Panduan Kita

Cara mempersiapkan anak masuk sekolah

Persiapan anak masuk sekolah dimulai jauh sebelum hari pertama, dari kesiapan mandiri, sosial, dan emosi sampai cara tenang mengelola cemas berpisah.

Oleh Maya Anggraini 10 menit baca
Cara mempersiapkan anak masuk sekolah
Foto: thewhitehouse (CC0 1.0) via rawpixel

Hari pertama sekolah sering terasa lebih menegangkan buat orang tua daripada buat anaknya. Terbayang anak menangis di gerbang, tidak mau ditinggal, atau bingung sendirian di tengah wajah-wajah baru. Kabar baiknya, kesiapan sekolah bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba di pagi pertama, melainkan hasil dari persiapan kecil yang kamu bangun pelan-pelan berminggu-minggu sebelumnya.

Persiapan yang baik juga tidak berpusat pada kemampuan membaca atau berhitung, tapi pada hal-hal yang lebih mendasar: bisa mengurus diri sendiri, merasa aman berpisah sebentar, dan mau mencoba hal baru. Artikel ini membahas apa arti kesiapan sekolah yang sebenarnya dan langkah nyata menyiapkan anak dengan tenang, tanpa tekanan atau ancaman yang justru membuat sekolah terasa menakutkan sebelum dimulai.

Kesiapan sekolah bukan soal bisa membaca

Banyak orang tua mengukur kesiapan sekolah dari kemampuan anak mengenal huruf, angka, atau menulis namanya. Padahal di tahap awal, kesiapan yang paling menentukan justru terletak di tempat lain: kemampuan sosial dan emosi. Anak yang bisa mengikuti instruksi sederhana, mau bergiliran, berani meminta bantuan, dan cukup tenang saat berpisah dari orang tuanya biasanya beradaptasi jauh lebih mulus, meski belum lancar membaca.

Kemampuan akademik tumbuh di atas fondasi itu. Anak yang merasa aman dan bisa mengatur dirinya punya ruang di kepalanya untuk belajar. Sebaliknya, anak yang bisa membaca tapi mudah panik, sulit berpisah, atau belum bisa mengurus kebutuhan dasarnya sering lebih kesulitan menjalani hari sekolah, betapapun pintarnya dia mengeja.

Karena itu, geser fokus persiapanmu. Alih-alih menghabiskan waktu melatih baca-tulis-hitung, perbanyak melatih kemandirian, memberi kesempatan bermain bersama anak lain, dan membiasakan rutinitas harian. Membacakan cerita dan mengobrol sehari-hari jauh lebih memperkaya kesiapan belajar daripada latihan menulis yang membosankan. Kesiapan sekolah, pada intinya, adalah kesiapan menjalani hari dengan mandiri dan percaya diri, bukan sekadar bisa membaca lebih dulu daripada temannya.

Kalau kamu ingin menakar kesiapan anak, amati keseharian daripada mengujinya dengan pertanyaan. Perhatikan apakah dia bisa fokus pada satu kegiatan beberapa saat, mengikuti dua atau tiga instruksi berurutan, menyampaikan keinginannya dengan kata-kata, dan pulih dari kekecewaan tanpa terlalu lama meledak. Tanda-tanda ini lebih menggambarkan kesiapan daripada seberapa banyak huruf yang dia hafal. Kalau beberapa hal itu belum muncul, itu bukan alasan untuk cemas, melainkan petunjuk apa yang bisa kamu latih dengan santai dalam minggu-minggu ke depan. Perkembangan setiap anak berbeda, jadi jadikan pengamatan ini panduan, bukan ujian kelulusan.

Mulai jauh-jauh hari, bukan seminggu sebelum

Kesalahan yang sering terjadi adalah menyiapkan anak baru di hari-hari terakhir menjelang masuk. Padahal perubahan besar seperti bangun pagi teratur, berpisah dari orang tua, dan mengurus diri sendiri butuh waktu untuk terbiasa. Memulai beberapa minggu sebelumnya membuat semua perubahan terasa bertahap, bukan kejutan yang menumpuk di satu pagi.

Yang paling terasa biasanya adalah jadwal tidur. Anak yang terbiasa tidur dan bangun sesuka hati akan kaget saat tiba-tiba harus bangun pagi. Geser jam tidur sedikit demi sedikit sampai mendekati jadwal sekolah, supaya tubuhnya menyesuaikan tanpa drama. Latih juga urutan pagi hari, dari bangun sampai berpakaian, sampai terasa otomatis dan tidak lagi jadi rebutan setiap subuh.

Persiapan bertahap juga memberi kamu waktu mengenali apa yang masih perlu dilatih. Mungkin anak belum lancar memakai sepatu, atau masih ragu ke toilet sendiri. Kalau ketahuan dari jauh hari, ada cukup waktu berlatih tanpa tekanan. Kalau anak akan naik jemputan atau angkutan tertentu ke sekolah, kenalkan juga hal itu lebih dulu. Semakin dekat hari pertama, semakin sedikit hal baru yang harus dihadapi anak sekaligus, dan semakin tenang transisinya.

Keterampilan mandiri yang paling menolong

Di dalam kelas, satu guru mengurus banyak anak sekaligus. Anak yang bisa mengurus kebutuhan dasarnya sendiri tidak hanya meringankan guru, tapi juga merasa lebih percaya diri karena tidak selalu bergantung pada bantuan. Inilah keterampilan yang paling nyata manfaatnya di minggu-minggu awal.

Keterampilan yang perlu dilatih cukup sederhana: makan dan minum sendiri, membuka bekal, memakai dan melepas sepatu serta jaket, mencuci tangan, dan pergi ke toilet lalu membersihkan diri. Latih semua ini di rumah dengan santai, beri waktu ekstra, dan tahan keinginan untuk selalu membantu cepat supaya hasilnya rapi. Hasil yang masih berantakan adalah bagian wajar dari belajar, dan setiap kali dia berhasil sendiri, rasa percaya dirinya bertambah sedikit.

Ajari juga anak mengenali barang miliknya. Menuliskan namanya di botol, tas, dan sepatu membantu, begitu pula membiasakannya mengembalikan barang ke tempatnya. Kemandirian tidak datang sekaligus, jadi latih bertahap dan sesuaikan dengan usianya tanpa membandingkan dengan anak lain. Untuk panduan melatih kemandirian selangkah demi selangkah sesuai tahap perkembangan, lihat cara mengajarkan anak mandiri sesuai usia. Yang penting bukan kesempurnaan, tapi anak merasa mampu mencoba sendiri.

Menyiapkan kesiapan sosial dan emosi

Sekolah adalah tempat pertama banyak anak menghabiskan waktu lama bersama teman sebaya tanpa orang tuanya. Keterampilan sosial seperti bergiliran, berbagi, meminta izin, dan menyelesaikan perselisihan kecil menjadi sangat berguna. Kamu bisa melatihnya lewat bermain bersama, mengatur waktu main dengan anak lain, dan mencontohkan cara menyapa serta meminta tolong dalam keseharian.

Sisi emosi sama pentingnya. Anak akan menghadapi hal yang membuatnya kecewa, malu, atau frustrasi, dan dia perlu tahu itu wajar. Bantu dia mengenali dan menamai perasaannya, serta menemukan cara sederhana menenangkan diri. Anak yang lebih paham emosinya cenderung lebih tahan menghadapi hari yang tidak selalu berjalan mulus, dan tidak mudah menyerah saat menemui hal sulit.

Kamu bisa melatih ini lewat percakapan ringan sehari-hari. Saat menghadapi situasi kecil, sebut perasaan yang mungkin dia rasakan: β€œKelihatannya kamu kesal karena menaranya roboh, ya.” Menamai emosi membantu anak memahami apa yang terjadi di dalam dirinya dan menyadari bahwa perasaan itu boleh ada. Ceritakan juga bagaimana kamu sendiri menenangkan diri saat kesal, karena anak belajar banyak dari mencontoh. Latih hal sederhana seperti menarik napas panjang atau minum air saat marah. Keterampilan ini tidak hanya berguna di sekolah, tapi menemani anak jauh setelahnya, dan tumbuh perlahan lewat pengulangan, bukan sekali diajarkan.

Setiap anak berangkat dari titik yang berbeda. Anak yang pemalu atau butuh waktu lebih lama untuk hangat bukan anak bermasalah; dia hanya perlu didampingi masuk pelan-pelan tanpa dipaksa atau diberi label. Kenalkan situasi baru bertahap dan puji setiap usaha kecilnya mencoba. Kalau anakmu termasuk yang pemalu, cara menghadapi anak yang pemalu membahas pendekatan yang lebih lembut dan sabar. Yang dia butuhkan adalah dukungan, bukan dorongan yang terburu-buru.

Mengelola kecemasan berpisah pada anak dan dirimu

Kecemasan berpisah adalah bagian yang paling sering membuat hari pertama terasa berat, dan itu wajar dari sisi anak maupun orang tua. Anak yang jarang berpisah darimu perlu belajar pelan-pelan bahwa kamu pergi lalu selalu kembali. Latih perpisahan singkat jauh sebelum hari pertama, dengan menitipkannya sebentar ke orang yang dia percaya lalu menambah durasinya bertahap.

Saat berpisah, konsistensi lebih menolong daripada penjelasan panjang. Buat ritual perpisahan kecil yang sama setiap hari, pamit dengan jelas, dan hindari menyelinap pergi tanpa pamit karena itu justru membuat anak makin waspada. Perpisahan yang berlarut-larut biasanya memperpanjang tangis, bukan meredakannya. Percayakan pada guru untuk menenangkan anak, sebab sebagian besar anak reda tak lama setelah orang tua tak terlihat.

Jangan lupakan dirimu sendiri. Wajar kalau kamu ikut cemas atau sedih melepas anak, tapi anak membaca emosimu, jadi usahakan tampil tenang dan yakin di depannya. Simpan air matamu untuk nanti kalau perlu. Kalau rasa cemasmu terasa sangat berat dan mengganggu keseharian, kamu berhak mencari dukungan, entah dari pasangan, sesama orang tua, atau tenaga profesional. Merawat ketenanganmu sendiri adalah bagian dari membantu anak merasa aman.

Hari pertama dan minggu-minggu awal

Setelah semua persiapan, hari pertama tetap bisa berjalan tidak sesuai bayangan, dan itu bukan tanda kegagalan. Beri dirimu dan anak ruang untuk menyesuaikan diri. Datang tidak terburu-buru, sarapan lebih dulu, dan siapkan barang malam sebelumnya supaya pagi terasa tenang, bukan panik.

Di sekolah, sampaikan ritual perpisahanmu dengan hangat lalu pergi dengan yakin. Kalau anak menangis, tahan keinginan untuk kembali berkali-kali, karena itu justru memperpanjang kesedihannya. Percayakan pada guru dan tanyakan nanti bagaimana keadaannya. Banyak anak yang menangis di gerbang ternyata ceria hanya beberapa menit setelah orang tuanya pergi.

Minggu-minggu awal adalah masa penyesuaian. Anak mungkin lebih lelah, lebih rewel, atau butuh lebih banyak pelukan di rumah, dan itu wajar. Jaga rutinitas tidur, sediakan waktu tenang di sore hari, dan tanyakan harinya dengan pertanyaan terbuka tanpa mengorek berlebihan. Rayakan hal-hal kecil: dia menemukan teman, menyukai satu kegiatan, atau berani bertanya pada guru.

Bandingkan anakmu hanya dengan dirinya kemarin, bukan dengan teman sekelasnya. Ada anak yang langsung ceria di hari pertama, ada yang butuh berminggu-minggu untuk benar-benar nyaman, dan keduanya normal. Yang lebih penting daripada seberapa cepat dia menyesuaikan diri adalah apakah dia merasa didukung selama prosesnya.

Kapan perlu bicara dengan guru atau tenaga profesional

Sebagian besar kesulitan di awal sekolah membaik dengan sendirinya seiring anak terbiasa. Tapi ada tanda yang sebaiknya tidak kamu abaikan. Bicarakan dengan guru kalau anak tampak sangat tertekan berkepanjangan, menolak sekolah terus-menerus disertai keluhan fisik seperti sakit perut atau mual tiap pagi, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, atau mengalami kemunduran mencolok seperti kembali mengompol setelah lama kering.

Untuk kekhawatiran seputar tumbuh kembang, kemampuan bicara, pendengaran, atau penglihatan, konsultasikan ke dokter anak. Jangan mendiagnosis sendiri atau menebak dari internet, dan jangan memberi obat apa pun dengan dosis kira-kira tanpa anjuran tenaga kesehatan. Guru dan dokter bisa menilai lebih tepat dan mengarahkan ke psikolog anak bila diperlukan.

Ini juga berlaku untuk dirimu. Masa transisi anak bisa melelahkan secara emosi bagi orang tua. Kalau kamu merasa cemas berat, murung berlarut, kewalahan sampai sulit menjalani hari, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri, hubungi layanan kesehatan jiwa SEJIWA di 119 ekstensi 8. Meminta bantuan adalah tanda tanggung jawab, bukan kelemahan. Untuk artikel lain seputar mendampingi tumbuh kembang anak, jelajahi kategori Parenting & Anak.

Langkah-langkahnya

  1. Ceritakan sekolah dengan nada positif dan jujur

    Anak menyerap sikapmu terhadap sekolah. Kalau kamu sering mengancam 'nanti di sekolah nggak boleh begitu', sekolah jadi tempat menakutkan sebelum dia sempat mencobanya. Sebaliknya, ceritakan hal-hal menyenangkan dengan jujur: ada teman baru, banyak kegiatan, dan ibu atau bapak guru yang membantu. Jangan menjanjikan hal yang belum tentu benar, seperti 'kamu pasti langsung punya banyak teman', karena kalau tidak terjadi anak bisa kecewa. Akui juga bahwa wajar merasa sedikit gugup di awal. Bacakan buku cerita bertema sekolah atau main peran jadi murid dan guru, supaya gambaran sekolah terasa akrab, bukan asing. Semakin sering sekolah dibicarakan dengan tenang, semakin kecil rasa cemasnya nanti.

  2. Latih rutinitas tidur dan bangun beberapa minggu sebelumnya

    Perpindahan dari jadwal bebas ke bangun pagi yang teratur sering menjadi kejutan terbesar di minggu pertama. Mulai geser jam tidur dan bangun secara bertahap beberapa minggu sebelum hari pertama, bukan mendadak semalam sebelumnya. Majukan waktu tidur sedikit demi sedikit, misalnya lima belas menit setiap beberapa hari, sampai mendekati jadwal sekolah. Anak yang cukup tidur jauh lebih mudah diajak kerja sama dan tidak gampang rewel di pagi hari. Latih juga urutan pagi: bangun, ke toilet, cuci muka, sarapan, lalu berpakaian, supaya rutinitas terasa otomatis. Kebutuhan tidur tiap anak berbeda, jadi perhatikan apakah dia bangun segar atau masih mengantuk, lalu sesuaikan, bukan memaksakan satu patokan.

  3. Latih keterampilan mandiri harian di rumah

    Guru satu kelas mengurus banyak anak sekaligus, jadi anak yang bisa mengurus kebutuhan dasarnya sendiri akan lebih percaya diri. Latih hal-hal praktis di rumah tanpa terburu-buru: makan sendiri, minum dari botolnya, memakai dan melepas sepatu, membuka bekal, mencuci tangan, dan pergi ke toilet lalu membersihkan diri. Beri waktu ekstra supaya dia berlatih tanpa tekanan, dan tahan keinginan untuk selalu membantu cepat. Hasil yang belum rapi itu wajar dan bagian dari belajar. Ajari juga mengenali barang miliknya, misalnya dengan menuliskan nama di botol dan tas. Untuk melatih keterampilan ini bertahap sesuai usia, lihat [cara mengajarkan anak mandiri sesuai usia](/parenting/cara-mengajarkan-anak-mandiri).

  4. Kenalkan lingkungan dan suasana sekolah

    Sesuatu yang sudah pernah dilihat terasa jauh lebih aman daripada yang hanya dibayangkan. Kalau memungkinkan, ajak anak melewati atau mengunjungi sekolah sebelum hari pertama, tunjukkan gerbang, halaman, dan kalau boleh ruang kelasnya. Beberapa sekolah mengadakan hari perkenalan atau masa pengenalan; manfaatkan kesempatan itu. Kenalkan juga dengan nama gurunya kalau sudah tahu, supaya sosok itu tidak sepenuhnya asing. Di rumah, tunjukkan foto sekolah atau seragamnya dan bicarakan apa yang akan dia lakukan di sana. Kalau ada tetangga atau saudara yang bersekolah di tempat sama, mengobrol dengan mereka bisa membantu. Rasa akrab dengan tempat dan orang mengurangi banyak kecemasan di hari pertama.

  5. Latih berpisah dalam durasi pendek

    Kalau anak jarang berpisah darimu, hari pertama sekolah bisa terasa berat. Latih perpisahan singkat jauh sebelumnya: titipkan sebentar ke kakek-nenek atau kerabat yang dia percaya, lalu tingkatkan durasinya perlahan. Tujuannya bukan membiasakan dia ditinggal begitu saja, tapi mengajarkan pelajaran penting bahwa kamu pergi lalu selalu kembali. Selalu pamit dengan jelas, jangan menyelinap pergi tanpa pamit, karena itu justru membuat anak makin waspada dan takut ditinggal. Saat menjemput, sambut dengan hangat supaya dia mengaitkan perpisahan dengan pertemuan kembali yang menyenangkan. Latihan kecil dan berulang ini membangun kepercayaan bahwa berpisah sesaat itu aman dan tidak perlu ditakuti.

  6. Siapkan perlengkapan bersama anak

    Melibatkan anak memilih dan menyiapkan perlengkapan membuatnya merasa ikut memiliki hari pertamanya. Ajak dia memilih tas, botol minum, atau tempat bekal, dalam batas yang masuk akal. Tidak perlu serba mahal atau lengkap; yang penting nyaman dan mudah dia gunakan sendiri. Kenalkan cara membuka tas dan tempat bekalnya supaya tidak bingung di kelas. Siapkan barang malam sebelumnya bersama-sama supaya pagi tidak terburu-buru. Kalau ada seragam, coba pakai lebih dulu di rumah agar dia terbiasa. Rasa memiliki atas barang-barangnya menumbuhkan semangat dan sedikit rasa kendali atas pengalaman baru yang besar ini. Hindari membebani dengan terlalu banyak barang yang justru menyulitkannya.

  7. Buat ritual perpisahan yang singkat dan konsisten

    Anak merasa lebih aman dengan hal yang bisa ditebak. Sepakati satu ritual perpisahan kecil yang sama setiap hari, misalnya pelukan, satu ciuman, dan lambaian dari gerbang. Buat singkat dan konsisten; perpisahan yang berlarut-larut justru memperpanjang tangis, bukan meredakannya. Sampaikan dengan tenang dan yakin kapan kamu akan menjemput, dengan patokan yang dia pahami seperti 'setelah makan siang', bukan sekadar menyebut jam. Hindari wajah cemas atau berlama-lama mengintip, karena anak membaca keraguanmu. Kalau dia menangis, percayakan pada guru untuk menenangkannya; sebagian besar anak reda tak lama setelah orang tua pergi. Ketegasan yang hangat di sini justru bentuk dukungan, bukan ketidakpedulian.

  8. Jaga komunikasi dengan guru sejak awal

    Guru adalah mitramu, bukan pihak yang harus kamu hadapi sendirian. Sejak awal, sampaikan hal penting tentang anakmu dengan singkat: alergi makanan, kebiasaan khusus, cara dia menenangkan diri, atau kondisi kesehatan yang perlu diketahui. Tanyakan cara terbaik berkomunikasi dan bagaimana biasanya anak beradaptasi di minggu-minggu awal. Kalau anak mengalami kesulitan tertentu, bicarakan lebih dini daripada menunggu masalah membesar. Di rumah, tanyakan harinya dengan pertanyaan terbuka seperti 'tadi kamu main apa', bukan sekadar 'tadi belajar apa'. Hindari mengorek berlebihan yang membuatnya lelah bercerita. Kerja sama yang hangat antara kamu dan guru memberi anak rasa aman bahwa dua dunianya saling terhubung.

Pertanyaan yang sering ditanya

Usia berapa anak dianggap siap masuk sekolah?

Kesiapan lebih ditentukan oleh perkembangan anak daripada angka usianya semata. Usia masuk memang punya ketentuan umum dari sekolah atau dinas pendidikan setempat, jadi cek aturan yang berlaku di tempatmu. Tapi di luar syarat administratif, perhatikan kesiapan anak: apakah dia bisa berpisah sebentar tanpa panik, mengikuti instruksi sederhana, mengurus kebutuhan dasarnya, dan bermain bersama anak lain. Ini rentang umum saja dan setiap anak berkembang dengan ritme berbeda, jadi anak seusia bisa sangat berbeda tingkat kesiapannya. Kalau kamu ragu apakah anakmu sudah siap, bicarakan dengan guru atau dokter anak yang bisa menilai lebih tepat daripada membandingkannya dengan anak lain.

Anak saya belum bisa membaca, apakah akan tertinggal?

Belum bisa membaca atau menulis sebelum masuk sekolah bukan tanda anak akan tertinggal. Di tahap awal, kesiapan sosial dan emosi sering lebih menentukan keberhasilan daripada kemampuan baca-tulis-hitung. Anak yang bisa mengikuti aturan sederhana, mau mencoba, dan berani bertanya biasanya belajar membaca pada waktunya. Yang lebih menolong di rumah bukan melatih huruf terus-menerus, tapi membacakan cerita, mengobrol, dan bermain yang memperkaya kosakata serta rasa ingin tahu. Memaksakan calistung terlalu dini malah bisa membuat anak jenuh dan takut belajar. Setiap anak punya tempo sendiri dalam menguasai membaca. Kalau kamu khawatir dengan perkembangannya, tanyakan ke guru dulu, bukan menambah tekanan les di rumah.

Bagaimana kalau anak menangis hebat setiap ditinggal?

Menangis saat berpisah adalah hal yang sangat wajar, terutama di hari-hari awal, dan biasanya mereda seiring anak terbiasa. Bantu dengan ritual perpisahan yang singkat dan konsisten, pamit dengan jelas tanpa menyelinap, dan percayakan pada guru untuk menenangkannya setelah kamu pergi. Banyak anak berhenti menangis tak lama setelah orang tua tak terlihat. Latih juga perpisahan pendek di rumah jauh sebelumnya supaya dia belajar kamu selalu kembali. Hindari memperlihatkan wajah cemas atau ikut menangis, karena anak membaca emosimu. Kalau tangis dan ketakutannya sangat hebat, berlangsung berminggu-minggu tanpa membaik, atau mengganggu makan dan tidurnya, bicarakan dengan guru dan pertimbangkan berkonsultasi ke dokter anak atau psikolog anak.

Perlukah anak ikut les calistung sebelum masuk sekolah?

Tidak ada keharusan mengikutkan anak les baca-tulis-hitung sebelum sekolah, dan bagi banyak anak itu bahkan bisa kontraproduktif kalau membuatnya jenuh. Yang lebih berharga di usia dini adalah bermain, bergerak, dan berinteraksi, karena dari situ tumbuh keterampilan dasar yang menopang belajar akademik nanti. Kalau anak menikmati mengenal huruf dan angka lewat permainan, ikuti minatnya dengan santai tanpa target. Tapi kalau dia menolak atau tertekan, berhenti dan beri jeda. Bandingkan kebutuhan anakmu dengan tuntutan sekolah yang dituju, bukan dengan tren atau tekanan sesama orang tua. Kalau ragu, tanyakan ke calon sekolah keterampilan apa yang benar-benar mereka harapkan di awal, supaya kamu tidak menyiapkan hal yang keliru.

Bagaimana menyiapkan anak yang pemalu?

Anak pemalu bukan anak bermasalah; dia hanya butuh waktu lebih untuk merasa nyaman di lingkungan baru. Jangan memaksanya langsung akrab atau memberi label 'pemalu' di depannya, karena label itu bisa menempel. Kenalkan sekolah dan gurunya secara bertahap, ceritakan apa yang akan terjadi, dan latih interaksi kecil di tempat yang dia rasa aman. Puji usahanya mencoba, sekecil apa pun, bukan hanya hasilnya. Beri tahu guru tentang wataknya supaya dia bisa membantu anak masuk pelan-pelan. Sebagian besar anak pemalu perlahan membuka diri dengan dukungan yang sabar. Untuk pendekatan yang lebih lengkap, lihat [cara menghadapi anak yang pemalu](/parenting/cara-menghadapi-anak-yang-pemalu) dan sesuaikan dengan anakmu sendiri.

Bagaimana mengatur gadget menjelang anak masuk sekolah?

Menjelang sekolah, biasakan pola layar yang lebih teratur supaya perpindahan ke rutinitas belajar tidak terlalu berat. Sepakati kapan dan berapa lama boleh menonton atau bermain gadget, dan beri peringatan beberapa menit sebelum berhenti supaya transisi tidak memicu ledakan. Hindari layar terlalu dekat waktu tidur karena bisa mengganggu kualitas tidur yang justru sedang kamu latih. Untuk batasan waktu yang sesuai usia, ikuti panduan umum dari sumber kesehatan yang tepercaya dan sesuaikan dengan kebutuhan anakmu, karena tidak ada satu angka yang cocok untuk semua. Perbanyak kegiatan pengganti seperti bermain di luar, membaca bersama, dan bercerita. Keteladananmu sendiri dalam memakai ponsel sangat memengaruhi kebiasaannya.

Kapan perlu bicara ke guru atau tenaga profesional?

Kesulitan beradaptasi di minggu-minggu awal adalah hal biasa dan sering membaik dengan sendirinya. Tapi bicarakan dengan guru kalau anak tampak sangat tertekan berkepanjangan, menolak sekolah terus-menerus disertai keluhan fisik seperti sakit perut tiap pagi, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, atau mengalami kemunduran mencolok seperti kembali mengompol setelah lama kering. Untuk kekhawatiran soal perkembangan, bicara, atau pendengaran, konsultasikan ke dokter anak. Kalau kamu sendiri merasa cemas berat, murung berlarut, atau muncul pikiran menyakiti diri, hubungi layanan kesehatan jiwa SEJIWA di 119 ekstensi 8. Meminta bantuan lebih dini selalu lebih baik daripada menunggu, baik untuk anak maupun untuk dirimu sendiri.