Panduan Kita

Cara menghadapi rekan kerja yang malas

Rekan kerja yang malas menaikkan beban kamu diam-diam. Ini cara menghadapinya: diagnosis dulu, kumpulkan bukti, bicara empat mata, baru perbaiki sistem.

Oleh Nadia Syarif 9 menit baca
Cara menghadapi rekan kerja yang malas
Foto: National Archives and Records Administration (CC0 1.0) via rawpixel

Jam 16.40 hari Kamis, kamu masih menyusun bagian laporan yang bukan porsi kamu. Rekan satu tim yang seharusnya mengerjakannya sudah merapikan meja setengah jam lalu, dan besok pagi laporan itu masuk ke atasan dengan nama kalian berdua di halaman depan.

Situasi seperti ini jarang meledak jadi konflik terbuka. Yang terjadi justru lebih pelan: kamu ambil satu tugas ekstra, lalu dua, lalu itu jadi kebiasaan yang tidak pernah dibicarakan siapa pun. Enam bulan kemudian kamu kelelahan, rekan kamu tetap santai, dan atasan melihat tim yang aman-aman saja karena hasilnya toh selalu keluar tepat waktu.

Ada satu hal yang perlu kamu terima sejak awal: menghadapi rekan kerja yang malas bukan soal mengubah kepribadian orang lain. Kamu tidak punya wewenang itu, dan mencobanya hanya menghabiskan energi kamu. Yang benar-benar bisa kamu ubah cuma tiga: kejelasan pembagian tugas, bukti yang kamu pegang, dan batas seberapa jauh kamu mau menambal.

Panduan ini menyusun urutan yang masuk akal - dari mendiagnosis penyebabnya, percakapan empat mata, memperbaiki sistem kerja, sampai kapan sebaiknya melibatkan atasan tanpa kamu terlihat sedang mengadu.

Malas atau sebenarnya masalah lain

Sebelum melakukan apa pun, uji dulu kesimpulan kamu. Tiga kondisi berbeda ini menghasilkan gejala yang nyaris identik dari luar:

Tugasnya tidak pernah benar-benar jelas. Ini penyebab yang paling sering, dan paling sering salah dibaca sebagai malas. Banyak tim membagi kerja lewat asumsi: “ya kan biasanya dia yang pegang itu”. Selama tidak pernah ditulis dan disepakati eksplisit, selalu ada ruang untuk beda tafsir. Orang tidak mengerjakan sesuatu yang dia tidak merasa jadi tanggung jawabnya.

Standar “selesai” kalian berbeda. Buat kamu, laporan selesai artinya sudah dirapikan, diperiksa dua kali, dan siap kirim. Buat dia, selesai artinya datanya sudah ada. Dua-duanya merasa sudah mengerjakan bagian masing-masing, tapi salah satu terus-menerus menambal selisihnya - dan yang menambal biasanya orang dengan standar lebih tinggi.

Ada sesuatu yang sedang terjadi di luar kantor. Orang tua sakit, masalah keuangan, kesehatan mental yang sedang tidak baik. Orang yang dulu bisa diandalkan lalu berubah drastis biasanya bukan tiba-tiba berubah karakter.

Cara membedakannya cukup dengan tiga pertanyaan. Apakah tugas itu pernah ditulis dan disepakati, atau cuma diasumsikan? Apakah dia dulu memang begini, atau ini perubahan baru? Apakah dia lambat di semua hal, atau hanya di tugas yang tidak terlihat atasan?

Pertanyaan ketiga itu yang paling banyak menjawab. Orang yang kewalahan biasanya lambat merata. Orang yang memang menghindari kerja cenderung selektif: cepat dan responsif untuk hal yang terlihat, lambat untuk pekerjaan belakang layar yang tidak ada yang memuji.

Berhenti menambal diam-diam

Ini langkah yang paling tidak nyaman, dan paling menentukan.

Selama kamu terus menutup celah tanpa ada yang tahu, secara struktural tidak ada masalah apa pun di mata kantor. Laporan tetap masuk. Klien tetap senang. Atasan melihat tim yang berjalan lancar. Satu-satunya yang tahu ada yang salah adalah kamu, dan kamu menanggungnya sendirian sambil pelan-pelan kehabisan tenaga.

Berhenti menambal bukan berarti kamu menyabotase pekerjaan, membiarkan klien dirugikan, atau tiba-tiba jadi tidak kooperatif. Artinya lebih sederhana: kalau ada tugas yang jelas bukan porsi kamu, jangan otomatis mengerjakannya diam-diam pada jam 22.00. Tanyakan dulu statusnya ke orangnya secara langsung, dengan santai, sebelum tenggat lewat.

“Bagian analisis buat besok gimana? Aku mau mulai gabung ke deck malam ini soalnya.”

Kalimat itu bukan konfrontasi. Tapi efeknya besar: tugas itu jadi kembali punya pemilik. Tugas yang selalu selesai tanpa pernah sekali pun ditagih akan selamanya dianggap tugas kamu, dan setelah cukup lama, orang lain benar-benar lupa bahwa itu pernah bukan milik kamu.

Kumpulkan fakta, bukan kesan

Kesan tidak bisa ditindaklanjuti siapa pun. Fakta bisa.

“Dia orangnya males banget” adalah pernyataan yang mudah dipatahkan, gampang dianggap masalah personal, dan tidak menghasilkan apa-apa selain kamu terlihat sedang mengeluh. Bandingkan dengan: “Bagian analisis disepakati masuk Rabu. Saya terima Jumat sore, tiga kali berturut-turut dalam sebulan terakhir, dan setiap kali saya harus revisi di luar jam kerja.”

Yang kedua tidak bisa didebat, karena itu kejadian.

Buat catatan singkat di tempat pribadi kamu - bukan di dokumen bersama kantor. Isinya cukup: tanggal, tugas apa, apa yang disepakati, apa yang benar-benar terjadi, dan dampaknya. Tidak perlu panjang, satu baris per kejadian sudah cukup.

Catatan ini punya dua fungsi, dan yang pertama justru untuk kamu sendiri. Kadang setelah dicatat sebulan, ternyata polanya tidak separah yang terasa - yang terjadi cuma dua kejadian yang sangat membekas karena kebetulan di minggu yang berat. Lebih baik kamu tahu itu sekarang daripada setelah terlanjur menuduh orang.

Fungsi keduanya baru muncul nanti: kalau ternyata polanya memang nyata dan kamu perlu bicara ke atasan, kamu datang dengan kronologi, bukan dengan emosi.

Satu aturan saat menulis catatan ini: tulis seolah orang yang kamu bicarakan suatu hari akan membacanya. Ini menjaga kamu tetap faktual, dan menghindarkan kamu dari catatan yang isinya sinis dan justru merugikan kamu sendiri kalau sampai terbaca orang lain.

Bicara empat mata dulu

Ini langkah yang paling sering dilewati, padahal paling sering berhasil. Banyak orang loncat dari kesal diam-diam langsung ke lapor atasan, dan heran kenapa hubungan kerjanya jadi rusak permanen.

Pilih waktu yang netral. Bukan tepat setelah kamu lembur menambal kerjaannya, karena nada suara kamu akan membawa semua kekesalan yang menumpuk. Bukan juga di depan orang lain, karena orang yang merasa dipermalukan akan bertahan, bukan mendengarkan.

Kuncinya satu: bicarakan tugas, bukan sifat. Begitu kamu menyentuh karakter, percakapan berubah jadi pembelaan diri, dan tidak ada informasi baru yang keluar.

Bandingkan dua pembukaan ini:

  • “Kamu tuh nggak pernah niat kerja, semua akhirnya aku yang ngerjain.”
  • “Bagian analisis kemarin masuk dua hari setelah tenggat, dan aku jadi revisi semalaman. Ada yang bikin bagian itu susah dikejar?”

Yang pertama menutup percakapan sebelum dimulai. Yang kedua membuka informasi - dan seringkali informasinya mengejutkan. Bisa jadi dia tidak tahu tenggatnya, tidak tahu bagian itu miliknya, sedang menunggu data dari divisi lain, atau memang sedang ada sesuatu yang berat.

Lalu lakukan bagian yang paling sulit: diam dan dengarkan sampai selesai, meski kamu sudah punya asumsi sendiri sejak awal.

Terakhir, jangan biarkan percakapan berakhir menggantung. “Oke nanti aku usahain” sama saja dengan tidak ada percakapan. Sebelum bubar, sepakati yang konkret: bagian mana, siapa yang kerjakan, selesai tanggal berapa. Lalu kirim rangkuman singkat lewat chat kerja dengan nada biasa saja, seperti orang merangkum rapat - bukan seperti orang mengirim surat peringatan.

Perbaiki sistemnya, bukan orangnya

Percakapan bisa memperbaiki satu siklus. Sistem memperbaiki semuanya.

Tugas yang cuma hidup di kepala orang gampang hilang. Tugas yang tertulis, punya nama pemilik, dan punya tanggal, jauh lebih sulit diabaikan - bukan karena orangnya jadi rajin, tapi karena keterlambatannya jadi terlihat tanpa ada yang perlu menuduh.

Usulkan ini ke tim, bukan ke satu orang. Begitu kamu mengusulkan perbaikan proses ke seluruh tim, tidak ada yang merasa sedang disasar, dan kamu tidak terlihat sedang membangun kasus melawan siapa pun.

Prinsipnya cukup tiga:

  1. Satu tugas, satu pemilik. Tugas yang dimiliki dua orang pada praktiknya tidak dimiliki siapa-siapa. Selalu ada satu nama yang bertanggung jawab, meski dikerjakan berdua.
  2. Setiap tugas punya tanggal, dan tanggalnya terlihat. Bukan “minggu ini”, tapi “Kamis siang”. Zona abu-abu adalah tempat tugas menghilang.
  3. Ada titik cek di tengah, bukan cuma di akhir. Keterlambatan yang baru ketahuan di hari tenggat sudah tidak bisa diperbaiki. Yang ketahuan di tengah masih bisa.

Alatnya bebas dan tidak penting: Trello, Notion, spreadsheet bersama, atau papan tulis di ruang tim. Satu spreadsheet dengan empat kolom - tugas, pemilik, tanggal, status - sudah cukup untuk sebagian besar tim. Yang penting bukan aplikasinya, tapi kenyataan bahwa pembagian kerja jadi terlihat semua orang - termasuk atasan, tanpa kamu perlu melaporkan apa pun.

Efek sampingnya paling berharga: kamu berhenti jadi orang yang menagih. Menagih terus-menerus membuat kamu terlihat rewel dan merusak hubungan kerja, meski kamu yang benar. Papan kerja yang terbuka melakukan penagihan itu tanpa wajah.

Kapan melibatkan atasan

Kalau kamu sudah bicara langsung dua kali, kesepakatan sudah ditulis, sistem sudah diusulkan, dan polanya tetap sama - ini bukan lagi urusan antar rekan kerja. Ini urusan manajemen, dan terus diam justru membuat kamu ikut menanggung masalah orang lain.

Yang menentukan hasilnya adalah cara kamu membawanya.

Jangan buka dengan orangnya. “Saya mau lapor, si A malas” langsung menempatkan kamu sebagai pihak yang bermasalah secara personal, dan atasan yang baik pun akan otomatis defensif terhadap dinamika seperti itu.

Buka dengan dampak ke pekerjaan, lalu minta solusi:

“Pengiriman laporan mingguan telat tiga kali bulan ini karena bagian analisis masuk lewat tenggat. Saya sudah bicara langsung dua kali dan sudah sepakati tanggal, tapi polanya belum berubah. Saya butuh masukan soal pembagian tugasnya.”

Perhatikan tiga hal di kalimat itu: ada dampak konkret, ada bukti bahwa kamu sudah berusaha menyelesaikan sendiri dulu, dan yang kamu minta adalah perbaikan sistem - bukan hukuman untuk orangnya. Itu posisi orang yang sedang menyelesaikan masalah kerja, bukan orang yang sedang mengadu.

Bawa catatan kronologi kamu, tapi jangan sodorkan seperti berkas dakwaan. Cukup punya, dan gunakan kalau ditanya detailnya.

Kesalahan yang bikin situasi makin buruk

Empat hal ini sering jadi reaksi alami, dan empat-empatnya merugikan kamu:

Menyindir di grup atau di media sosial. Terasa lega selama lima menit, dan setelah itu semua orang tahu siapa yang dimaksud - termasuk orangnya. Yang tersisa cuma kesan bahwa kamu tidak berani bicara langsung.

Membalas dengan ikut mengurangi kualitas kerja. Logikanya terasa adil: kenapa saya harus capek kalau dia santai. Tapi rekan yang malas tidak kehilangan apa pun kalau kamu ikut malas. Yang kehilangan cuma rekam jejak kamu sendiri, dan itu yang dibawa ke pekerjaan berikutnya.

Menambal terus sambil diam sampai meledak. Pola paling umum: menahan berbulan-bulan, lalu meledak di satu rapat karena hal kecil. Setelah itu kamu yang dianggap tidak stabil, dan semua argumen kamu yang sebenarnya valid jadi hilang.

Menjadikannya misi personal. Memperbaiki etos kerja orang dewasa bukan tugas kamu, dan bukan wewenang kamu. Kamu bertanggung jawab atas pekerjaan kamu dan atas kejelasan pembagiannya - bukan atas karakter orang lain.

Kalau setelah semua langkah ini tidak ada yang berubah, itu informasi juga. Tim yang membiarkan ketimpangan beban berjalan bertahun-tahun sedang memberitahu kamu sesuatu tentang manajemennya, dan keputusan berikutnya adalah keputusan kamu.

Kalau bebannya sudah terlanjur menumpuk sampai jam kerja kamu tidak masuk akal lagi, mulai dari cara menghadapi beban kerja berlebihan untuk menata ulang prioritas sebelum kamu kehabisan tenaga. Dan kalau yang kamu hadapi ternyata bukan sekadar malas, tapi rekan yang aktif merugikan posisi kamu, kasusnya berbeda - baca cara menghadapi rekan kerja yang menjatuhkan.

Langkah-langkahnya

  1. Berhenti menambal dulu sebelum menyimpulkan apa pun

    Selama kamu terus mengambil alih tugas yang bukan porsimu, tidak ada satu pun orang di kantor yang tahu ada masalah. Hasil tetap keluar, atasan melihat tim yang sehat, dan rekan kamu tidak punya alasan berubah. Langkah pertama bukan konfrontasi, tapi berhenti menutup celah secara otomatis. Bukan berarti kamu menyabotase pekerjaan atau membiarkan klien dirugikan. Artinya: kalau ada tugas yang jelas bukan milikmu, jangan langsung kerjakan diam-diam pada jam 22.00. Tanyakan statusnya lebih dulu ke orangnya secara langsung. Tugas yang selalu selesai tanpa pernah ditagih akan selamanya dianggap tugas kamu.

  2. Cek apakah ini benar malas, atau sebenarnya masalah lain

    Tiga hal sering tampak identik dari luar: orang yang malas, orang yang tidak tahu persis apa yang jadi tanggung jawabnya, dan orang yang sedang kewalahan atau bermasalah di luar kantor. Ketiganya menghasilkan gejala yang sama - tugas telat, respons lambat, hasil seadanya. Tapi tiga-tiganya butuh penanganan berbeda, dan salah diagnosis membuat kamu menyerang orang yang sebenarnya butuh kejelasan. Cara ceknya sederhana: apakah tugas itu pernah ditulis dan disepakati secara eksplisit, atau hanya diasumsikan? Apakah dia dulu tidak begini? Apakah dia lambat di semua hal atau hanya di jenis tugas tertentu? Jawabannya menentukan langkah berikutnya.

  3. Catat fakta konkret, bukan kesan

    "Dia selalu malas" tidak bisa ditindaklanjuti siapa pun. "Laporan bagian dia disepakati masuk Rabu, saya terima Jumat sore, tiga kali berturut-turut dalam sebulan terakhir" bisa. Buat catatan singkat: tanggal, tugas apa, apa yang disepakati, apa yang terjadi, dan dampaknya ke pekerjaan kamu atau ke tim. Simpan di catatan pribadi kamu, bukan di dokumen bersama kantor. Catatan ini punya dua fungsi: pertama, menguji apakah pola yang kamu rasakan memang nyata atau hanya beberapa kejadian yang membekas. Kedua, kalau nanti perlu bicara ke atasan, kamu datang dengan data - bukan dengan emosi yang mudah dipatahkan.

  4. Bicara empat mata sebelum melibatkan siapa pun

    Percakapan langsung hampir selalu jadi langkah yang dilewati orang, padahal ini yang paling sering berhasil. Pilih waktu netral, bukan tepat setelah kamu lembur menambal kerjaannya. Gunakan bahasa tugas, bukan bahasa sifat: bicarakan tenggat dan deliverable, bukan karakter dan niat. Bandingkan "kamu nggak pernah niat kerja" dengan "bagian analisis kemarin masuk dua hari setelah deadline, dan saya jadi harus revisi semalaman. Ada yang bikin bagian itu susah dikejar?". Kalimat kedua membuka informasi; kalimat pertama menutup percakapan. Lalu diam dan dengarkan jawabannya sampai selesai, meski kamu sudah punya asumsi sendiri.

  5. Minta komitmen tanggal yang spesifik, lalu tulis ulang

    Percakapan yang berakhir dengan "oke nanti aku usahain" sama saja dengan tidak ada percakapan. Sebelum obrolan selesai, sepakati satu hal konkret: bagian mana, siapa yang kerjakan, selesai tanggal berapa, dikirim ke mana. Setelah itu kirim pesan singkat yang merangkum kesepakatan tadi - lewat chat kerja atau email, tone-nya biasa saja, bukan seperti surat peringatan. Contoh: "Sesuai obrolan tadi, bagian data kamu masuk Kamis siang ya, biar aku sempat gabung ke deck sebelum Jumat." Tulisan ini bukan jebakan. Fungsinya menghapus zona abu-abu, dan zona abu-abu adalah tempat tugas menghilang.

  6. Pindahkan pembagian kerja ke tempat yang terlihat

    Solusi paling awet bukan percakapan, tapi perubahan sistem. Tugas yang hanya hidup di kepala orang gampang dilupakan; tugas yang tertulis di papan kerja bersama dengan nama dan tanggal jauh lebih sulit diabaikan. Usulkan ke tim - bukan ke satu orang - supaya setiap pekerjaan punya pemilik tunggal dan tenggat yang terlihat. Alatnya bebas: Trello, Notion, spreadsheet bersama, bahkan papan tulis di ruang tim. Yang penting bukan aplikasinya, tapi prinsipnya: satu tugas, satu nama, satu tanggal. Cara ini menghilangkan kebutuhan kamu untuk menagih terus-menerus, karena keterlambatan jadi terlihat sendiri tanpa ada yang perlu menuduh.

  7. Libatkan atasan kalau dua siklus percakapan tidak mengubah apa pun

    Kalau sudah dua kali bicara langsung, kesepakatan sudah ditulis, dan polanya tetap sama, ini bukan lagi urusan antar rekan. Ini urusan manajemen, dan diam justru membuat kamu ikut menanggung masalah orang lain. Kuncinya cara membawanya. Jangan buka dengan "saya mau lapor si A malas". Buka dengan dampak dan solusi: "Pengiriman laporan mingguan telat tiga kali bulan ini karena bagian analisis masuk setelah tenggat. Saya sudah bicara langsung dua kali dan sudah sepakati tanggal, tapi polanya belum berubah. Saya butuh masukan soal pembagian tugasnya." Bawa catatan kamu, dan minta perbaikan sistem - bukan hukuman untuk orangnya.

  8. Tetapkan batas dan jaga kualitas kerja kamu sendiri

    Kalau setelah semua langkah tadi situasinya tetap sama, tugas kamu bukan lagi memperbaiki rekan kerja, tapi memastikan kamu tidak ikut tenggelam. Batas yang realistis: kerjakan porsi kamu dengan standar terbaik, bantu sesekali kalau memang darurat, tapi jangan jadikan menambal sebagai rutinitas permanen. Pastikan kontribusi kamu terlihat dalam catatan kerja, laporan, atau update rutin ke atasan - tanpa perlu menjelek-jelekkan siapa pun. Dan yang paling penting: jangan balas dengan ikut menurunkan kualitas kerja sendiri. Rekan yang malas tidak akan kehilangan apa pun kalau kamu ikut malas, tapi rekam jejak kamu iya.

Pertanyaan yang sering ditanya

Apa bedanya rekan kerja yang malas dan yang sedang kewalahan?

Dari luar gejalanya mirip: tugas telat, respons lambat, hasil seadanya. Pembedanya ada di pola. Orang yang kewalahan biasanya lambat di semua lini, sering minta maaf, dan kondisinya berubah dibanding sebelumnya. Orang yang memang menghindari kerja cenderung selektif: cepat untuk tugas yang terlihat atasan, lambat untuk tugas belakang layar. Cek juga apakah tugasnya pernah ditulis dan disepakati eksplisit, atau hanya diasumsikan. Banyak kasus yang dianggap malas ternyata cuma pembagian kerja yang tidak pernah jelas sejak awal. Diagnosis yang salah bikin kamu menyerang orang yang sebenarnya butuh kejelasan atau bantuan.

Kalau saya diamkan saja dan fokus kerja sendiri, salah tidak?

Tergantung apakah pekerjaan kamu terpengaruh. Kalau tugas kalian benar-benar terpisah dan kinerjanya tidak menambah beban kamu, memang bukan urusan kamu - itu tanggung jawab atasannya. Tapi kalau kamu rutin menambal, lembur menutup celah, atau ikut kena imbas saat hasil tim telat, mendiamkan justru merugikan. Diam membuat masalahnya tidak terlihat siapa pun: hasil tetap keluar, atasan melihat tim yang sehat, dan tidak ada alasan apa pun untuk berubah. Kamu tidak wajib jadi penyelamat, tapi kamu juga tidak wajib jadi penambal permanen tanpa ada yang tahu.

Bagaimana kalau rekan kerja itu justru dekat dengan atasan?

Justru ini alasan kamu harus pindah dari kesan ke data. Kalau kamu datang dengan "dia malas", kamu sedang mengadu opini melawan kedekatan personal, dan kamu akan kalah. Kalau kamu datang dengan kronologi konkret - tanggal, tugas yang disepakati, kapan diterima, dampaknya ke tenggat tim - kamu sedang membicarakan pekerjaan, bukan orang. Prioritaskan juga jalur sistem daripada jalur laporan: usulkan pembagian tugas yang tertulis dan terlihat semua orang. Cara ini bekerja tanpa perlu ada yang disalahkan, dan lebih sulit dipatahkan oleh faktor kedekatan personal.

Perlukah saya merekam atau menyimpan bukti percakapan?

Menyimpan jejak tertulis dari kesepakatan kerja itu wajar dan biasa: rangkuman hasil obrolan lewat chat kerja atau email, kartu tugas dengan nama dan tanggal, atau catatan pribadi berisi kronologi. Itu praktik kerja normal, bukan tindakan bermusuhan. Yang perlu hati-hati adalah merekam suara orang tanpa sepengetahuannya - selain berpotensi bermasalah secara hukum dan kebijakan internal, itu juga merusak kepercayaan kalau ketahuan. Aturan praktisnya: simpan hal yang memang sudah bersifat dokumen kerja, dan tulis semuanya dengan asumsi orang yang dibicarakan suatu hari akan membacanya.

Bagaimana kalau ini terjadi di tugas kelompok yang nilainya dibagi rata?

Kalau hasil dinilai kolektif, insentif untuk menumpang memang besar, jadi selesaikan di depan, bukan di belakang. Sejak awal proyek, bagi pekerjaan jadi bagian dengan pemilik tunggal dan tenggat masing-masing, lalu tulis di tempat yang bisa dilihat semua anggota. Sepakati juga titik cek di tengah, bukan hanya di akhir - keterlambatan yang ketahuan di hari terakhir tidak bisa diperbaiki lagi. Kalau tetap ada yang tidak mengerjakan, laporkan perkembangan proyek secara faktual ke atasan atau koordinator sejak titik cek pertama, bukan menunggu hasil akhir berantakan lalu saling menyalahkan.

Situasi ini bikin saya stres berat dan sulit tidur. Harus bagaimana?

Beban kerja yang timpang dalam waktu lama memang bisa berkembang jadi kelelahan menahun, bukan sekadar kesal biasa. Tanda yang perlu kamu perhatikan: sulit tidur berkelanjutan, cemas sebelum berangkat kerja, atau kehilangan minat pada hal yang biasanya kamu nikmati. Kalau sudah sampai tahap itu, penyelesaian teknis di kantor saja tidak cukup. Bicara ke orang yang kamu percaya, pertimbangkan konsultasi ke tenaga profesional, dan gunakan layanan kesehatan yang kamu punya. Untuk dukungan psikologis di Indonesia, ada layanan SEJIWA dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8, gratis dan tersedia 24 jam.

Apakah saya boleh menolak kalau diminta mengerjakan bagian dia lagi?

Boleh, asal caranya tentang kapasitas dan prioritas, bukan tentang orangnya. Menolak mentah dengan "itu bukan kerjaan saya" terdengar defensif dan mudah dipakai melawan kamu. Yang lebih efektif: tunjukkan konsekuensinya dan minta keputusan. Contoh: "Minggu ini saya pegang laporan A dan presentasi B. Kalau bagian C masuk ke saya juga, salah satunya mundur. Mana yang mau diprioritaskan?" Pertanyaan ini memindahkan keputusan ke atasan, memperlihatkan beban kamu secara faktual, dan menghindari kesan menghindar. Kamu tidak sedang menolak membantu - kamu sedang meminta prioritas yang jelas.