Panduan Kita

Cara menghadapi anak yang suka memukul

Anak yang suka memukul bukan tanda nakal, tapi cara meluapkan emosi yang belum bisa ia ungkapkan. Panduan menghentikannya dengan tenang tanpa balas memukul.

Oleh Maya Anggraini 10 menit baca
Cara menghadapi anak yang suka memukul
Foto: U.S. Department of Agriculture (CC0 1.0) via rawpixel

Anakmu sedang asyik bermain dengan sepupunya. Detik berikutnya, tanpa aba-aba, tangan kecilnya mengayun dan mendarat di lengan sang sepupu. Tangis pecah, dan kamu buru-buru datang dengan wajah memanas, terjebak antara marah, malu, dan cemas. “Kenapa sih anak ini suka sekali memukul?” Pertanyaan itu berputar di kepala banyak orang tua, sering diikuti kekhawatiran bahwa ada yang salah pada anak atau pada cara mendidiknya.

Kabar yang menenangkan: memukul adalah perilaku yang sangat umum pada anak kecil, dan hampir selalu merupakan tahap yang bisa dilewati, bukan cacat karakter. Yang menentukan arahnya bukan seberapa sering anak memukul hari ini, tapi bagaimana orang dewasa di sekitarnya merespons secara konsisten. Panduan ini membahas kenapa anak memukul dan apa yang bisa kamu lakukan, baik saat pukulan sedang terjadi maupun untuk mencegahnya di kemudian hari.

Kenapa anak kecil memukul

Untuk merespons dengan tepat, kamu perlu paham dulu apa yang mendorong seorang anak mengayunkan tangan. Otak manusia berkembang dari bagian paling dasar lebih dulu. Bagian yang mengatur emosi dan reaksi cepat sudah aktif sejak dini, sementara bagian depan otak yang bertugas menahan dorongan, berpikir tenang, dan mencari kata-kata baru matang perlahan sepanjang masa kanak-kanak. Artinya, saat anak batita merasa marah atau kecewa, dorongan itu datang jauh lebih cepat daripada kemampuannya menahan atau mengungkapkannya.

Memukul sering kali adalah bahasa darurat. Anak yang belum lancar bicara memakai tubuhnya untuk menyampaikan apa yang tidak bisa dia katakan: “mainan itu punyaku”, “aku tidak mau berhenti”, “aku kesal”. Makin lebar jarak antara apa yang anak inginkan dan apa yang mampu dia ucapkan, makin besar peluang tangan yang bicara lebih dulu.

Ada juga sisi eksperimen. Anak kecil sedang belajar sebab-akibat, dan memukul menghasilkan reaksi yang cepat dan besar: ada yang menangis, ada orang dewasa yang buru-buru datang. Bagi otak yang sedang memetakan dunia, itu informasi menarik, bukan kejahatan yang direncanakan. Sebagian anak juga memukul saat kewalahan oleh terlalu banyak rangsangan, saat lelah, atau saat meniru sesuatu yang dia lihat sekilas. Memahami ini menggeser cara kamu melihat: anak yang memukul bukan sedang jahat, dia sedang kekurangan cara yang lebih baik yang memang belum dia miliki.

Kenapa membalas atau membentak justru memperkuat

Saat tangan kecil itu mendarat, naluri banyak orang tua adalah membalas setimpal: mencubit, menepuk tangannya keras, atau meninggikan suara sambil berkata “Nakal!”. Rasanya seperti pelajaran cepat supaya anak jera. Sayangnya, cara ini hampir selalu bekerja berlawanan dengan yang kamu harapkan.

Anak belajar paling banyak dari meniru, bukan dari ceramah. Kalau kamu memukul untuk menghukum memukul, pesan yang sampai bukan “memukul itu salah”, melainkan “orang yang lebih besar dan lebih marah boleh memukul”. Kamu tanpa sengaja memberi contoh perilaku yang justru ingin kamu hentikan. Selain itu, hukuman fisik dan bentakan menambah rasa takut. Anak yang takut tidak menjadi lebih pandai mengendalikan diri; dia hanya belajar bahwa kehilangan kendali itu berbahaya, dan rasa terancam sering memicu lebih banyak agresi, bukan lebih sedikit.

Melabeli anak juga meninggalkan bekas. Sebutan seperti “tukang pukul” atau “anak nakal” gampang menempel dan pelan-pelan membentuk cara anak melihat dirinya sendiri. Anak yang berulang kali disebut nakal bisa mulai percaya bahwa memang itulah dirinya, dan berhenti berusaha menjadi lain. Jauh lebih membangun kalau kamu memisahkan anak dari perbuatannya: kamu menolak pukulannya, tapi tetap menerima dirinya. “Aku tahu kamu marah, dan aku tetap sayang kamu. Tapi memukul tidak boleh.” Kalimat seperti ini menjaga hubungan tetap utuh sambil batasnya tetap tegas.

Menghentikan pukulan tanpa drama

Saat pukulan sedang terjadi, tujuanmu bukan menghukum, tapi menghentikan dan mengamankan. Langkah pertama selalu fisik: tahan tangan yang mengayun dengan lembut tapi tegas, atau sisipkan tubuhmu di antara anak dan orang yang dipukul. Kalau ada adik bayi atau anak lain yang jadi sasaran, dahulukan melindungi mereka, dan jangan tinggalkan siapa pun tanpa pengawasan saat kamu sibuk menangani si pemukul.

Setelah tangannya berhenti, turunkan badanmu sampai sejajar dengan matanya. Berdiri menjulang membuat anak merasa terancam dan makin defensif. Dari posisi sejajar, sampaikan batas dengan kalimat yang pendek, tenang, dan sama setiap kali: “Memukul itu sakit. Tidak boleh memukul.” Tahan keinginan untuk menjelaskan panjang lebar atau menuntut alasan saat dia masih tegang, karena otaknya sedang tidak sanggup memproses kata-kata banyak. Satu atau dua kalimat yang jelas jauh lebih mendarat daripada khotbah.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga dirimu tetap tenang. Anak menyerap ketenangan atau kepanikan orang dewasa terdekatnya. Kalau kamu ikut meledak, tubuhnya menangkap sinyal bahwa keadaan memang gawat, dan situasi makin panas. Ambil satu tarikan napas panjang sebelum bicara. Ini bukan berarti kamu harus jadi sempurna dan tidak pernah kelepasan; semua orang tua pernah. Tapi ketenanganmu, bahkan yang kamu perjuangkan dengan susah payah, adalah pelajaran hidup tentang cara menghadapi marah tanpa tangan.

Dari tangan ke kata: mengajarkan cara lain

Menghentikan pukulan hanya setengah pekerjaan. Setengah lainnya, yang justru paling membentuk, adalah mengajari anak apa yang boleh dia lakukan dengan marahnya. Anak yang hanya mendengar deretan larangan tanpa alternatif akan kembali ke satu-satunya cara yang dia tahu, yaitu tangannya.

Mulailah dengan menamai perasaan. Saat kamu berkata “Kamu marah karena mainannya diambil ya”, kamu sedang meminjamkan kata untuk sesuatu yang belum bisa anak sebut sendiri. Ini bukan membenarkan pukulan, tapi menunjukkan kamu mengerti, dan anak yang merasa dipahami lebih cepat reda. Diulang dari hari ke hari, penamaan ini pelan-pelan membangun kosakata emosi, sampai suatu saat anak bisa berkata “aku marah” alih-alih mengayun.

Lalu tawarkan pengganti yang konkret dan bisa langsung dia lakukan: “Kalau marah, bilang stop”, “Boleh hentakkan kaki”, “Boleh remas bantal ini”. Untuk anak yang belum lancar bicara, satu kata atau isyarat sederhana untuk “tidak” sudah sangat membantu. Tunjukkan caranya, jangan hanya diberitahu, dan latih di saat tenang, bukan hanya saat konflik memuncak. Terakhir, perhatikan momen ketika dia berhasil memakai kata alih-alih tangan, sekecil apa pun, dan akui dengan hangat: “Tadi kamu bilang, tidak memukul. Bagus sekali.” Anak mengulang perilaku yang mendapat perhatian positif. Memuji cara yang benar jauh lebih ampuh daripada terus-menerus menghukum cara yang salah.

Mencegah dengan mengenali pemicu

Cara paling ringan menghadapi memukul adalah mencegahnya terjadi. Sebagian besar ledakan agresi anak kecil bukan datang dari niat jahat, tapi dari kebutuhan tubuh yang tidak terpenuhi. Empat pemicu paling umum adalah lapar, mengantuk, kepanasan atau tidak nyaman, dan kelelahan setelah terlalu banyak rangsangan. Anak yang lelah dan lapar punya sumbu yang jauh lebih pendek, dan tangan lebih cepat terayun.

Coba perhatikan pola. Kalau memukul sering muncul menjelang jam tidur siang, sebelum makan, atau di akhir hari yang padat, itu petunjuk kuat bahwa penyebabnya bukan “anak susah diatur”, melainkan tubuh yang kehabisan tenaga. Menjaga jadwal makan dan tidur yang cukup teratur diam-diam mencegah banyak konflik sebelum sempat terjadi. Begitu pula menyederhanakan hari yang terlalu ramai dan memberi anak banyak kesempatan bergerak.

Pemicu sosial juga perlu diwaspadai. Rebutan mainan, menunggu giliran, dan perpindahan mendadak dari kegiatan yang menyenangkan adalah situasi klasik yang memancing pukulan. Di saat-saat seperti ini, kehadiran orang dewasa yang dekat sangat menolong: kamu bisa menengahi sebelum tangan terayun, menyiapkan mainan cadangan, atau memberi peringatan lembut seperti “Lima menit lagi kita pulang ya” supaya anak sempat bersiap. Menawarkan pilihan kecil yang terkendali, misalnya “Mau gantian sekarang atau setelah lagu ini?”, memberi anak rasa memegang kendali tanpa membuka perdebatan tanpa ujung. Mendampingi lebih dekat saat kamu tahu situasinya rawan hampir selalu lebih ringan daripada memadamkan konflik yang sudah menyala.

Kapan perlu bantuan tenaga kesehatan

Sebagian besar memukul adalah bagian normal dari tumbuh kembang dan akan berkurang sendiri seiring anak makin pandai berkata-kata. Tiap anak berbeda dalam kecepatan belajarnya, jadi tidak ada satu jadwal baku yang berlaku untuk semua. Meski begitu, ada situasi ketika berkonsultasi ke tenaga kesehatan adalah langkah bijak.

Perhatikan kalau memukul sangat sering dan justru makin keras seiring bertambahnya usia, kalau anak sampai melukai diri sendiri atau orang lain secara serius, atau kalau agresi tidak juga mereda saat anak sudah masuk usia sekolah. Perhatikan pula bila agresi disertai perubahan lain yang mengkhawatirkan pada bicara, tidur, atau cara anak berhubungan dengan orang di sekitarnya. Dalam kondisi seperti ini, temui dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan di Posyandu. Menemui mereka bukan tanda kamu gagal, justru sebaliknya, kamu sedang memastikan tidak ada hal lain yang terlewat dan mendapat saran yang sesuai dengan kondisi anakmu.

Jangan lupa merawat dirimu sendiri. Mendampingi anak yang berulang kali memukul menguras tenaga dan kesabaran, apalagi kalau kamu juga kurang tidur atau sedang banyak beban. Kalau rasa sedih, cemas, atau putus asa terasa berat dan menetap, apalagi di masa setelah melahirkan, bicarakan dengan orang terdekat dan tenaga kesehatan. Untuk dukungan kesehatan jiwa, ada layanan SEJIWA Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8. Kamu berhak dibantu, sama seperti anakmu.

Menghadapi anak yang suka memukul, pada akhirnya, bukan soal menemukan hukuman yang cukup keras untuk membuatnya jera. Ini soal menghentikan dengan tenang, menjaga batas dengan konsisten, dan pelan-pelan mengajari anak cara baru untuk marah yang tidak menyakiti siapa pun. Kamu tidak perlu sempurna. Anak tidak butuh orang tua yang tidak pernah lelah, dia butuh orang tua yang mau kembali tenang dan menyambungkan diri lagi setelah keadaan sulit.

Karena memukul sering lahir dari emosi yang meluap, prinsipnya berdekatan dengan menenangkan ledakan lain; lihat panduan kami tentang cara menenangkan anak yang tantrum. Dan untuk membantu anak melewati rebutan mainan yang kerap memicu pukulan, cara mengajarkan anak berbagi bisa jadi langkah pencegahan yang baik. Untuk artikel lain seputar merawat dan mendampingi anak, jelajahi kategori Parenting & Anak.

Langkah-langkahnya

  1. Hentikan tangannya dengan tenang dan lindungi yang dipukul

    Hentikan tangan anak dengan lembut tapi tegas begitu dia mengayun. Tahan pergelangannya atau sisipkan tubuhmu di antara dia dan orang yang dipukul, lalu jauhkan dengan tenang. Prioritas pertama selalu melindungi pihak yang bisa terluka, entah adik, teman, atau kamu sendiri. Lakukan tanpa menyakiti dan tanpa mencengkeram keras. Kalau dia memukul kakak atau temannya, dampingi juga anak yang dipukul supaya dia merasa dilindungi. Jangan tinggalkan bayi atau anak lain sendirian tanpa pengawasan saat kamu menangani si pemukul. Menghentikan tangan lebih dulu, sebelum bicara apa pun, mengirim pesan jelas bahwa memukul akan selalu dihentikan, bukan dibiarkan berlanjut sampai ada yang menangis.

  2. Turun sejajar matanya dan beri pesan pendek yang jelas

    Setelah tangannya berhenti, jongkok atau duduk sampai matamu sejajar dengan matanya. Beri pesan yang pendek, tenang, dan jelas: 'Memukul itu sakit. Tidak boleh memukul.' Cukup satu atau dua kalimat. Saat anak sedang tegang, ceramah panjang tidak masuk; yang tertangkap hanya nada tinggi. Gunakan suara yang mantap tapi tidak berteriak. Aturan yang sama, diucapkan dengan kalimat yang sama setiap kali, lebih mudah dipahami anak kecil daripada penjelasan yang berbeda-beda. Hindari bertanya 'kenapa kamu mukul?' saat dia masih emosi, karena dia sendiri sering belum tahu jawabannya. Nyatakan batasnya dulu dengan singkat, penjelasan bisa menyusul setelah dia lebih tenang.

  3. Tenangkan dirimu, jangan balas memukul atau membentak

    Naluri untuk membalas, mencubit, atau membentak balik sangat manusiawi, tapi justru mengajarkan hal yang ingin kamu hentikan. Anak belajar paling banyak dari meniru; kalau kamu memukul untuk menghukum memukul, dia menyimpulkan bahwa yang lebih besar boleh memukul yang lebih kecil. Tarik napas panjang lebih dulu. Longgarkan rahang dan bahu. Ingatkan diri bahwa ini bukan perlawanan pribadi terhadapmu, melainkan luapan yang belum bisa dia kendalikan. Ketenanganmu adalah contoh hidup tentang cara menghadapi marah tanpa tangan. Kalau kamu merasa akan meledak, pastikan semua anak aman lebih dulu, lalu beri dirimu jeda sejenak untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan.

  4. Akui perasaan yang ada di balik pukulan

    Di balik hampir setiap pukulan ada perasaan yang belum bisa diucapkan: marah, kecewa, cemburu, atau kewalahan. Bantu anak menamainya dengan kalimat pendek: 'Kamu marah karena mainannya diambil ya', 'Kamu kesal harus berhenti main'. Ini bukan membenarkan pukulannya, tapi menunjukkan kamu mengerti apa yang dia rasakan. Anak yang merasa dipahami lebih cepat reda dan lebih mudah diajak belajar. Menamai emosi berulang kali, dari hari ke hari, pelan-pelan memberi anak kosakata untuk perasaannya, sehingga suatu saat dia bisa berkata 'aku marah' alih-alih mengayunkan tangan. Lakukan dengan nada tenang, bukan seperti sedang menginterogasi atau memojokkannya.

  5. Ajarkan dan tunjukkan cara lain meluapkan marah

    Anak perlu tahu apa yang boleh dia lakukan dengan marahnya, bukan hanya apa yang dilarang. Tawarkan pengganti yang konkret: 'Kalau marah, kamu bisa bilang stop', 'Boleh hentakkan kaki', 'Boleh remas bantal ini'. Untuk anak yang belum lancar bicara, ajari satu kata atau isyarat sederhana untuk 'aku tidak suka'. Tunjukkan langsung, jangan hanya diberitahu. Saat dia berhasil memakai kata alih-alih tangan, walau kecil, akui dengan hangat: 'Tadi kamu bilang, tidak memukul. Bagus sekali.' Pujian atas cara yang benar jauh lebih membentuk daripada hukuman atas cara yang salah. Ulangi latihan ini di saat tenang, bukan hanya saat konflik sedang terjadi.

  6. Tetap konsisten dengan batas, tanpa hukuman keras

    Batas yang jelas dan konsisten justru membuat anak merasa aman, karena dunia jadi bisa ditebak. Kalau memukul kadang dibiarkan dan kadang dimarahi keras, anak jadi bingung dan mencoba lagi untuk menguji. Tetapkan konsekuensi yang tenang dan wajar: kalau dia memukul saat bermain bersama, ajak dia menepi sebentar dari permainan untuk menenangkan diri, lalu kembali setelah tenang. Ini bukan hukuman yang mempermalukan, tapi jeda yang membantunya mengatur diri. Hindari hukuman fisik, membentak, atau melabeli anak 'nakal' dan 'tukang pukul', karena label menempel dan membentuk cara dia melihat dirinya. Sampaikan bahwa kamu menolak perbuatannya, bukan menolak dirinya.

  7. Sambungkan kembali dengan hangat setelah tenang

    Begitu anak tenang, dekati dengan hangat. Ini bukan saat menceramahi panjang atau memaksanya minta maaf berkali-kali sampai malu. Sambungkan kembali: duduk berdampingan, tawarkan pelukan kalau dia mau. Ulangi pelajaran dengan singkat dan lembut: 'Tadi kamu marah, itu tidak apa-apa. Tapi memukul bikin sakit. Lain kali bilang saja ya.' Kalau ada teman atau adik yang dipukul, bantu anak memperbaiki keadaan dengan cara yang sesuai usianya, misalnya mengambilkan mainan atau mengusap bagian yang sakit, bukan sekadar mengucap 'maaf' hafalan. Momen sambungan setelah konflik inilah yang mengajarkan bahwa hubungan bisa diperbaiki, dan bahwa dia tetap dicintai meski tadi berbuat salah.

  8. Kenali dan cegah pemicunya

    Banyak episode memukul bisa dicegah dengan mengenali pemicunya. Anak kecil paling mudah kehilangan kendali saat lapar, mengantuk, kepanasan, atau kelelahan setelah terlalu banyak rangsangan. Perhatikan juga situasi yang sering memicu, seperti rebutan mainan, giliran yang harus ditunggu, atau perpindahan mendadak dari kegiatan yang menyenangkan. Kalau kamu tahu pola ini, kamu bisa mendahului: jaga jadwal makan dan tidur, siapkan mainan cadangan saat bermain bersama, dan beri peringatan sebelum berganti kegiatan. Dampingi lebih dekat saat kamu tahu situasinya rawan, sehingga kamu bisa menengahi sebelum tangan terayun. Mencegah lewat rutinitas dan pengawasan jauh lebih ringan daripada memadamkan konflik yang sudah terjadi.

Pertanyaan yang sering ditanya

Kenapa anak saya suka memukul padahal di rumah tidak pernah diajari begitu?

Memukul tidak selalu ditiru dari rumah. Pada anak batita, memukul sering muncul begitu saja sebagai luapan paling mentah dari emosi yang belum bisa dia ungkapkan dengan kata. Otaknya sedang dalam tahap ketika keinginan dan perasaan sudah kuat, tapi kemampuan menahan dorongan dan berkata-kata belum matang. Anak juga sedang belajar sebab-akibat: dia memukul, lalu memperhatikan apa yang terjadi. Sebagian meniru dari teman bermain, tontonan, atau kejadian yang dia lihat sekilas. Jadi kamu tidak perlu merasa gagal mendidik. Yang paling menentukan bukan kenapa dia mulai, tapi bagaimana kamu meresponsnya secara tenang dan konsisten dari waktu ke waktu.

Bolehkah saya memukul balik supaya dia tahu rasanya sakit?

Sebaiknya tidak. Memukul balik memang terasa seperti pelajaran cepat, tapi yang sebenarnya dipelajari anak adalah bahwa orang yang lebih besar dan lebih kuat boleh memukul yang lebih kecil. Itu justru memperkuat perilaku yang ingin kamu hentikan, sekaligus menambah rasa takut dan bingung. Anak kecil belum bisa menghubungkan 'aku dipukul karena tadi aku memukul' seperti yang kamu harapkan; yang dia rasakan hanya sakit dan takut dari orang yang seharusnya melindunginya. Cara yang lebih membentuk adalah menghentikan tangannya dengan tenang, menyatakan batas dengan jelas, dan mengajari cara lain meluapkan marah. Contoh dari sikapmu yang tenang jauh lebih kuat daripada rasa sakit.

Anak saya memukul saat rebutan mainan dengan temannya. Apa yang harus saya lakukan saat itu juga?

Hentikan lebih dulu: sisipkan dirimu di antara keduanya dan tahan tangan yang mengayun dengan tenang, lalu pastikan anak yang dipukul baik-baik saja. Setelah itu, turun sejajar mata si pemukul dan sebutkan batasnya singkat: 'Memukul bikin sakit. Kalau mau mainannya, bilang.' Bantu dia menamai perasaannya: 'Kamu mau mainan itu ya.' Lalu tunjukkan cara bergiliran, misalnya dengan menghitung bersama atau menyiapkan mainan lain. Untuk anak yang masih kecil, rebutan seperti ini wajar dan butuh pendampingan orang dewasa yang dekat, bukan dibiarkan diselesaikan sendiri. Kalau kamu tahu anak sedang lelah atau lapar, pertimbangkan mengakhiri sesi bermain sebelum konfliknya berulang.

Sampai usia berapa memukul masih dianggap wajar?

Memukul, mendorong, dan menggigit paling sering muncul pada rentang usia sekitar satu sampai tiga tahun, ketika keinginan anak tumbuh lebih cepat daripada kemampuannya berkata-kata. Seiring bahasanya berkembang dan otaknya makin matang, perilaku ini biasanya berkurang dengan sendirinya. Tapi tiap anak berbeda; ada yang berhenti lebih cepat, ada yang butuh waktu lebih lama, dan itu masih dalam rentang normal. Yang lebih penting daripada umur adalah arahnya: apakah frekuensinya menurun seiring waktu dan anak mulai bisa memakai kata. Kalau memukul justru makin sering atau makin keras saat anak bertambah besar, atau tidak juga reda di usia sekolah, ada baiknya berkonsultasi ke dokter anak.

Kapan saya perlu membawa anak ke dokter atau tenaga kesehatan?

Sebagian besar memukul adalah bagian normal dari tumbuh kembang dan mereda sendiri. Tapi ada tanda yang sebaiknya diperiksakan: memukul yang sangat sering dan makin keras seiring usia, sampai melukai diri sendiri atau orang lain secara serius, atau tidak juga berkurang saat anak sudah masuk usia sekolah. Perhatikan juga kalau agresi disertai perubahan lain yang mengkhawatirkan pada bicara, tidur, atau cara anak berhubungan dengan orang lain. Dalam situasi ini, temui dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan di Posyandu. Ini bukan tanda kamu gagal, melainkan cara memastikan tidak ada hal lain yang terlewat dan mendapat saran yang sesuai dengan kondisi anakmu.

Saya sering kehilangan kesabaran menghadapi anak yang memukul. Bagaimana?

Ini sangat manusiawi. Menghadapi anak yang berulang kali memukul menguras tenaga dan kesabaran, apalagi kalau kamu juga kurang tidur atau sedang banyak beban. Kalau kamu merasa akan meledak, pastikan anak aman lebih dulu, lalu beri dirimu jeda sebentar: tarik napas, minum air, atau minta pasangan bergantian kalau ada. Tidak apa-apa mengakui bahwa kamu juga lelah dan butuh dukungan. Rawat dirimu, karena kamu tidak bisa menuang dari cangkir yang kosong. Kalau rasa sedih, cemas, atau putus asa terasa berat dan menetap, apalagi setelah melahirkan, bicarakan dengan tenaga kesehatan. Kamu juga bisa menghubungi layanan kesehatan jiwa SEJIWA Kemenkes di 119 ekstensi 8.