Panduan Kita

Cara memperkecil ukuran video tanpa merusak kualitas

Video 4K 10 menit bisa 4 GB dan ditolak email. Turunkan jadi ratusan MB lewat CRF, codec, dan resolusi yang tepat tanpa bikin gambar pecah.

Oleh Dimas Pratama 9 menit baca
Cara memperkecil ukuran video tanpa merusak kualitas
Foto: Humphrey Muleba (CC0 1.0) via stocksnap

Rekaman 4K 60 fps dari iPhone menghabiskan sekitar 400 MB per menit - angka itu ditampilkan Apple sendiri di layar Settings → Camera → Record Video. Artinya video ulang tahun 10 menit yang kamu rekam tadi malam berukuran sekitar 4 GB. Gmail menolak lampiran di atas 25 MB. WhatsApp mengompres ulang video dari galeri sampai remuk. Google Drive gratis kamu penuh setelah tiga rekaman.

Masalah sebenarnya bukan “video terlalu besar”. Masalahnya kamu menyimpan puluhan kali lebih banyak data daripada yang dibutuhkan mata untuk menonton video itu di layar 6 inci.

Kabar baiknya, kompresi video bukan ilmu gaib. Semuanya berdiri di atas satu rumus dan empat tuas.

Ukuran video itu cuma bitrate dikali durasi

Rumusnya sederhana dan tidak pernah bohong:

Ukuran (MB) = bitrate (Mbps) x durasi (detik) / 8

Pembagi 8 ada karena bitrate dihitung dalam bit sedangkan ukuran file dalam byte. Beberapa contoh:

  • Video 1080p 8 Mbps selama 10 menit: 8 x 600 / 8 = 600 MB
  • Video 4K 53 Mbps selama 10 menit: 53 x 600 / 8 = sekitar 4 GB
  • Video 1080p 2,7 Mbps selama 10 menit: 2,7 x 600 / 8 = sekitar 200 MB

Durasi tidak bisa kamu ubah tanpa memotong isinya. Jadi seluruh pekerjaan kompresi sebenarnya cuma satu hal: menurunkan bitrate tanpa membuat mata sadar bahwa datanya berkurang.

Balik rumusnya kalau kamu punya batas ukuran: bitrate yang tersedia = ukuran target x 8 / durasi. Kalau hasilnya di bawah 1 Mbps untuk 1080p, rencananya memang tidak realistis dan kamu harus memotong durasi atau menurunkan resolusi, bukan memaksa slider.

Empat tuas yang menentukan ukuran

Semua aplikasi kompresi, dari HandBrake sampai aplikasi HP yang cuma punya tombol “kecilkan”, memutar tuas yang sama.

Bitrate atau CRF. Tuas utama. Menentukan berapa banyak data yang dialokasikan per detik. Ada dua cara mengaturnya, dan pilihan ini berdampak besar (lihat bagian CRF di bawah).

Codec. Aturan main tentang bagaimana video dipadatkan. Codec lebih baru lebih pintar membuang data yang tidak terlihat. H.265 kira-kira separuh ukuran H.264 pada kualitas setara.

Resolusi. Jumlah piksel. 4K punya empat kali piksel 1080p, dan butuh bitrate jauh lebih besar untuk terlihat sama bersihnya. Ini tuas dengan penghematan terbesar dan efek paling tidak terasa - asalkan kamu menyesuaikannya dengan layar tujuan.

Frame rate. 60 fps ke 30 fps memangkas separuh jumlah gambar. Aman untuk wawancara, presentasi, dan video keluarga. Terasa untuk olahraga, gaming, atau apa pun dengan gerakan cepat.

Yang tidak masuk daftar: audio. Track AAC 128 kbps stereo cuma menyumbang sekitar 9,6 MB per 10 menit. Kalau video kamu 600 MB, mengutak-atik audio menghemat kurang dari 2 persen. Rapikan seperlunya, jangan buang waktu di sana.

CRF: minta “kualitas segini”, bukan “ukuran segini”

Ini bagian yang paling sering salah dipahami, dan paling sering jadi penyebab video pecah.

Ada dua mode mengatur bitrate:

Average Bitrate (ABR). Kamu bilang ke encoder “pakai 2 Mbps”. Encoder patuh, apa pun isinya. Adegan orang duduk diam dapat 2 Mbps (mubazir). Adegan kembang api juga dapat 2 Mbps (jauh dari cukup, langsung kotak-kotak). Hasilnya: ukuran file bisa diprediksi, kualitas naik turun tidak karuan.

Constant Rate Factor (CRF). Kamu bilang “pertahankan kualitas di level ini”, dan encoder yang memutuskan sendiri berapa bit dibutuhkan tiap adegan. Adegan diam dapat sedikit, adegan rumit dapat banyak. Hasilnya: kualitas konsisten, ukuran file tidak bisa diprediksi persis.

Untuk hampir semua kebutuhan, CRF adalah pilihan yang benar. Di HandBrake namanya Constant Quality dengan slider RF. Skalanya 0 sampai 51 untuk x264, dengan 23 sebagai nilai default dan angka lebih kecil berarti lebih bagus sekaligus lebih besar. Nilai default HandBrake untuk H.264 adalah RF 22.

Panduan angkanya:

CRF (x264)Hasil
18Nyaris tidak terbedakan dari sumber, file besar
20-23Kualitas bagus untuk disimpan dan dibagikan
24-26Cukup untuk ditonton di HP, hemat
28+Kotak-kotak mulai terlihat di area gelap

Naik satu angka CRF kira-kira menghemat 15-20 persen ukuran. Untuk x265, skalanya berbeda: tambahkan sekitar 5-6 poin (RF 28 di x265 kira-kira setara RF 23 di x264).

Padanannya di FFmpeg muat dalam satu baris:

ffmpeg -i input.mp4 -c:v libx264 -crf 23 -preset slow -vf scale=-2:1080 -c:a aac -b:a 128k -movflags +faststart output.mp4

Baris itu memuat hampir semua keputusan di artikel ini: codec (libx264), kualitas (-crf 23), seberapa keras encoder berpikir (-preset slow), resolusi (scale=-2:1080), audio (aac 128k), dan indeks yang dipindah ke depan supaya video bisa diputar sambil diunduh (+faststart). Yang perlu kamu ubah cuma angka crf dan preset - sisanya biarkan. Kemampuan membungkus perintah itu dalam perulangan untuk memproses puluhan file sekaligus adalah alasan orang bertahan dengan FFmpeg meski HandBrake jauh lebih ramah.

Satu-satunya alasan memakai ABR atau two-pass adalah kalau kamu benar-benar terikat batas keras, misalnya file wajib di bawah 25 MB untuk lampiran email. Di kasus itu, FFmpeg two-pass masuk akal.

Codec: H.264, H.265, atau AV1

H.264 (AVC) adalah standar sejak pertengahan 2000-an. Diputar di praktis semua HP, TV, browser, dan pemutar yang pernah dibuat. Encoding cepat. Efisiensinya kalah dari yang baru, tapi kompatibilitasnya tidak tertandingi. Pilih ini untuk apa pun yang dikirim ke orang lain.

H.265 (HEVC) memberi ukuran kira-kira separuh H.264 pada kualitas setara. Bayarannya: encoding jauh lebih lama dan dukungan pemutaran tidak universal - perangkat dan browser lama bisa menampilkan layar hitam. Pilih ini untuk arsip pribadi yang kamu putar di perangkat kamu sendiri. HP keluaran beberapa tahun terakhir merekam dalam HEVC secara default.

AV1 lebih efisien lagi dari HEVC dan bebas royalti. Dukungan pemutaran terus meluas, tapi encoding-nya lambat kalau tanpa dukungan hardware. Layak dicoba untuk eksperimen, belum layak jadi pilihan utama untuk file yang harus diterima orang lain hari ini.

Satu jebakan: opsi encoder yang berakhiran NVENC, QSV, atau VideoToolbox adalah encoder hardware. Cepatnya luar biasa (lima sampai sepuluh kali lipat), tapi pada ukuran file yang sama kualitasnya kalah dari encoder software. Kalau prioritas kamu file kecil dan waktu bukan masalah, pakai encoder software biasa.

Cocokkan target dengan tujuan pengiriman

Angka yang “benar” tergantung ke mana video itu pergi.

Lampiran email. Gmail membatasi lampiran 25 MB. Untuk video 5 menit, itu berarti sekitar 0,6 Mbps - terlalu kecil untuk 1080p yang layak. Turunkan ke 720p, atau lebih baik: upload ke Google Drive dan kirim link-nya saja.

WhatsApp. Video yang dikirim lewat galeri akan dikompres ulang oleh WhatsApp sendiri, jadi mengompres duluan dengan CRF tinggi berarti kamu menumpuk dua kompresi dan hasilnya remuk. Kirim sebagai dokumen kalau kamu ingin file sampai apa adanya. Batas ukuran untuk masing-masing jalur berubah antar versi aplikasi, jadi cek langsung di aplikasinya.

Google Drive atau cloud lain. Batasnya ruang penyimpanan, bukan ukuran per file. Kompres ke 1080p CRF 22 dan simpan tenang. Perlu diingat opsi upload berkualitas hemat di layanan foto biasanya menurunkan video ke 1080p secara otomatis, dan penamaan opsinya sesekali berganti.

Arsip jangka panjang. Pakai H.265 CRF 22-24, pertahankan resolusi asli, simpan di hard disk eksternal. Jangan kompres agresif sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu rekam ulang.

Upload ke platform video. Jangan kompres berlebihan. Platform akan meng-encode ulang video kamu sendiri, jadi memberi mereka sumber berkualitas tinggi menghasilkan output akhir yang lebih baik. 1080p CRF 18-20 sudah pas.

Kesalahan yang benar-benar merusak kualitas

Mengompres file yang sudah dikompres. Setiap encode ulang membuang detail berdasarkan tebakan. Encode kedua menebak di atas tebakan pertama. Video hasil unduhan media sosial sudah lewat beberapa siklus - kompres lagi dan hasilnya berantakan. Selalu mulai dari file kamera asli.

Memakai preset ultrafast atau veryfast. Preset mengatur seberapa keras encoder berpikir. Preset lambat menghasilkan file lebih kecil pada kualitas yang sama, sekaligus butuh waktu lebih lama. Perbedaan antara ultrafast dan slow bisa mencapai 40 persen ukuran pada kualitas identik. Pakai medium atau slow kalau kamu tidak sedang dikejar tenggat.

Memaksa bitrate terlalu rendah untuk isi yang bergerak. Rumput tertiup angin, air, kembang api, dan konfeti adalah mimpi buruk encoder karena hampir setiap piksel berubah tiap frame. Video seperti itu butuh bitrate jauh lebih besar. Kalau kamu memaksa, hasilnya bukan “sedikit kurang tajam” melainkan hancur.

Menargetkan ukuran secara buta. “Buat jadi 50 MB” tanpa melihat durasi dan isi adalah cara paling cepat merusak video. Hitung dulu bitrate yang tersisa dengan rumus di atas, baru putuskan realistis atau tidak.

Menaikkan resolusi. Mengubah 720p jadi 1080p menambah ukuran file tanpa menambah satu pun detail. Encoder tidak bisa mengarang informasi yang tidak ada di sumbernya.

Kapan lebih baik tidak dikompres sama sekali

Kompresi selalu membuang sesuatu. Kadang jawaban yang benar adalah tidak mengompres.

Kalau video itu satu-satunya rekaman momen yang tidak bisa diulang - kelahiran, pernikahan, orang tua yang sudah tiada - simpan aslinya. Beli hard disk eksternal, harganya jauh lebih murah daripada penyesalan. Buat versi kompresi terpisah untuk dibagikan, dan biarkan aslinya utuh.

Kalau tujuannya cuma menunjukkan video ke satu-dua orang, upload ke cloud dan kirim link. Nol kompresi, nol kerusakan, nol waktu encoding. Ini sering solusi yang paling masuk akal dan paling sering dilupakan.

Kalau file aslinya sudah efisien - misalnya sudah HEVC dengan bitrate di bawah 5 Mbps untuk 1080p - ruang penghematan yang tersisa tinggal sedikit sementara risiko kerusakannya nyata. Cek dulu properti file (klik kanan lalu Properties di Windows, atau Get Info di macOS) sebelum memutuskan.

Prinsip yang layak dipegang: kompresi adalah alat untuk memindahkan video, bukan untuk menyimpannya. Simpan yang asli, kirim yang kecil.

Kalau yang sering bikin penuh justru foto dan bukan video, pendekatannya berbeda - lihat panduan kami tentang cara compress foto agar muat di WhatsApp. Dan sebelum memutuskan file mana yang perlu dikecilkan duluan, ada baiknya kamu tahu cara tahu aplikasi yang makan storage paling banyak supaya usahanya tidak salah sasaran.

Langkah-langkahnya

  1. Tentukan target ukuran dan tujuan sebelum buka aplikasi apa pun

    Kompresi tanpa target itu menebak. Tulis dulu: video ini mau dikirim ke mana dan ditonton di layar apa. Lampiran Gmail dibatasi 25 MB. Video yang dikirim lewat galeri WhatsApp otomatis dikompres ulang oleh aplikasinya dengan batas ukuran yang jauh lebih kecil (batas persisnya berubah antar versi, cek aplikasi resmi). Arsip keluarga di hard disk boleh 1 GB. Setelah target jelas, hitung bitrate yang tersedia: bitrate (Mbps) = ukuran target (MB) x 8 / durasi (detik). Video 10 menit dengan target 200 MB berarti 200 x 8 / 600 = sekitar 2,7 Mbps total. Angka itu yang menentukan realistis atau tidaknya rencana kamu, bukan slider di aplikasi.

  2. Turunkan resolusi ke ukuran layar yang benar-benar dipakai

    Ini penghematan terbesar dengan efek paling tidak terasa. 4K punya 4x jumlah piksel 1080p. Kalau video akan ditonton di HP atau dikirim lewat chat, 1080p sudah lebih dari cukup - layar HP jarang menampilkan detail 4K pada jarak pandang normal. Di HandBrake, buka tab Dimensions dan isi Width 1920 (Height akan menyesuaikan otomatis kalau Anamorphic diset Automatic). Di FFmpeg pakai filter scale dengan tinggi terkunci: -vf scale=-2:1080. Angka -2 memaksa lebar jadi kelipatan 2 yang dibutuhkan encoder. Jangan pernah menaikkan resolusi (720p ke 1080p) - file membengkak dan detail tidak bertambah sedikit pun.

  3. Install HandBrake dan mulai dari preset bawaan, bukan dari nol

    Unduh HandBrake dari handbrake.fr (gratis, open source, tersedia untuk Windows, macOS, Linux). Buka file lewat Open Source, lalu di panel Presets pilih titik awal yang masuk akal: Fast 1080p30 untuk kebanyakan kasus, atau Very Fast 1080p30 kalau kamu buru-buru. Preset ini sudah mengatur codec, filter, dan audio ke kombinasi yang waras. Tugas kamu berikutnya cuma menyesuaikan dua hal: kualitas dan codec. Tab yang perlu kamu sentuh cuma Summary, Dimensions, dan Video. Abaikan Filters, Chapters, dan Subtitles kecuali memang ada kebutuhan khusus. Struktur menu HandBrake bisa sedikit bergeser antar versi, tapi nama tab-nya konsisten bertahun-tahun.

  4. Setel Constant Quality (RF/CRF), jangan targetkan ukuran file

    Di tab Video, pastikan mode Constant Quality aktif, bukan Avg Bitrate. Constant Quality memberi encoder izin memakai bit lebih banyak di adegan rumit dan lebih sedikit di adegan diam - itulah kenapa hasilnya lebih rapi pada ukuran yang sama. Skala RF di HandBrake sama dengan CRF di x264: 0 sampai 51, makin kecil makin bagus dan makin besar. Nilai default HandBrake untuk H.264 adalah RF 22. Untuk video HP biasa, RF 22-24 hampir tidak terlihat bedanya. RF 18 mendekati sumber tapi filenya besar. Di atas RF 28 mulai muncul kotak-kotak di area gelap. Naikkan RF satu angka menghemat kira-kira 15-20 persen ukuran.

  5. Pilih codec sesuai tempat video akan diputar

    Masih di tab Video, buka dropdown Video Encoder. H.264 (x264) diputar di hampir semua perangkat, browser, dan TV yang pernah dibuat - pilih ini kalau video akan dikirim ke orang lain dan kamu tidak tahu HP mereka apa. H.265 (x265) menghasilkan file kira-kira separuh ukuran H.264 pada kualitas setara, cocok untuk arsip pribadi, tapi encoding-nya jauh lebih lama dan perangkat lama bisa gagal memutarnya. Kalau ganti ke x265, naikkan angka RF sekitar 5-6 poin dari setelan x264 kamu karena skalanya berbeda: RF 28 di x265 kira-kira setara RF 23 di x264. Jangan pakai opsi encoder berakhiran QSV, NVENC, atau VideoToolbox kalau prioritas kamu ukuran kecil - itu cepat tapi boros bit.

  6. Rapikan audio dan aktifkan Web Optimized

    Audio jarang jadi biang ukuran, tapi tetap layak dibereskan. Di tab Audio, set codec AAC dengan Bitrate 128 kbps stereo. Untuk rekaman suara atau video kuliah, 96 kbps sudah aman. Jangan biarkan track audio dalam format pass-through tak terkompres kalau tujuannya menghemat ruang. Hapus track audio kedua kalau ada (bahasa lain, komentar) lewat tanda minus di sebelahnya. Terakhir, kembali ke tab Summary dan centang Web Optimized. Ini memindahkan indeks file ke depan supaya video bisa mulai diputar sebelum unduhan selesai - penting untuk video yang di-upload ke web atau dikirim lewat link. Di FFmpeg efek yang sama didapat dengan -movflags +faststart.

  7. Encode potongan uji 30 detik dulu, baru file penuh

    Mengompres file 4 GB butuh 20-60 menit. Salah setelan berarti kamu mengulang dari nol. Di HandBrake, buka menu Preview, pilih titik mulai, set durasi 30 detik, lalu klik Live Preview untuk merender potongan pendek dengan setelan yang sedang aktif. Pilih adegan yang paling berat: banyak gerakan, air, dedaunan, kembang api, atau area gelap - di situlah kompresi pertama kali gagal. Kalau potongan uji terlihat bersih, baru jalankan Start Encode untuk file penuh. Kalau pecah, turunkan RF dua angka dan uji ulang. Lima menit menguji menghemat satu jam mengulang. Di FFmpeg, potong dengan -ss 00:02:00 -t 30 sebelum parameter output.

  8. Bandingkan berdampingan sebelum menghapus file asli

    Buka file asli dan hasil kompresi di dua jendela, putar keduanya dalam mode layar penuh di layar terbesar yang kamu punya - bukan di jendela kecil, karena cacat kompresi sembunyi di ukuran kecil. Perhatikan tiga hal: tepi objek bergerak, gradasi langit atau dinding polos (cari garis-garis bertingkat), dan area bayangan. Cek juga audio tetap sinkron sampai menit terakhir, karena desinkronisasi biasanya baru muncul di ujung file panjang. Simpan file asli minimal sampai video terkirim dan diterima dengan baik. Kalau ruang penyimpanan mepet, pindahkan aslinya ke hard disk eksternal dulu. File asli yang sudah dihapus tidak bisa dikembalikan dari hasil kompresi.

Pertanyaan yang sering ditanya

Kenapa video saya jadi kotak-kotak padahal ukurannya cuma turun sedikit?

Hampir selalu karena sumbernya sudah dikompres sebelumnya. Setiap kali video di-encode ulang, encoder membuang detail berdasarkan tebakan tentang apa yang mata tidak sadari. Encode kedua menebak di atas tebakan pertama, dan kerusakannya menumpuk. Ini disebut generation loss dan tidak bisa dibatalkan. Video yang kamu unduh dari media sosial, terima lewat WhatsApp, atau ekspor dari aplikasi edit sudah melewati satu sampai tiga siklus kompresi. Solusinya: selalu mulai dari file kamera asli, bukan dari salinan yang sudah beredar. Kalau memang cuma punya salinan, pakai RF rendah (18-20) supaya kerusakan tambahan minimal, walaupun konsekuensinya penghematan ukuran jadi kecil.

Lebih baik turunkan resolusi atau turunkan bitrate?

Turunkan resolusi dulu, sampai cocok dengan layar tujuan. Alasannya: bitrate yang terlalu rendah untuk resolusi tinggi menghasilkan gambar yang jelek di semua tempat sekaligus (kotak-kotak dan warna belang), sementara resolusi lebih rendah dengan bitrate cukup menghasilkan gambar yang tetap bersih, cuma detailnya berkurang. Mata jauh lebih toleran terhadap kekurangan detail daripada terhadap artefak kompresi. Urutan yang masuk akal: pertama cocokkan resolusi dengan layar (1080p untuk HP dan laptop), kedua turunkan frame rate 60 fps ke 30 fps kalau bukan video olahraga atau gaming, ketiga baru naikkan angka RF sedikit demi sedikit sambil mengecek hasil uji.

Apakah mengubah .mov jadi .mp4 mengecilkan ukuran file?

Tidak, kalau yang kamu lakukan cuma ganti wadahnya. MOV dan MP4 adalah container - kotak yang membungkus aliran video dan audio. Memindahkan isi dari satu kotak ke kotak lain tanpa encode ulang (di FFmpeg: -c copy) menghasilkan ukuran yang praktis identik, cuma beda beberapa kilobita di bagian metadata. Yang menentukan ukuran adalah codec dan bitrate di dalamnya, bukan ekstensi filenya. Sebuah .mov dan .mp4 bisa sama-sama berisi H.264 dengan bitrate yang sama. Ganti container berguna untuk kompatibilitas pemutar, bukan untuk menghemat ruang. Kalau ukuran turun drastis setelah 'konversi', berarti aplikasinya diam-diam meng-encode ulang.

Aman tidak pakai situs kompres video online?

Untuk video yang tidak sensitif dan berukuran kecil, biasanya berjalan. Tapi ada tiga hal yang perlu disadari. Pertama privasi: kamu mengunggah rekaman ke server pihak ketiga yang kebijakan penyimpanannya tidak kamu kendalikan - jangan pernah unggah video keluarga, dokumen kerja, atau apa pun yang memuat wajah, alamat, dan data pribadi. Kedua kontrol: mayoritas situs cuma memberi pilihan kasar seperti 'low/medium/high' tanpa akses ke CRF atau codec, jadi hasilnya sering terlalu rusak atau terlalu besar. Ketiga waktu: mengunggah 2 GB lalu mengunduh hasilnya biasanya lebih lama daripada memproses lokal. HandBrake bekerja offline dan gratis, jadi alasan memakai layanan online tinggal soal kemalasan install.

Kenapa hasil kompresi malah lebih besar dari file aslinya?

Terjadi kalau sumbernya sudah lebih efisien daripada setelan tujuan kamu. Contoh paling umum: video HEVC dari HP baru yang kamu encode ulang ke H.264 dengan RF rendah. H.264 butuh kira-kira dua kali lipat bit untuk kualitas yang sama, dan RF rendah menyuruh encoder mempertahankan segalanya, jadi filenya membengkak. Penyebab lain: mengaktifkan encoder hardware (NVENC, QSV, VideoToolbox) yang boros bit, atau menaikkan frame rate dan resolusi di luar sumbernya. Cek dulu properti file asli - klik kanan lalu Properties atau Get Info - untuk tahu codec, resolusi, dan bitrate-nya. Kalau bitrate aslinya sudah di bawah 5 Mbps untuk 1080p, ruang penghematannya memang tinggal sedikit.

Berapa nilai CRF atau RF yang sebaiknya saya pakai?

Untuk H.264, mulai dari CRF 23 (nilai default x264) dan sesuaikan berdasarkan hasil uji, bukan berdasarkan angka yang dibaca di internet. Panduan kasarnya: CRF 18 mendekati sumber dan sulit dibedakan mata, CRF 20-23 untuk video yang mau disimpan dan dibagikan, CRF 24-26 untuk video HP yang ditonton sekali lewat, di atas CRF 28 mulai jelas rusak. Untuk H.265/x265, tambahkan 5-6 poin karena skalanya berbeda. Perlu diingat CRF bukan janji ukuran: video statis seperti presentasi bisa jadi sangat kecil di CRF 23, sementara rekaman konser dengan lampu berkedip di CRF 23 tetap besar. Itu bekerja sesuai desain.

Apakah H.265 selalu pilihan yang lebih baik daripada H.264?

Tidak selalu, dan pilihannya bergantung pada siapa yang akan menonton. H.265 memang menghasilkan file lebih kecil pada kualitas setara, tapi bayarannya nyata: encoding bisa dua sampai empat kali lebih lama, dan perangkat atau browser lama bisa gagal memutarnya sama sekali sehingga penerima cuma melihat layar hitam. Aturan praktisnya: pakai H.265 untuk arsip pribadi yang kamu putar di perangkat kamu sendiri, pakai H.264 untuk apa pun yang dikirim ke orang lain, di-upload ke platform, atau ditempel ke halaman web. AV1 lebih efisien lagi dari H.265, tapi dukungan pemutaran dan kecepatan encoding-nya masih lebih terbatas, jadi simpan sebagai opsi eksperimen.