Panduan Kita

Cara menulis bagian About LinkedIn yang menjual

Cara menulis bagian About LinkedIn yang menjual: kalimat pembuka kuat, bukti hasil, kata kunci yang dicari recruiter, dan ajakan kontak yang jelas.

Oleh Nadia Syarif 9 menit baca
Cara menulis bagian About LinkedIn yang menjual
(CC0 1.0) via rawpixel

Recruiter rata-rata hanya butuh beberapa detik untuk memutuskan apakah sebuah profil layak dibaca lebih jauh atau dilewati. Di LinkedIn, keputusan itu sering jatuh di bagian About, tepatnya di tiga baris pertama yang muncul sebelum tombol “lihat selengkapnya”. Kalau tiga baris itu lemah, sisa profil kamu yang sebenarnya bagus jarang sempat dibaca.

Masalahnya, sebagian besar bagian About diisi seperti formulir: jabatan, nama perusahaan, daftar tanggung jawab. Hasilnya terdengar sama dengan ribuan profil lain dan tidak meninggalkan kesan apa-apa. Padahal About adalah satu-satunya ruang di profil tempat kamu bisa bicara dengan suara sendiri, menjelaskan bukan cuma apa yang kamu kerjakan, tapi kenapa kamu layak dilirik.

Artikel ini membahas cara menyusun bagian About yang benar-benar menjual: membuat orang ingin membuka CV kamu, mengirim pesan, atau setidaknya menyimpan profil kamu. Bukan soal kata-kata mewah, tapi soal struktur yang jelas dan bukti yang konkret.

Kenapa tiga baris pertama menentukan segalanya

Saat seseorang membuka profil kamu, About tidak langsung tampil utuh. Hanya potongan awal, sekitar tiga baris di laptop dan lebih pendek lagi di aplikasi HP, yang terlihat sebelum mereka harus menekan “lihat selengkapnya”. Ini seperti etalase toko: kalau bagian depan tidak menarik, orang tidak masuk.

Banyak orang menghabiskan ruang berharga ini untuk basa-basi. “Selamat datang di profil saya” atau “Saya adalah pribadi yang pekerja keras dan suka tantangan” tidak memberi tahu pembaca apa pun yang berguna. Tiga baris pertama harus langsung menjawab pertanyaan di kepala recruiter: orang ini siapa, ahli di bidang apa, dan apa hasil terbaiknya.

Bandingkan dua pembuka ini. Yang pertama: “Saya orang yang bersemangat dan selalu ingin berkembang.” Yang kedua: “Akuntan pajak dengan 6 tahun pengalaman menangani pelaporan bulanan dan tahunan untuk perusahaan dagang dan jasa, dengan rekam jejak nol temuan saat audit.” Pembuka kedua langsung membuat recruiter yang mencari akuntan pajak berhenti dan membaca lebih jauh.

Bukti hasil mengalahkan daftar tugas

Daftar tanggung jawab adalah jebakan paling umum. “Mengelola media sosial”, “membuat laporan keuangan”, “menangani komplain pelanggan” tidak membedakan kamu dari siapa pun yang punya jabatan sama. Recruiter sudah tahu apa isi tugas tiap peran; yang ingin mereka tahu adalah seberapa baik kamu mengerjakannya.

Ubah tugas menjadi hasil. “Mengelola media sosial” jadi “menumbuhkan follower brand dari 5.000 ke 50.000 dalam setahun”. “Membuat laporan keuangan” jadi “merapikan proses tutup buku sehingga laporan bulanan selesai 5 hari lebih cepat”. Angka membuat klaim terasa nyata dan mudah dibayangkan.

Bagaimana kalau pekerjaan kamu sulit diukur dengan angka? Tidak semua peran punya metrik gampang. Untuk kasus seperti ini, pakai bukti kualitatif: proyek yang berhasil diluncurkan, masalah rumit yang kamu pecahkan, sistem yang kamu rapikan, atau pengakuan yang kamu terima. Inti prinsipnya tetap sama, tunjukkan dampak, bukan sekadar kehadiran.

Satu peringatan penting: jangan mengarang angka. Recruiter sering menggali pencapaian yang kamu tulis saat interview, dan klaim yang tidak bisa kamu jelaskan justru merusak kredibilitas. Tulis hanya hasil yang benar-benar bisa kamu pertanggungjawabkan.

Menyusun kata kunci agar profil ditemukan

LinkedIn pada dasarnya juga mesin pencari. Recruiter mengetik istilah di kolom pencarian, dan sistem menampilkan profil yang relevan. Kalau peran, keahlian, dan tools kamu tidak disebut di profil, kamu lebih sulit muncul, sebagus apa pun pengalaman kamu.

Cara menemukan kata kunci yang tepat sederhana: buka beberapa lowongan untuk peran yang kamu incar, lalu perhatikan istilah yang berulang di bagian kualifikasi. Biasanya itu nama peran, nama tools, dan keahlian inti. Daftar istilah ini adalah bahasa yang dipakai recruiter, jadi pakai bahasa yang sama.

Tapi jangan menumpuknya jadi daftar kaku yang merusak alur baca. Sisipkan kata kunci ke dalam kalimat yang mengalir. Daripada menulis “Skill: SEO, content writing, WordPress, Google Analytics” sebagai blok mati, tulis “Saya menulis artikel SEO yang dioptimasi dengan riset kata kunci, lalu memantau performanya lewat Google Analytics.” Istilah pentingnya tetap ada, tapi terbaca natural. Pembaca manusia selalu lebih penting daripada algoritma.

Nada bicara dan sisi manusia

About yang efektif terdengar seperti manusia, bukan robot. Pakai sudut pandang orang pertama dengan kata “saya”, karena terasa lebih hangat dan jujur dibanding menulis nama sendiri di orang ketiga. Bayangkan kamu menjelaskan diri ke kenalan baru, bukan menulis biografi resmi.

Setelah bagian bukti profesional, satu paragraf pendek soal apa yang menggerakkan kamu bisa membuat profil terasa hidup. Kenapa kamu memilih bidang ini, masalah apa yang ingin kamu pecahkan, atau prinsip kerja yang kamu pegang. Bagian ini membantu kamu diingat di antara puluhan profil yang terdengar identik. Cukup dua atau tiga kalimat, jangan sampai jadi curhat panjang.

Tetap jaga keseimbangan. Terlalu kaku membuat kamu terasa berjarak, terlalu santai bisa menurunkan kredibilitas. Nada yang pas adalah percaya diri tapi ramah, langsung ke inti tapi tidak dingin. Cara cepat mengeceknya: baca seluruh About dengan suara keras. Kalau terdengar seperti kamu yang sebenarnya bicara, kamu sudah di jalur yang benar.

Banyak bagian About bagus yang berakhir mengambang. Pembaca sudah tertarik, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Penutup yang kuat memberi tahu langkah berikutnya secara eksplisit: apa yang kamu cari dan bagaimana cara menghubungi kamu.

Sebutkan dengan jelas peran atau kesempatan yang kamu buka, lalu arahkan cara kontak. Misalnya “Saat ini saya terbuka untuk peran content strategist di perusahaan teknologi. Silakan kirim pesan lewat LinkedIn atau email ke alamat di bagian kontak profil ini.” Kalimat seperti ini mengubah ketertarikan pasif menjadi pesan yang benar-benar masuk.

Pastikan juga informasi kontak di profil kamu memang terisi dan benar. Tidak ada gunanya menulis “hubungi saya” kalau email atau tautan yang dimaksud kosong atau salah. Cek sekali lagi sebelum menganggap profil selesai.

Langkah terakhir sebelum menyimpan

Setelah draft jadi, jangan langsung tekan simpan. Baca ulang dari awal dan pangkas semua yang tidak perlu. Buang kata sifat kosong seperti “sangat berdedikasi” yang tidak didukung bukti, perbaiki kalimat bertele-tele, dan periksa typo. Salah ketik di About langsung menurunkan kesan teliti, apalagi untuk peran yang menuntut ketelitian.

Lalu minta satu atau dua teman seprofesi membacanya. Tanyakan satu hal sederhana: setelah membaca tiga baris pertama, apakah mereka langsung paham kamu siapa dan apa kekuatan kamu? Kalau jawabannya ragu, sederhanakan lagi. Pandangan orang lain sering menangkap kebingungan yang tidak kamu sadari.

Terakhir, cek tampilannya di aplikasi HP, bukan cuma di laptop. Sebagian besar recruiter membuka LinkedIn lewat ponsel, dan potongan yang terlihat di layar kecil lebih pendek. Pastikan pesan utama kamu tetap menonjol di tampilan ringkas itu.

Bagian About hanyalah satu potongan dari profil yang kuat. Setelah ini rapi, lanjutkan dengan mengoptimasi seluruh profil LinkedIn agar dilirik recruiter, lalu pastikan dokumen pendukungnya selaras dengan CV yang dilirik HRD.

Langkah-langkahnya

  1. Kumpulkan bahan sebelum mulai mengetik

    Jangan langsung menulis di kolom About. Buka catatan kosong dulu dan tulis tiga hal: peran yang kamu incar, dua atau tiga pencapaian dengan angka (misalnya berapa persen penjualan naik, berapa proyek selesai, berapa tim yang kamu pimpin), dan kata-kata yang biasa diketik recruiter saat mencari orang seperti kamu. Buka lowongan yang kamu mau, catat istilah yang berulang di bagian kualifikasi. Bahan ini yang membuat About kamu spesifik, bukan template generik yang sama dengan ribuan profil lain.

  2. Tulis tiga baris pembuka yang berdiri sendiri

    Di tampilan profil, hanya sekitar tiga baris pertama About yang muncul sebelum tombol 'lihat selengkapnya'. Banyak orang menyia-nyiakan ruang ini dengan kalimat klise seperti 'Saya seorang yang pekerja keras'. Ganti dengan satu kalimat yang menyatakan siapa kamu dan nilai kamu: peran, bidang, dan satu hasil paling kuat. Contoh: 'Digital marketer dengan 5 tahun fokus di performance ads yang pernah menurunkan biaya akuisisi pelanggan sampai 40 persen.' Pastikan tiga baris ini sudah cukup membuat orang ingin menekan 'lihat selengkapnya'.

  3. Pakai sudut pandang orang pertama

    Tulis 'saya', bukan 'beliau' atau nama kamu sendiri di orang ketiga. About LinkedIn adalah ruang bicara langsung, dan orang pertama terdengar lebih hangat dan jujur. Bayangkan kamu menjelaskan diri ke kenalan baru di acara networking, bukan menulis bio di belakang buku. Hindari nada terlalu kaku seperti surat lamaran formal, tapi juga jangan terlalu santai sampai kehilangan kredibilitas. Nada yang pas: percaya diri, ramah, dan to the point. Baca ulang dengan suara keras untuk mengecek apakah terdengar seperti kamu yang sebenarnya.

  4. Ganti daftar tugas dengan bukti hasil

    Recruiter sudah tahu tugas umum tiap peran. Yang membedakan kamu adalah hasil. Daripada menulis 'bertanggung jawab atas media sosial perusahaan', tulis 'menumbuhkan follower Instagram brand dari 5.000 ke 50.000 dalam setahun lewat konten organik'. Pilih dua atau tiga pencapaian, masing-masing dengan konteks dan angka jika ada. Kalau pekerjaan kamu sulit diukur dengan angka, pakai bukti kualitatif: proyek yang diluncurkan, masalah yang dipecahkan, atau pengakuan yang diterima. Hindari mengarang angka; recruiter sering mengecek ulang saat interview.

  5. Sisipkan kata kunci secara natural

    LinkedIn punya kolom pencarian, dan recruiter mengetik kata kunci untuk menyaring kandidat. Kalau peran dan tools kamu tidak disebut, profil kamu lebih sulit muncul. Sisipkan nama peran (misalnya 'UI designer', 'akuntan pajak'), tools (misalnya Figma, Excel, SAP), dan keahlian inti di dalam kalimat yang mengalir, bukan ditumpuk jadi daftar kaku. Jangan memaksakan kata kunci sampai kalimat terasa janggal; mesin pembaca manusia tetap nomor satu. Cukup pastikan istilah penting muncul wajar satu sampai dua kali di sepanjang teks.

  6. Tambahkan sedikit sisi manusia kamu

    Setelah bukti profesional, satu paragraf pendek soal apa yang menggerakkan kamu membuat profil terasa hidup. Kenapa kamu suka bidang ini, masalah apa yang ingin kamu pecahkan, atau prinsip kerja kamu. Ini bukan tempat curhat panjang, cukup dua sampai tiga kalimat. Bagian ini membantu orang mengingat kamu di antara banyak profil yang terdengar sama. Hati-hati jangan berlebihan dengan hal pribadi yang tidak relevan dengan kerja. Tujuannya menunjukkan kamu manusia yang menyenangkan diajak kerja, bukan robot daftar skill.

  7. Tutup dengan ajakan kontak yang jelas

    Akhiri About dengan memberi tahu pembaca apa langkah berikutnya. Sebutkan apa yang kamu cari (peran baru, kolaborasi, klien) dan cara menghubungi kamu. Contoh: 'Saya terbuka untuk peran content strategist. Boleh kirim pesan lewat LinkedIn atau email ke alamat di bagian kontak.' Pastikan informasi kontak di profil memang terisi dan benar. Banyak About bagus yang berakhir mengambang tanpa ajakan, jadi pembaca tertarik tapi tidak tahu harus apa. Satu kalimat penutup yang jelas mengubah ketertarikan jadi pesan masuk.

  8. Baca ulang, pangkas, dan minta pendapat

    Sebelum simpan, baca seluruh teks dari awal. Pangkas kalimat yang bertele-tele dan buang kata sifat kosong seperti 'sangat berdedikasi' yang tidak punya bukti. Cek typo dan konsistensi, karena salah ketik di About menurunkan kesan teliti. Idealnya minta satu atau dua teman seprofesi membacanya dan bertanya apakah mereka langsung paham kamu siapa dan apa kekuatan kamu. Jika mereka bingung, sederhanakan. Terakhir, simpan dan cek tampilan di aplikasi HP, karena tampilan ringkas di ponsel berbeda dari layar laptop.

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa panjang ideal bagian About LinkedIn?

LinkedIn memberi ruang sekitar 2.600 karakter untuk bagian About, tapi kamu tidak harus mengisinya penuh. Yang penting bukan panjang, tapi padat. Banyak profil kuat hanya memakai tiga sampai lima paragraf pendek. Pastikan tiga baris pertama sudah menjual karena hanya itu yang muncul sebelum tombol 'lihat selengkapnya'. Kalau kamu punya banyak pencapaian, pilih yang paling relevan dengan peran yang diincar, bukan semua. Lebih baik ringkas dan tajam daripada panjang tapi membuat pembaca berhenti di tengah.

Apakah About lebih baik pakai 'saya' atau orang ketiga?

Untuk kebanyakan orang, sudut pandang orang pertama dengan kata 'saya' terasa lebih hangat dan jujur, dan itu yang umum dipakai di LinkedIn. Orang ketiga (menyebut nama sendiri seolah ditulis orang lain) kadang dipakai eksekutif senior atau tokoh publik agar terdengar formal, tapi untuk pencari kerja biasa justru terasa kaku dan berjarak. Kalau ragu, pilih orang pertama. Yang penting konsisten di sepanjang teks, jangan campur 'saya' di awal lalu pindah ke nama sendiri di tengah.

Bagaimana kalau saya fresh graduate dan belum punya pencapaian kerja?

Kamu tetap punya bahan. Ganti pencapaian kerja dengan proyek kuliah, magang, organisasi, atau karya pribadi. Misalnya 'memimpin tim 8 orang di proyek akhir yang memenangkan kompetisi kampus' atau 'membangun portofolio 15 desain yang bisa dilihat di tautan profil'. Sebutkan keahlian dan tools yang sudah kamu kuasai, lalu nyatakan dengan jujur peran yang kamu cari. Antusiasme dan arah yang jelas justru sering lebih menarik buat recruiter entry level daripada daftar tugas yang dibuat-buat. Untuk panduan lebih dalam, lihat artikel kami soal CV tanpa pengalaman kerja.

Kata kunci apa yang sebaiknya saya masukkan?

Pakai istilah yang akan diketik recruiter saat mencari orang seperti kamu. Cara termudah: buka beberapa lowongan untuk peran yang kamu incar, lalu catat kata yang berulang di bagian kualifikasi dan deskripsi. Biasanya itu nama peran (misalnya 'data analyst'), tools (misalnya SQL, Tableau, Canva), dan keahlian inti. Sisipkan kata-kata ini di dalam kalimat yang mengalir, bukan ditumpuk jadi daftar kaku di bawah. Sebutkan istilah penting cukup satu sampai dua kali secara wajar, karena yang tetap nomor satu adalah pembaca manusia.

Apakah perlu menulis ulang About setiap ganti target karir?

Ya, sebaiknya disesuaikan. About bukan rangkuman seluruh hidup, tapi alat untuk satu tujuan: meyakinkan orang untuk peran tertentu. Kalau kamu pindah fokus, misalnya dari marketing umum ke spesialis SEO, sesuaikan kalimat pembuka, pencapaian yang ditonjolkan, dan kata kunci. Kamu tidak perlu menulis total dari nol tiap kali, cukup geser penekanannya. Tinjau ulang About setiap beberapa bulan atau saat kamu mulai mengincar peran baru, supaya selalu relevan dengan apa yang sedang kamu cari sekarang.

Frasa apa yang sebaiknya dihindari di bagian About?

Hindari kata sifat kosong yang dipakai semua orang tanpa bukti, seperti 'pekerja keras', 'detail', 'berdedikasi tinggi', atau 'team player'. Sendirian, frasa ini tidak meyakinkan karena tidak ada yang menulis 'saya pemalas'. Kalau mau menyebut sifat itu, buktikan lewat contoh, bukan klaim. Hindari juga kalimat klise seperti membuka dengan 'Selamat datang di profil saya'. Buang istilah yang tidak jelas artinya dan jargon berlebihan. Ganti semua itu dengan hasil konkret, angka jika ada, dan bahasa yang langsung ke inti.

Apakah foto dan headline juga memengaruhi kesan dari About?

Sangat memengaruhi. Saat recruiter membuka profil, mereka melihat foto, nama, headline, lalu About hampir bersamaan. Foto profil yang rapi dan headline yang jelas membuat orang lebih serius membaca About kamu. Headline bukan sekadar jabatan, tapi bisa berisi peran plus nilai tambah, misalnya 'Content Writer | Bantu brand B2B naik trafik lewat artikel SEO'. Jadi sambil memperbaiki About, perbarui juga foto dan headline agar pesannya satu napas. Profil yang konsisten dari atas ke bawah terasa lebih meyakinkan daripada bagian yang bagus sendiri-sendiri.