyakiti diri sendiri, SEJIWA dari Kementerian Kesehatan tersedia di 119 ekstensi 8, gratis dan buka 24 jam.

Setelah kamu memasang batas

Bersiaplah untuk satu hal: keadaan sering memburuk dulu sebelum membaik. Ketika cara lama berhenti bekerja, cara itu biasanya dicoba lebih keras dulu. Rasa bersalahnya jadi lebih tajam, dramanya lebih besar, permintaan maafnya lebih emosional. Ini bukan tanda kamu salah langkah. Ini justru tanda batasnya terasa.

Yang menentukan bukan seberapa tegas kamu di percakapan pertama, tapi apakah kamu masih menjalankan batas yang sama di minggu keenam. Konsistensi yang membosankan mengalahkan konfrontasi yang dramatis.

Bersiap juga untuk rasa bersalah yang datang dari dalam, bukan dari dia. Setelah bertahun-tahun terbiasa mengalah, menjaga diri akan terasa seperti berbuat jahat. Rasa itu bukan bukti bahwa kamu salah; itu cuma kebiasaan lama yang sedang protes. Biasanya ia mereda setelah beberapa minggu batas dijalankan konsisten.

Dan siapkan diri untuk kemungkinan bahwa tidak semua orang di sekitar akan mendukung. Sebagian akan bilang kamu berubah, atau menyuruh kamu mengalah demi kedamaian. Sebagian dari mereka jujur tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Kamu tidak berutang penjelasan lengkap ke semua orang.

Dan satu hal yang sering terlupa: rawat penilaian kamu sendiri. Tidur, satu teman yang tahu ceritanya, catatan yang jujur, dan kalau perlu bantuan profesional. Kejernihan adalah hal pertama yang hilang dalam hubungan seperti ini, dan hal pertama yang harus kamu ambil kembali.

Kalau polanya muncul di hubungan asmara dan bentuknya lebih ke kontrol dan kecemburuan, baca juga panduan kami tentang cara menghadapi pasangan yang posesif. Dan kalau setelah semua usaha kamu menyimpulkan bahwa ongkos hubungan ini lebih besar daripada manfaatnya, cara mengakhiri pertemanan toxic dengan damai membahas cara keluar tanpa perang terbuka.

Langkah-langkahnya

  1. Tunda respon dan pisahkan urgensi asli dari urgensi buatan

    Manipulasi hampir selalu butuh kecepatan. Kalau kamu diberi waktu berpikir, sebagian besar tekanannya kehilangan daya. Jadi langkah pertama bukan menjawab lebih pintar, tapi menunda: 'Saya perlu waktu memikirkan ini, saya kabari besok.' Lalu cek jujur, apa yang benar-benar rusak kalau ditunda 24 jam? Kalau jawabannya cuma 'dia akan kesal', itu urgensi buatan. Urgensi asli punya konsekuensi nyata dan bisa dijelaskan: kontrak yang tutup jam lima, tiket yang hangus, anak yang perlu dijemput. Urgensi buatan cuma punya konsekuensi emosional. Membiasakan jeda ini satu kebiasaan kecil yang mengubah banyak hal.

  2. Tulis ulang kejadian dalam kalimat fakta, bukan kalimat rasa

    Setelah tenang, tulis apa yang terjadi seolah kamu melaporkannya ke orang yang tidak kenal siapapun di situasi ini. Bukan 'dia bikin saya merasa bersalah', tapi 'saya bilang tidak bisa datang; dia bilang saya tidak pernah ada untuk keluarga; saya akhirnya datang'. Fakta punya urutan dan bisa dicek. Rasa tidak. Manipulasi bertahan hidup di dalam kabut, dan kabut itu bubar begitu kejadiannya jadi kalimat pendek. Kalau kamu punya riwayat chat, salin kalimat aslinya. Banyak orang kaget melihat betapa jauh ingatannya bergeser dari teks yang benar-benar dikirim.

  3. Kenali polanya sebelum menamai orangnya

    Semua orang pernah merajuk, membesar-besarkan, atau memakai rasa bersalah saat sedang terdesak. Itu belum berarti manipulatif. Yang membedakan adalah pola: berulang, satu arah, dan selalu menguntungkan pihak yang sama. Cek tiga hal di catatan kamu. Berapa kali kejadian serupa dalam tiga bulan terakhir? Apakah kamu pernah menang tanpa harus membayar dengan rasa bersalah? Apakah dia pernah mengubah sikapnya setelah kamu jelaskan dampaknya? Fokus ke pola, bukan ke label. Sebutan seperti narsisistik adalah diagnosis klinis milik profesional, dan menempelkannya lewat internet lebih sering mengaburkan daripada menolong.

  4. Kurangi permukaan yang bisa dipakai

    Manipulasi butuh bahan. Bahannya adalah informasi tentang kamu: apa yang kamu takutkan, siapa yang kamu butuhkan, masalah keuangan kamu, konflik kamu dengan orang lain. Kalau polanya sudah jelas, berhenti menyetor bahan baru. Jawab pertanyaan pribadi dengan jawaban singkat dan netral, bukan bohong: 'Lagi biasa aja', 'Belum kepikiran', 'Nanti saya kabari kalau ada'. Ini bukan sikap dingin, ini menyesuaikan kedalaman dengan kepercayaan. Untuk urusan yang penting - uang, jadwal, kesepakatan kerja - pindahkan ke tulisan. Chat dan email membuat versi cerita jadi sulit dibengkokkan belakangan.

  5. Pasang batas dalam bentuk tindakan kamu, bukan permintaan

    Batas yang berbunyi 'tolong jangan bentak saya' butuh persetujuan orang lain untuk berlaku, dan orang yang manipulatif tidak akan memberikannya. Batas yang berbunyi 'kalau nada bicaranya naik, saya akan keluar dari ruangan dan kita lanjut besok' cuma butuh kamu. Bedanya besar. Rumusnya: sebut perilakunya, sebut apa yang akan kamu lakukan, dan pastikan kamu benar-benar sanggup melakukannya. Jangan mengancam sesuatu yang tidak akan kamu jalankan - satu ancaman kosong menghapus kredibilitas sepuluh batas berikutnya. Mulai dari batas kecil yang pasti bisa kamu tepati, lalu naikkan pelan-pelan.

  6. Ulangi batas dengan kalimat yang sama, jangan perluas argumen

    Setelah batas disampaikan, akan datang gelombang balasan: rasa bersalah, tuduhan, atau tawaran kompromi yang terdengar masuk akal. Godaan terbesarnya adalah menjelaskan lagi, lebih panjang, supaya dia paham. Jangan. Setiap penjelasan baru membuka pintu debat baru. Pakai kalimat yang sama, tenang, tanpa nada menantang: 'Saya paham kamu kecewa. Jawaban saya tetap tidak bisa.' Ulangi kalau perlu tiga kali. Kamu bukan sedang memenangkan argumen, kamu sedang menunjukkan bahwa tekanan tidak lagi menghasilkan apa-apa. Sebagian besar tekanan berhenti bukan karena kamu meyakinkan, tapi karena tekanan itu berhenti berguna.

  7. Cek realitas dengan satu orang di luar situasi

    Salah satu efek paling melelahkan dari manipulasi jangka panjang adalah kamu berhenti percaya penilaian sendiri. Obatnya bukan berpikir lebih keras sendirian, tapi menambah sudut pandang. Ceritakan versi fakta kamu ke satu orang yang tidak punya kepentingan di situasi itu - teman lama, saudara yang netral, atau konselor. Minta dia menanggapi kejadiannya, bukan orangnya. Kalau tanggapan orang luar konsisten berbeda jauh dari yang kamu rasakan di dalam, itu sinyal berguna. Kalau kamu diminta berhenti bercerita ke siapapun, atau hubungan kamu dengan orang lain pelan-pelan dijauhkan, isolasi itu sendiri sudah bagian dari masalahnya.

  8. Putuskan: perbaiki, kurangi kontak, atau keluar

    Setelah beberapa minggu memasang batas, kamu punya data. Tiga kemungkinan hasilnya. Pertama, dia menyesuaikan diri dan hubungan membaik - berarti masalahnya kebiasaan, bukan niat. Kedua, dia tidak berubah tapi kontak sulit diputus karena keluarga atau pekerjaan - kurangi kontak ke seperlunya, jaga semua kesepakatan tetap tertulis. Ketiga, ongkosnya lebih besar dari manfaatnya dan kamu bebas pergi - maka pergi adalah pilihan yang sah, bukan kegagalan. Ketiganya keputusan yang bisa direvisi. Yang tidak sehat adalah menunda keputusan bertahun-tahun sambil berharap orangnya berubah tanpa alasan apapun untuk berubah.

Pertanyaan yang sering ditanya

Apa bedanya orang manipulatif dengan orang yang cuma banyak maunya?

Orang yang banyak maunya menyampaikan keinginannya secara langsung: dia minta, kamu boleh menolak, dan dia menerima penolakan walau kecewa. Manipulasi bekerja tidak langsung. Permintaannya jarang diucapkan terang-terangan, tapi kamu tetap merasa wajib memenuhinya lewat rasa bersalah, merajuk, ancaman halus, atau versi cerita yang membuat kamu tampak jahat kalau menolak. Tes praktisnya sederhana: coba tolak sekali dengan sopan dan jelas. Orang yang banyak maunya akan kesal lalu lanjut. Orang yang manipulatif akan memindahkan pembicaraan ke karakter kamu - kamu egois, kamu berubah, kamu tidak sayang lagi. Perhatikan responnya terhadap kata tidak, bukan besarnya permintaan.

Bagaimana kalau orangnya atasan saya di kantor?

Batas di tempat kerja tetap mungkin, tapi bentuknya berubah: fokus ke prosedur, bukan ke hubungan pribadi. Minta semua permintaan penting lewat email atau chat kerja, dan kalau disampaikan lisan, kirim ringkasan tertulis sesudahnya: 'Menyusul obrolan tadi, saya catat targetnya X dengan tenggat Y. Koreksi kalau saya keliru.' Ini bukan sikap melawan, ini praktik kerja yang wajar, dan efeknya besar karena versi cerita jadi sulit diubah belakangan. Simpan jejaknya rapi di satu folder. Kalau polanya berlanjut dan mulai mengganggu pekerjaan atau kesehatan kamu, bawa catatan itu ke HR atau atasan berikutnya. Catatan tanggal dan kutipan jauh lebih kuat daripada cerita perasaan.

Perlukah saya mengonfrontasi dan menyebut perilakunya manipulatif?

Biasanya tidak menolong. Kata manipulatif hampir selalu diterima sebagai serangan karakter, dan responnya bisa ditebak: pembelaan, balik menuduh, atau drama yang membuat kamu menghabiskan energi membuktikan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan lewat debat. Lebih efektif menyebut perilaku spesifik dan konsekuensinya. Bukan 'kamu manipulatif', tapi 'kamu bilang akan berhenti bicara ke saya kalau saya tidak pinjamkan uang itu. Saya tetap tidak bisa.' Kalimat kedua tidak bisa dibantah karena isinya kejadian, bukan penilaian. Simpan label manipulatif untuk pemahaman kamu sendiri dan untuk percakapan dengan orang yang membantu kamu, bukan untuk dilemparkan ke orangnya.

Kenapa saya selalu merasa bersalah padahal saya yang dirugikan?

Karena rasa bersalah adalah alat yang paling murah dan paling ampuh. Kalau kamu tumbuh dengan pesan bahwa orang baik selalu mengalah, refleks itu bekerja lebih cepat daripada penilaian kamu. Yang membantu adalah memisahkan dua pertanyaan yang sering ditumpuk jadi satu: apakah saya merasa bersalah, dan apakah saya memang bersalah. Perasaan bukan bukti. Cek pakai catatan fakta kamu - apa yang benar-benar kamu lakukan, dan apakah tindakan itu melanggar kesepakatan nyata? Sering jawabannya tidak, dan rasa bersalahnya cuma gema. Kalau rasa itu tidak juga mereda dan mulai mengganggu tidur atau pekerjaan, bicara dengan psikolog adalah langkah yang wajar.

Kapan ini bukan lagi soal komunikasi, tapi soal keamanan?

Ketika tekanan berubah jadi kendali. Tandanya antara lain ancaman - terhadap kamu, dirinya sendiri, anak, hewan peliharaan, atau reputasi kamu; isolasi dari keluarga dan teman; kontrol atas uang, dokumen, atau kendaraan kamu; pengawasan lokasi dan isi ponsel; serta segala bentuk kekerasan fisik atau seksual. Kalau ada salah satu saja, teknik komunikasi bukan lagi jawaban dan memasang batas bisa justru menaikkan risiko. Hubungi SAPA milik KemenPPPA di 129 atau WhatsApp 08111-129-129 untuk pendampingan kasus kekerasan. Kalau kamu berada dalam bahaya langsung, hubungi polisi. Siapkan juga satu orang yang tahu keberadaan kamu dan satu tempat aman yang bisa dituju.

Apakah orang manipulatif bisa berubah?

Bisa, tapi syaratnya ketat dan jarang terpenuhi. Perubahan biasanya butuh tiga hal sekaligus: dia mengakui perilakunya tanpa disodorkan bukti berlapis, dia mau menjalani proses yang tidak nyaman seperti terapi, dan ada konsekuensi nyata kalau tidak berubah. Kalau tiga-tiganya ada, perubahan mungkin, walau tetap lambat dan bertahap. Yang perlu kamu hindari adalah menunggu perubahan sambil menghapus semua konsekuensinya - itu justru menghilangkan alasan untuk berubah. Ukur dengan tindakan sepanjang bulan, bukan dengan janji dan permintaan maaf yang emosional. Dan yang paling penting: kamu tidak wajib menunggu. Menjaga diri sendiri tidak perlu izin dari perbaikan orang lain.

Bagaimana kalau tekanannya membuat saya merasa putus asa?

Berada lama di bawah tekanan seperti ini melelahkan, dan wajar kalau kamu merasa habis. Kalau kamu mulai merasa putus asa, tidak berharga, atau muncul pikiran menyakiti diri sendiri, jangan menunggu sampai keadaannya lebih parah. SEJIWA dari Kementerian Kesehatan bisa dihubungi di 119 ekstensi 8, gratis dan buka 24 jam, dan kamu tidak perlu punya diagnosis apapun untuk menelepon. Puskesmas juga bisa merujuk ke layanan psikologi, dan sebagian layanan konseling ditanggung BPJS Kesehatan lewat rujukan berjenjang - cek ketentuan terbaru di faskes kamu. Sementara itu, beri tahu satu orang yang kamu percaya di mana kamu berada dan apa yang sedang terjadi.