Panduan Kita

Cara menyimpan bumbu dapur agar awet dan tidak bau

Bumbu dapur cepat berjamur, menggumpal, dan apek karena salah simpan. Panduan menyimpan bumbu kering, basah, dan halus agar awet berbulan-bulan tanpa bau.

Oleh Sari Wahyuni 8 menit baca
Cara menyimpan bumbu dapur agar awet dan tidak bau
Foto: Candace McDaniel (CC0 1.0) via stocksnap

Tiga hal merusak bumbu di dapur: uap air, panas, dan cahaya. Bumbu yang menggumpal, berjamur, atau kehilangan aromanya hampir selalu bukan karena kualitasnya jelek saat dibeli, melainkan karena salah menyimpannya. Toples bumbu yang nangkring di rak atas kompor, misalnya, kena uap masakan setiap hari sampai merica bubuk di dalamnya keras seperti batu dalam hitungan minggu.

Kabar baiknya, memperbaiki ini tidak butuh peralatan mahal. Yang dibutuhkan hanya pemahaman bahwa bumbu dapur sebenarnya terbagi tiga kelompok dengan kebutuhan berbeda, plus beberapa toples kedap udara dan disiplin memberi label. Tujuh langkah di bawah ini menyusun ulang penyimpanan bumbu dari nol, supaya bumbu bubuk awet aromanya berbulan-bulan dan bumbu halus aman dipakai dua sampai tiga bulan dari freezer.

Kenapa bumbu cepat rusak: tiga musuh utama

Sebelum mengatur ulang, penting paham apa yang sebenarnya menyerang bumbu kamu.

Uap air (kelembapan). Ini musuh nomor satu bumbu bubuk. Uap dari masakan, percikan dari wastafel, bahkan sendok basah yang dicelup ke toples, semuanya menyumbang kelembapan. Air memicu bumbu menggumpal, lalu jadi media yang sempurna untuk jamur tumbuh.

Panas. Bumbu, terutama rempah, menyimpan aromanya dalam minyak atsiri yang gampang menguap. Panas mempercepat penguapan itu. Bumbu yang disimpan dekat kompor akan kehilangan rasa jauh lebih cepat daripada yang di laci sejuk.

Cahaya. Sinar matahari langsung dan lampu terang memecah senyawa warna dan aroma. Itu sebabnya bumbu di toples bening yang dipajang di tempat terang cenderung lebih cepat pudar warnanya dibanding yang disimpan di tempat gelap.

Tiga musuh ini menjelaskan kenapa solusinya bukan satu wadah ajaib, tapi penempatan yang benar: kedap udara, sejuk, dan gelap.

Tiga kelompok bumbu butuh tiga perlakuan

Kesalahan paling umum adalah memperlakukan semua bumbu sama, padahal kebutuhannya bertolak belakang. Pisahkan dulu jadi tiga.

1. Bumbu kering bubuk. Merica, ketumbar bubuk, kunyit bubuk, lada, jinten, kayu manis, pala bubuk. Kelompok ini paling tahan asal kering. Musuhnya uap air dan panas. Solusi: toples kedap udara di tempat sejuk dan gelap.

2. Bumbu utuh segar. Bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit segar, cabai, daun bawang, serai. Kelompok ini hidup dan terus bernapas, jadi butuh penanganan menurut jenisnya. Umbi kering seperti bawang justru rusak di kulkas, sedangkan rimpang dan cabai lebih awet di laci sayur kulkas.

3. Bumbu basah olahan. Bumbu halus, bumbu dasar merah dan putih, sambal, pasta cabai. Kelompok ini sudah mengandung air dan bawang, jadi paling rentan basi. Wajib di kulkas untuk jangka pendek atau freezer untuk jangka panjang.

Begitu kamu memisahkan ketiganya, sisa langkahnya jadi jelas: tinggal cocokkan tiap kelompok dengan wadah dan tempat yang sesuai.

Wadah yang benar untuk bumbu bubuk

Untuk bumbu bubuk, satu prinsip mengalahkan yang lain: kedap udara. Kemasan plastik atau sachet sekali pakai memang praktis, tapi begitu dibuka, lipatan atau jepitan kecil tidak menahan uap air. Bumbu di dalamnya menggumpal dalam hitungan minggu.

Pindahkan ke toples kaca atau plastik food grade dengan tutup yang menutup rapat. Hal yang sering terlewat:

  • Toples harus benar-benar kering sebelum diisi. Satu tetes sisa cuci bisa memicu jamur. Lap atau angin-anginkan sampai kering total.
  • Jangan isi terlalu penuh. Sisakan ruang agar mudah menyendok dan menakar tanpa tumpah.
  • Pakai sendok kering. Jangan pernah mencelup sendok basah atau berminyak ke dalam toples bumbu.
  • Toples bening tetap di tempat gelap. Bening memudahkan kamu memantau isi, tapi cahaya tetap memudarkan aroma, jadi simpan di dalam lemari tertutup.

Kalau kamu suka beli bumbu dalam jumlah besar supaya lebih hemat, simpan stok cadangan dalam kemasan tersegel di tempat sejuk, dan isi ulang toples kecil sesuai kebutuhan. Dengan begitu sebagian besar stok tidak sering terpapar udara.

Bumbu segar: pisahkan yang kering dari yang butuh dingin

Bumbu utuh segar paling sering salah simpan karena diperlakukan seragam, padahal kebutuhannya berbeda.

Bawang merah dan bawang putih suka tempat sejuk, kering, dan berventilasi di suhu ruang. Keranjang berlubang di sudut dapur yang tidak kena matahari langsung sudah cukup. Hindari kulkas karena kelembapannya membuat bawang berjamur dan bertunas. Jauhkan juga bawang dari kentang, karena keduanya saling mempercepat bertunas.

Jahe, lengkuas, dan kunyit segar bertahan lebih lama dibungkus tisu dapur lalu dimasukkan wadah tertutup di laci sayur kulkas. Tisu menyerap kelembapan berlebih yang biasanya jadi awal pembusukan rimpang.

Cabai segar jangan dicuci sebelum disimpan. Taruh kering dalam wadah beralas tisu di kulkas, dan cuci hanya saat mau dipakai. Ganti tisu kalau sudah basah.

Serai dan daun jeruk bisa dibekukan kalau jarang dipakai. Potong serai, masukkan kantong, simpan di freezer, dan ambil saat butuh.

Memisahkan umbi kering dari rimpang yang butuh dingin mencegah keduanya saling memperburuk kondisi di rak yang sama.

Bumbu halus: bekukan jadi kubus sekali pakai

Bumbu halus paling merepotkan karena cepat basi dan berbau kalau hanya ditaruh di kulkas berhari-hari. Triknya: bekukan dalam porsi kecil.

Tumis dulu bumbu halus setengah matang. Ini mengeluarkan aromanya sekaligus mengurangi kadar air, sehingga lebih awet dan tidak gampang basi. Setelah dingin, tuang ke cetakan es batu dan bekukan. Begitu mengeras, lepaskan kubus-kubusnya dan pindahkan ke kantong zip lock, keluarkan udaranya, lalu kembalikan ke freezer.

Saat memasak, ambil satu atau dua kubus langsung dari freezer, tidak perlu dicairkan dulu, tinggal dimasukkan ke wajan panas. Dengan sistem porsi ini, kamu hanya mengambil yang dibutuhkan dan tidak pernah mencairkan lalu membekukan ulang seluruh stok, kebiasaan yang justru mempercepat bumbu berbau dan berisiko untuk kesehatan.

Untuk sambal dan pasta cabai matang, simpan dalam wadah kaca kecil tertutup rapat di kulkas, dengan lapisan tipis minyak di atasnya untuk menahan udara. Pakai sendok kering dan bersih setiap kali mengambil.

Tempat menyimpan: sejauh mungkin dari kompor

Wadah yang bagus jadi percuma kalau lokasinya salah. Rak bumbu yang menempel di atas atau di samping kompor adalah tempat terburuk, karena di situlah panas dan uap berkumpul setiap kali kamu memasak. Kombinasi itu mempercepat penggumpalan dan hilangnya aroma.

Pindahkan stok bumbu ke lemari atau laci yang sejuk, kering, dan gelap. Jauhkan juga dari wastafel agar tidak kena percikan air. Kalau dapurmu kecil dan rak dekat kompor benar-benar satu-satunya pilihan, minimal pakai toples yang benar-benar kedap udara dan simpan hanya stok kecil di situ, sisanya di tempat lain yang lebih aman.

Untuk bumbu basah, aturan keamanannya tegas: jangan biarkan di suhu ruang lebih dari sekitar dua jam. Bumbu yang mengandung bawang dan air adalah tempat ideal bakteri berkembang. Kalau ragu soal keamanan bumbu basah yang sudah lama, lebih baik dibuang. Untuk hal yang menyangkut kesehatan keluarga, konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila perlu, dan jangan ambil risiko hanya demi menghemat sedikit bumbu.

Cek rutin: lima menit tiap dua minggu

Sistem penyimpanan terbaik pun perlu dirawat. Luangkan sekitar lima menit setiap dua minggu untuk memeriksa stok:

  1. Cium bumbu bubuk. Kalau aromanya sudah hambar atau apek, kualitasnya sudah menurun jauh. Catat untuk dibeli ulang.
  2. Periksa bawang dan umbi. Cari bercak lunak, tunas, atau jamur. Buang yang busuk sebelum menular ke tetangganya.
  3. Patuhi label tanggal untuk bumbu kulkas dan freezer. Pakai yang lebih lama dulu.
  4. Bersihkan tumpahan di laci atau rak bumbu segera, jangan menunggu menumpuk.

Cek rutin ini mencegah satu bumbu busuk mencemari bau seluruh laci, sekaligus memberitahu kamu kapan harus belanja ulang sebelum kehabisan.

Kalau kamu mau mendalami penyimpanan satu jenis bumbu yang paling sering dipakai, lihat panduan cara menyimpan bawang putih agar tahan lama. Dan karena laci bumbu yang lembap kerap mengundang serangga, baca juga cara menghilangkan semut di dapur supaya stok bumbumu tetap aman.

Langkah-langkahnya

  1. Pilah bumbu jadi tiga kelompok dulu

    Sebelum membeli wadah apa pun, keluarkan semua bumbu dan pisahkan jadi tiga: bumbu kering bubuk (merica, ketumbar, kunyit bubuk, lada, kayu manis), bumbu utuh segar (bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit segar, cabai), dan bumbu basah olahan (bumbu halus, sambal, pasta cabai). Ketiganya butuh perlakuan berbeda, jadi mencampur semua di satu rak adalah kesalahan paling umum. Sambil memilah, buang yang sudah berjamur, menggumpal keras, atau baunya sudah hilang atau apek.

  2. Pindahkan bumbu bubuk ke toples kedap udara

    Bumbu bubuk dalam kemasan plastik atau sachet yang sudah dibuka cepat menyerap uap air dan menggumpal. Pindahkan ke toples kaca atau plastik food grade yang tutupnya rapat. Pastikan toples benar-benar kering sebelum diisi karena satu tetes air saja memicu gumpalan dan jamur. Isi jangan sampai penuh agar mudah ditakar, dan hindari menyendok bumbu pakai sendok basah. Toples kaca bening lebih mudah dipantau isinya, tapi simpan di tempat gelap karena cahaya mempercepat hilangnya aroma.

  3. Beri label nama dan tanggal pada setiap wadah

    Tulis nama bumbu dan tanggal kamu memindahkannya ke wadah pakai spidol permanen atau label tempel. Bumbu bubuk yang sudah dibuka memang tidak basi seperti makanan segar, tapi aromanya melemah seiring waktu, dan tanpa tanggal kamu tidak tahu mana yang sudah lama. Untuk bumbu basah olahan, label tanggal jadi penentu keamanan: tanpa itu kamu bisa salah pakai sambal yang sudah dua minggu di kulkas. Letakkan label menghadap depan supaya langsung terbaca saat memasak.

  4. Simpan bumbu utuh segar sesuai jenisnya

    Bawang merah dan bawang putih simpan di keranjang berventilasi di suhu ruang yang sejuk dan kering, jangan di kulkas karena kelembapan membuatnya berjamur dan bertunas. Jahe, lengkuas, dan kunyit segar bertahan lebih lama dibungkus tisu dapur lalu dimasukkan wadah di laci sayur kulkas. Cabai segar cuci hanya saat mau dipakai, simpan kering dalam wadah beralas tisu agar uap air terserap. Memisahkan umbi kering dari rimpang yang butuh dingin adalah kunci agar keduanya tidak saling mempercepat busuk.

  5. Bekukan bumbu halus jadi porsi sekali pakai

    Bumbu halus seperti bumbu dasar merah atau putih paling awet dibekukan. Tumis dulu setengah matang agar aromanya keluar dan air berkurang, dinginkan, lalu tuang ke cetakan es batu. Setelah beku, pindahkan kubus-kubus itu ke kantong zip lock dan keluarkan udaranya. Saat memasak, ambil satu atau dua kubus langsung dari freezer tanpa cairkan dulu. Cara ini menghindari kebiasaan mencairkan dan membekukan ulang seluruh wadah yang justru mempercepat bumbu basi dan berbau.

  6. Atur penempatan menjauh dari panas dan uap

    Tempat menyimpan bumbu sama pentingnya dengan wadahnya. Rak bumbu yang menempel di atas atau di samping kompor adalah lokasi terburuk karena panas dan uap masakan mempercepat penggumpalan dan hilangnya aroma. Pindahkan ke lemari atau laci yang sejuk, kering, dan gelap, jauh dari wastafel juga karena percikan air. Bumbu basah yang sudah diolah selalu di kulkas, jangan dibiarkan di suhu ruang lebih dari dua jam karena bakteri cepat berkembang di bumbu yang mengandung bawang dan air.

  7. Cek rutin dan buang yang sudah tidak layak

    Sediakan waktu sekitar lima menit tiap dua minggu untuk memeriksa stok. Cium aroma bumbu bubuk: kalau sudah hambar atau apek, kualitas rasanya sudah jauh menurun walau secara fisik aman. Periksa bawang dan umbi dari bercak lunak, tunas, atau jamur, buang yang busuk sebelum menular ke tetangganya. Untuk bumbu kulkas dan freezer, patuhi tanggal di label. Cek rutin ini mencegah satu bumbu busuk mencemari bau seluruh laci atau kulkas, sekaligus membuatmu tahu kapan harus beli ulang.

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa lama bumbu bubuk bisa disimpan setelah dibuka?

Bumbu bubuk tidak basi seperti makanan segar, tapi aromanya yang menentukan kelayakan. Disimpan di toples kedap udara, jauh dari panas dan cahaya, bumbu bubuk seperti merica, ketumbar, dan kunyit umumnya masih kuat aromanya berbulan-bulan, lalu perlahan memudar. Tesnya sederhana: cium bumbunya. Kalau wanginya sudah hambar atau berubah apek, rasanya tidak akan optimal di masakan walaupun secara fisik masih aman. Kemasan utuh yang belum dibuka biasanya mencantumkan tanggal kedaluwarsa, jadi cek label pabriknya sebagai patokan awal.

Kenapa bawang putih cepat busuk di kulkas?

Kulkas justru bukan tempat terbaik untuk bawang putih dan bawang merah utuh. Suasana kulkas yang lembap dan dingin membuat bawang menyerap uap air, lalu berjamur, bertunas hijau, atau jadi lembek. Bawang utuh lebih awet di suhu ruang yang sejuk, kering, dan berventilasi, misalnya di keranjang berlubang di sudut dapur yang tidak kena sinar matahari langsung. Pengecualiannya adalah bawang yang sudah dikupas atau dicincang: itu memang harus di kulkas dalam wadah tertutup dan dipakai dalam beberapa hari.

Bagaimana cara menyimpan bumbu halus sisa masak?

Bumbu halus sisa paling aman dibekukan, bukan sekadar ditaruh di kulkas. Kalau hanya dipakai dalam satu sampai dua hari, simpan di wadah tertutup rapat di kulkas. Untuk stok lebih lama, tumis dulu setengah matang supaya kadar airnya berkurang, dinginkan, lalu bekukan dalam cetakan es batu jadi porsi kecil. Setelah beku, pindahkan ke kantong zip lock. Dengan cara ini bumbu halus aman dipakai dua sampai tiga bulan. Hindari mencairkan seluruh wadah lalu membekukan ulang sisanya karena itu mempercepat bumbu berbau dan tidak aman.

Apa tanda bumbu sudah tidak layak pakai?

Untuk bumbu bubuk, tanda utamanya adalah menggumpal keras karena lembap, berubah warna jadi pucat atau kusam, dan aroma yang hilang atau apek. Kalau ada bintik jamur, langsung buang seluruhnya, jangan hanya disisihkan bagian yang terlihat. Bawang dan umbi tidak layak kalau ada bagian lunak berair, berlendir, bertunas panjang, atau berbau menyengat. Bumbu basah olahan yang berbau asam tidak wajar, berbusa, atau permukaannya berubah warna sudah harus dibuang. Saat ragu, lebih baik buang. Biaya ganti bumbu jauh lebih kecil daripada risiko sakit perut atau merusak satu panci masakan.

Apakah boleh menyimpan semua bumbu di rak atas kompor?

Sebaiknya tidak, meski rak di atas kompor terlihat praktis. Panas dan uap dari masakan adalah dua hal yang paling cepat merusak bumbu: panas mempercepat hilangnya minyak aromatik, sedangkan uap air membuat bumbu bubuk menggumpal dan rentan berjamur. Lokasi ideal adalah lemari atau laci yang sejuk, kering, gelap, dan jauh dari kompor maupun wastafel. Kalau dapurmu kecil dan rak dekat kompor satu-satunya pilihan, minimal gunakan toples yang benar-benar kedap udara dan ambil stok secukupnya, sisanya simpan terpisah di tempat yang lebih sejuk.

Perlukah mencuci cabai dan sayur bumbu sebelum disimpan?

Untuk penyimpanan, justru jangan dicuci dulu. Cabai segar, daun bawang, dan rimpang lebih awet kalau disimpan dalam keadaan kering, lalu dicuci hanya saat mau dipakai. Air sisa cucian yang menempel mempercepat pembusukan dan jamur. Simpan cabai dalam wadah beralas tisu dapur supaya kelembapan terserap, dan ganti tisunya kalau sudah basah. Kalau cabai sudah terlanjur basah saat dibeli, keringkan dulu dengan tisu sampai benar-benar kering sebelum dimasukkan wadah. Prinsip yang sama berlaku untuk jahe, lengkuas, dan kunyit segar.