Cara menyendawakan bayi setelah menyusu
Bayi menelan udara saat menyusu dan perlu dibantu bersendawa. Pelajari posisi yang aman, teknik menepuk, dan tanda kapan bayi sudah cukup disendawakan.
Setiap kali bayi mengisap payudara atau dot, ia ikut menelan sedikit udara. Udara itu berkumpul di lambung yang masih mungil, menekan ruang untuk susu, dan membuat bayi terasa penuh sebelum benar-benar kenyang. Sebagian bayi mengeluarkannya sendiri dengan sendawa kecil. Sebagian lagi, terutama bayi baru lahir yang otot pencernaannya belum matang, butuh dibantu supaya udara itu tidak menumpuk menjadi begah, rewel, atau gumoh yang berlebihan.
Menyendawakan bayi terdengar sepele, tetapi banyak orang tua baru bingung soal posisi yang aman, seberapa keras boleh menepuk, dan apa yang harus dilakukan kalau sendawa tidak kunjung keluar. Artikel ini membahas semuanya secara berurutan: kenapa udara tertelan, tiga posisi utama, teknik menepuk yang benar, kesalahan yang justru bikin bayi makin tidak nyaman, dan tanda kapan gumoh perlu perhatian tenaga kesehatan.
Kenapa bayi menelan udara saat menyusu
Lambung bayi baru lahir sangat kecil dan katup di antara kerongkongan dan lambungnya belum bekerja sekuat orang dewasa. Karena itu, udara yang tertelan mudah terperangkap, dan isi lambung juga mudah naik kembali sebagai gumoh. Ini bukan tanda ada yang salah; ini bagian normal dari sistem pencernaan yang masih berkembang.
Beberapa hal membuat bayi menelan lebih banyak udara. Bayi yang minum dari botol sering menelan udara kalau dot tidak terisi penuh susu atau lubang dot terlalu besar. Bayi yang menyusu saat sedang menangis kencang biasanya sudah menelan udara sebelum mulai mengisap. Aliran ASI yang sangat deras bisa membuat bayi menelan cepat sambil menangkap udara. Pelekatan yang kurang pas saat menyusu langsung juga membuat lebih banyak udara masuk lewat sudut mulut.
Semakin banyak udara yang tertelan, semakin besar kemungkinan bayi berhenti di tengah menyusu, melengkungkan badan, atau rewel. Menyendawakan membantu udara itu keluar lebih awal, sebelum berubah jadi ketidaknyamanan yang bikin bayi susah melanjutkan menyusu atau susah tidur.
Kabar baiknya, kebutuhan ini bersifat sementara. Seiring bayi tumbuh, ototnya menguat, ia belajar menyusu lebih efisien, dan bisa duduk lebih tegak, sehingga udara yang tertelan berkurang dengan sendirinya. Menyendawakan hanya membantu di fase awal ini, bukan sesuatu yang perlu kamu lakukan seumur hidup bayi.
Tiga posisi menyendawakan dan kapan memakainya
Tidak ada satu posisi yang paling benar untuk semua bayi. Tiga posisi berikut sama-sama aman selama kepala dan leher bayi selalu tertopang, dan kamu bisa memilih yang paling nyaman untukmu dan bayimu.
Posisi di bahu adalah yang paling umum. Sandarkan dada bayi ke bahu kamu sampai dagunya bertumpu, topang bokong dengan satu tangan, dan jaga kepala serta leher dengan tangan atau lengan yang lain. Karena tubuh bayi tegak dan perutnya sedikit tertekan ke bahu, udara mudah naik. Posisi ini juga paling sering memicu gumoh, jadi lapisi bahu dengan kain lap.
Posisi duduk di pangkuan memberi kamu kendali dan pandangan langsung ke wajah bayi. Dudukkan bayi menghadap keluar, lingkarkan telapak tangan di dada bagian atas untuk menopang dagu dan rahang - bukan menekan leher - lalu condongkan tubuhnya sedikit ke depan. Posisi ini cocok untuk bayi yang sering gumoh karena tubuh yang tegak membantu isi lambung tetap turun.
Posisi telungkup di paha berguna sebagai selingan saat bahu kamu lelah. Telungkupkan bayi melintang di atas paha dengan kepala sedikit lebih tinggi dari badan, topang dagunya, dan pastikan wajahnya bebas serta tidak tertutup apa pun. Posisi ini menuntut perhatian ekstra pada jalan napas, jadi jangan tinggalkan bayi dalam posisi ini tanpa tangan kamu terus menopangnya.
Kamu tidak harus setia pada satu posisi. Banyak orang tua memulai dengan posisi bahu, dan kalau setelah satu dua menit belum ada sendawa, berpindah ke posisi duduk. Perpindahan itu sendiri sering menggeser udara sehingga sendawa keluar. Pilih posisi berdasarkan kenyamanan punggung dan tangan kamu juga, karena kamu akan mengulanginya berkali-kali setiap hari.
Teknik menepuk yang benar dan yang keliru
Banyak orang membayangkan menyendawakan berarti menepuk punggung bayi berkali-kali dengan kuat. Sebenarnya sebaliknya. Tenaga tidak membuat udara keluar lebih cepat; yang membantu adalah gerakan lembut dan posisi tubuh yang tepat.
Cekungkan sedikit telapak tanganmu sehingga saat menepuk terasa berongga, bukan telapak datar yang keras. Tepuk ringan dari punggung bawah ke arah pundak, mengikuti jalur udara yang naik. Kalau kamu ragu soal kekuatan tepukan, ganti saja dengan mengusap memutar perlahan ke atas. Mengusap sama efektifnya dan hampir tidak mungkin terlalu keras.
Beri waktu sekitar satu sampai tiga menit. Kalau sendawa belum keluar, pindahkan bayi ke posisi lain sekali, lalu coba lagi sebentar. Kadang perubahan posisi saja sudah cukup menggeser gelembung udara sehingga mudah keluar. Kalau setelah dua kali coba tetap tidak ada sendawa dan bayi tampak nyaman, kamu boleh berhenti - tidak semua sesi menyusu menyisakan udara yang perlu dikeluarkan.
Hindari mengguncang bayi atau menepuk keras di dekat leher dan kepala. Fokus tepukan atau usapan ada di punggung, di area antara pinggang dan tulang belikat. Kalau tanganmu mulai pegal, berdiri sambil bergoyang pelan sering membantu udara bergerak tanpa perlu tepukan tambahan.
Bagaimana kamu tahu bayi sudah cukup disendawakan? Biasanya terdengar atau terasa satu sendawa, lalu tubuh bayi menjadi lebih rileks: ia berhenti menggeliat, wajahnya lebih tenang, dan mau melanjutkan menyusu atau tertidur nyenyak. Kamu tidak perlu menunggu beberapa sendawa berturut-turut; satu sendawa yang melegakan sudah cukup. Kalau bayi tetap tenang tanpa bersendawa sama sekali, itu juga tanda ia tidak menyimpan banyak udara, dan kamu tidak perlu memaksa.
Kesalahan umum yang bikin bayi makin begah
Beberapa kebiasaan yang tampak kecil justru membuat bayi menelan lebih banyak udara atau lebih sering gumoh.
Membiarkan dot tidak terisi penuh. Kalau susu tidak memenuhi seluruh bagian dot, bayi ikut mengisap udara. Miringkan botol supaya susu selalu memenuhi dot dan lubangnya.
Menunggu terlalu lama untuk menyendawakan. Kalau kamu baru menyendawakan setelah bayi menghabiskan seluruh susu, udara sudah menumpuk dan bercampur susu, sehingga gumoh lebih banyak. Sendawakan di tengah, saat berganti sisi payudara atau tiap sekitar 60 sampai 90 ml untuk bayi botol.
Menyusui saat bayi sudah menangis kencang. Bayi yang menangis lama menelan banyak udara sebelum mulai mengisap. Menenangkannya dulu sebentar membantu mengurangi udara yang masuk.
Memberi susu berlebihan sekaligus. Lambung bayi kecil; memaksa menghabiskan susu melebihi kebutuhannya membuat perut penuh dan gumoh makin sering. Ikuti isyarat kenyang bayi, seperti melepas puting atau memalingkan kepala, daripada mematok jumlah tertentu.
Langsung membaringkan bayi setelah menyusu. Berbaring datar segera setelah minum membuat susu dan udara mudah naik. Gendong tegak lebih dulu selama sepuluh sampai dua puluh menit.
Menepuk terlalu keras karena tidak sabar. Ini tidak mempercepat sendawa dan hanya membuat bayi tegang. Kesabaran dan posisi yang tepat jauh lebih menentukan daripada kekuatan tepukan.
Setelah menyusu: posisi tidur yang aman
Menyendawakan sering dilakukan menjelang bayi mengantuk, jadi penting menyambungnya dengan kebiasaan tidur yang aman. Setelah bayi bersendawa atau setelah kamu menggendongnya tegak beberapa menit, baringkan bayi dalam posisi telentang. Telentang di permukaan yang rata dan padat adalah posisi tidur paling aman untuk bayi dan menurunkan risiko tidur yang berbahaya.
Alas tidur harus rata dan tidak empuk berlebihan. Jangan menaruh bantal, selimut tebal, bumper pelindung, mainan, atau boneka di dalam boks. Barang-barang empuk itu bisa menutup jalan napas bayi yang belum bisa menyingkirkannya sendiri. Cukup alas datar dan pakaian yang hangat sesuai suhu ruangan.
Hindari menidurkan bayi dalam posisi miring atau setengah duduk di kursi bayi hanya karena ia baru menyusu dan kamu takut ia gumoh. Kalau bayi memang sering gumoh, jawabannya bukan memiringkan tidurnya, melainkan menggendongnya tegak lebih lama sebelum dibaringkan telentang. Dan jangan pernah meninggalkan bayi sendirian di tempat yang berisiko, termasuk di atas kasur orang dewasa, di sofa, atau saat sedang dimandikan; bayi bisa tenggelam bahkan di air yang dangkal, jadi selalu dampingi dengan tanganmu.
Kapan gumoh perlu diperiksa dokter
Gumoh sedikit setelah menyusu adalah hal yang normal dan umumnya berkurang seiring bayi bertambah besar. Kamu tidak perlu cemas kalau bayi gumoh sedikit tetapi tetap ceria, menyusu dengan baik, dan berat badannya naik.
Ada beberapa tanda yang sebaiknya membawa kamu ke dokter anak, bidan, atau Posyandu daripada menebak sendiri: muntah yang menyembur berulang kali, muntah berwarna hijau atau bercampur darah, bayi menolak menyusu terus-menerus, berat badan yang sulit naik, popok basah yang jauh berkurang, atau bayi yang tampak sangat rewel dan kesakitan setiap selesai menyusu. Tanda-tanda ini bisa menunjukkan masalah yang perlu pemeriksaan langsung.
Hindari memberi obat antikembung, jamu, atau ramuan apa pun tanpa anjuran tenaga kesehatan, karena dosis dan keamanannya untuk bayi tidak bisa dikira-kira sendiri. Dan satu aturan penting untuk bayi di bawah 1 tahun: jangan pernah memberi madu, termasuk untuk menenangkan atau sebagai obat, karena berisiko botulisme yang berbahaya bagi bayi.
Perlu juga membedakan begah karena udara dengan kolik. Bayi yang kolik menangis lama dan sulit ditenangkan, sering pada sore atau malam, tanpa sebab yang jelas seperti lapar atau popok basah. Kolik umumnya mereda dengan sendirinya seiring bayi bertambah usia dan bukan akibat kesalahan cara mengasuh. Menyendawakan dan menggendong tegak bisa sedikit meredakan, tetapi kalau tangisan terasa berat, terus-menerus, atau kamu khawatir, bicarakan dengan bidan atau dokter anak untuk memastikan tidak ada penyebab lain.
Tiap anak tumbuh dengan pola yang sedikit berbeda. Kalau kamu ragu apakah sesuatu masih normal atau tidak, bertanya ke bidan atau dokter anak selalu lebih aman daripada mengira-ngira sendiri.
Merawat diri kamu juga penting
Mengurus bayi yang sering rewel karena begah bisa melelahkan, apalagi di minggu-minggu awal saat tidurmu terpotong-potong. Bergantian menyendawakan dan menggendong dengan pasangan atau anggota keluarga bukan tanda kamu tidak mampu, melainkan cara menjaga diri supaya tetap bisa merawat bayi dengan tenang.
Kalau kamu merasa sedih, cemas, atau kewalahan yang berlarut lebih dari dua minggu sampai mengganggu kemampuanmu merawat diri dan bayi, itu bukan kelemahan dan bukan kesalahanmu. Kamu bisa bicara dengan bidan atau menghubungi layanan kesehatan jiwa Kemenkes SEJIWA di 119 ekstensi 8. Meminta bantuan adalah bagian dari merawat bayi, bukan lawannya.
Untuk panduan lain seputar mengasuh bayi dan anak, kamu bisa menelusuri kumpulan artikel di rubrik parenting kami.
Langkah-langkahnya
-
Kenali kapan bayi perlu disendawakan
Bayi yang menelan banyak udara biasanya memberi sinyal: berhenti mengisap lalu menggeliat, melengkungkan punggung, rewel di tengah menyusu, atau melepas puting berulang kali. Bayi yang minum dari botol dan bayi dengan aliran ASI deras cenderung menelan lebih banyak udara. Tidak semua bayi butuh disendawakan setiap kali, tetapi menjadikannya kebiasaan setelah menyusu jarang merugikan. Siapkan kain lap kecil di bahu atau pangkuan karena gumoh sedikit itu normal saat udara keluar.
-
Posisi bahu: paling umum dan menopang penuh
Sandarkan dada bayi ke bahu kamu sampai dagunya bertumpu di bahu. Topang bokong dengan satu tangan, dan pastikan tangan yang lain siap menyangga kepala serta leher bayi baru lahir yang belum kuat. Punggungnya harus lebih tinggi dari perut supaya udara mudah naik. Tepuk lembut atau usap punggung dari pinggang ke arah pundak. Lapisi bahu dengan kain karena posisi ini paling sering memicu gumoh. Berdiri sambil sedikit bergoyang kadang membantu udara bergerak lebih cepat.
-
Posisi duduk: kontrol lebih untuk bayi yang sering gumoh
Dudukkan bayi di pangkuan menghadap keluar. Lingkarkan telapak tangan kamu di dada bagian atasnya sehingga ibu jari dan jari lain menopang rahang serta dagu, bukan menekan leher. Condongkan tubuhnya sedikit ke depan agar perut tertekan lembut. Dengan tangan lain, tepuk atau usap punggungnya perlahan. Posisi ini memberi kamu pandangan langsung ke wajah bayi sehingga mudah melihat kalau ia mulai gumoh. Cocok untuk bayi yang sering muntah karena tubuh tegak membantu isi lambung tetap turun.
-
Posisi telungkup di paha: alternatif saat dua posisi lain sulit
Telungkupkan bayi melintang di atas paha kamu dengan perut menempel pada satu paha dan kepala sedikit lebih tinggi dari badan. Topang dagu dan rahangnya dengan satu tangan - jangan sampai menekan tenggorokan - dan pastikan wajahnya bebas, tidak tertutup kain atau paha. Usap atau tepuk punggung dengan tangan lain. Jaga kepala selalu lebih tinggi dari dada. Posisi ini berguna saat bahu kamu pegal atau bayi menolak posisi tegak, tetapi butuh perhatian ekstra agar jalan napas bayi tetap lega.
-
Tepuk dengan lembut, bukan keras, dan beri waktu
Gunakan telapak tangan yang sedikit dicekungkan, bukan telapak datar yang keras, dan tepuk ringan dari punggung bawah ke atas. Kalau ragu, mengusap memutar ke arah atas sama efektifnya dan lebih lembut. Beri waktu sekitar 1-3 menit. Kalau sendawa belum keluar, ganti posisi sekali lalu coba lagi sebentar. Tekanan keras tidak membuat udara keluar lebih cepat dan hanya membuat bayi tidak nyaman. Sabar lebih menentukan daripada tenaga.
-
Sendawakan di tengah dan di akhir menyusu
Jangan tunggu sampai selesai menyusu untuk menyendawakan. Untuk bayi menyusu langsung, sendawakan saat berpindah dari satu payudara ke payudara lain. Untuk bayi botol, jeda tiap sekitar 60-90 ml. Menyendawakan di tengah mengurangi begah sehingga bayi bisa menyusu lebih tenang dan tidak berhenti karena penuh udara. Setelah sesi selesai, sendawakan sekali lagi. Kalau bayi tertidur saat menyusu dan tampak tenang, kamu tidak wajib membangunkannya hanya untuk bersendawa.
-
Gendong tegak lalu baringkan telentang untuk tidur
Setelah bersendawa, gendong bayi dalam posisi tegak sekitar 10-20 menit supaya susu turun dan gumoh berkurang. Setelah itu, baringkan bayi telentang di alas tidur yang rata dan padat, tanpa bantal, selimut tebal, bumper, atau boneka di dalam boks. Tidur telentang di permukaan datar adalah posisi paling aman dan menurunkan risiko tidur yang berbahaya. Jangan pernah menidurkan bayi dalam posisi miring atau di kursi bayi tanpa pengawasan hanya karena baru menyusu.
-
Perhatikan tanda yang perlu dibawa ke tenaga kesehatan
Gumoh sedikit dan sendawa yang berbunyi itu normal. Tetapi bawa bayi ke dokter anak, bidan, atau Posyandu kalau ada muntah menyembur berulang, muntah berwarna hijau atau bercampur darah, bayi menolak menyusu terus-menerus, berat badan sulit naik, atau tampak sangat rewel dan kesakitan setelah tiap menyusu. Jangan memberi obat antikembung atau ramuan apa pun tanpa anjuran tenaga kesehatan. Untuk bayi di bawah 1 tahun, jangan pernah memberi madu karena berisiko botulisme.
Pertanyaan yang sering ditanya
Bagaimana kalau bayi tidak bersendawa setelah beberapa menit?
Tidak apa-apa. Tidak setiap sesi menyusu menghasilkan sendawa, terutama pada bayi yang menyusu langsung dan menelan sedikit udara. Coba sendawakan sekitar 1-3 menit, ganti posisi sekali, lalu coba lagi sebentar. Kalau tetap tidak ada dan bayi tampak nyaman, kamu boleh berhenti. Tanda bayi tidak begah: badannya rileks, tidak melengkung, dan bisa berbaring tenang. Kalau nanti ia rewel dan menarik kaki ke perut, coba sendawakan lagi atau gendong tegak. Memaksakan tepukan lebih keras tidak membantu dan hanya membuat bayi tidak nyaman.
Apakah bayi yang menyusu langsung tetap perlu disendawakan?
Perlu, tetapi biasanya lebih jarang dibanding bayi botol. Saat menyusu langsung dengan pelekatan yang baik, bayi cenderung menelan lebih sedikit udara. Meski begitu, aliran ASI yang deras atau bayi yang mengisap cepat tetap bisa menelan udara. Kebiasaan yang aman: sendawakan saat berpindah payudara dan sekali lagi setelah selesai. Kalau bayi tampak tenang, tidur nyenyak, dan tidak rewel, kamu tidak perlu cemas kalau ia tidak bersendawa setiap kali. Perhatikan sinyal bayi, bukan target jumlah sendawa.
Apa bedanya gumoh dan muntah, dan mana yang berbahaya?
Gumoh adalah keluarnya sedikit susu tanpa tenaga, sering mengalir dari sudut mulut setelah menyusu, dan umumnya tidak mengganggu bayi. Ini normal dan biasanya berkurang seiring bayi bertambah besar. Muntah berbeda: keluar lebih banyak, lebih bertenaga, kadang menyembur. Muntah sesekali bisa terjadi, tetapi muntah menyembur berulang, berwarna hijau, bercampur darah, atau disertai berat badan sulit naik perlu diperiksa dokter anak, bidan, atau Posyandu. Tiap anak berbeda, jadi kalau kamu ragu apakah ini gumoh biasa atau ada masalah, konsultasikan daripada menebak sendiri.
Perlukah bayi disendawakan kalau tertidur saat menyusu?
Kalau bayi tertidur dan tampak tenang, kamu umumnya tidak wajib membangunkannya hanya untuk bersendawa. Kamu bisa menggendongnya tegak sebentar; sering kali sendawa keluar sendiri tanpa perlu ditepuk kuat. Yang lebih penting adalah cara membaringkannya setelah itu: letakkan telentang di alas rata dan padat, tanpa bantal atau selimut tebal. Jangan menidurkan bayi dalam posisi miring atau setengah duduk di kursi bayi hanya karena takut ia belum bersendawa. Kalau bayi sering gumoh saat tidur, gendong tegak lebih lama sebelum dibaringkan dan bicarakan polanya dengan bidan.
Sampai umur berapa bayi perlu dibantu bersendawa?
Kebutuhan menyendawakan biasanya berkurang seiring bayi tumbuh dan sistem pencernaannya matang, sering kali di beberapa bulan pertama saat ia mulai bisa duduk lebih tegak dan menelan udara lebih sedikit. Namun rentang ini bervariasi dan tiap anak berbeda. Sebagian bayi berhenti butuh bantuan lebih awal, sebagian lain masih terbantu sedikit lebih lama. Panduan praktisnya: teruskan menyendawakan selama bayi masih tampak begah atau rewel setelah menyusu, dan kurangi perlahan saat kamu melihat ia jarang gumoh dan nyaman tanpa dibantu. Kalau ragu, tanyakan ke bidan atau dokter anak.
Saya kelelahan dan cemas mengurus bayi baru. Apa yang bisa saya lakukan?
Kelelahan dan cemas di minggu-minggu awal itu sangat umum, apalagi karena pola menyusu dan tidur yang belum teratur. Bagi tugas menyendawakan dan menggendong dengan pasangan atau keluarga supaya kamu bisa beristirahat. Makan dan minum cukup, dan tidur saat bayi tidur meski sebentar. Kalau perasaan sedih, cemas, atau hampa terasa berat, berlangsung lebih dari dua minggu, atau mengganggu kemampuanmu merawat diri dan bayi, itu bukan kelemahan dan perlu bantuan. Kamu bisa menghubungi bidan atau layanan kesehatan jiwa Kemenkes SEJIWA di 119 ekstensi 8. Meminta bantuan adalah bagian dari merawat bayi.
Panduan parenting & anak lainnya
Cara menggendong bayi baru lahir dengan benar
Bayi baru lahir belum bisa menahan kepalanya sendiri. Pelajari cara menggendong yang menopang kepala dan leher agar bayi aman dan tenang.