Panduan Kita

Cara menyusui bayi dengan posisi yang benar

Posisi menyusui yang benar membuat pelekatan dalam, mengurangi puting lecet, dan bayi lebih kenyang. Pelajari empat posisi dan tanda pelekatan yang tepat.

Oleh Maya Anggraini 9 menit baca
Cara menyusui bayi dengan posisi yang benar
(CC0 1.0) via rawpixel

Menyusui sering digambarkan sebagai naluri yang otomatis bisa, padahal kenyataannya banyak ibu baru membutuhkan beberapa hari untuk menemukan posisi yang pas. Bayi memang lahir dengan refleks mencari dan mengisap, tetapi cara kamu menggendong dan melekatkannya sangat menentukan apakah proses ini terasa lancar atau justru menyakitkan. Kabar baiknya, posisi dan pelekatan adalah keterampilan yang bisa dipelajari, bukan bakat yang kamu miliki sejak awal atau tidak sama sekali.

Ketika posisinya benar, bayi mengisap dengan efektif, ASI mengalir lancar, dan puting tidak lecet. Ketika posisinya keliru, bayi cepat lelah tetapi tetap tidak kenyang, ibu kesakitan, dan lama-lama produksi ASI bisa ikut menurun. Karena itu, meluangkan waktu memperbaiki posisi sejak hari pertama jauh lebih berharga daripada bertahan dengan cara yang menyakitkan.

Kenapa posisi dan pelekatan menentukan segalanya

Saat menyusu, bayi tidak hanya mengisap ujung puting seperti menyedot sedotan. Ia memerah ASI dengan gerakan rahang dan lidah yang menekan bagian areola ke arah langit-langit mulutnya. Supaya gerakan itu bekerja, mulut bayi harus menangkap sebagian besar areola, bukan hanya puting. Inilah yang disebut pelekatan dalam.

Kalau hanya puting yang masuk ke mulut, dua masalah muncul sekaligus. Pertama, semua tekanan isapan jatuh di puting yang tipis dan sensitif, sehingga cepat lecet, retak, dan nyeri. Kedua, saluran ASI di bawah areola tidak terperah dengan baik, jadi ASI yang keluar sedikit meski bayi terlihat mengisap kuat. Bayi pun menjadi frustrasi, menyusu lebih lama, tetapi tetap rewel karena kurang kenyang.

Ada satu lagi alasan penting. Produksi ASI bekerja dengan prinsip persediaan mengikuti permintaan: makin sering dan makin efektif payudara dikosongkan, makin banyak ASI diproduksi. Pelekatan yang dangkal membuat payudara tidak pernah benar-benar kosong, sehingga tubuh mengira kebutuhan sedikit dan menurunkan produksi. Jadi memperbaiki posisi bukan sekadar soal kenyamanan sesaat, melainkan investasi untuk kelancaran menyusui berminggu-minggu ke depan. Sekali kamu merasakan pelekatan yang benar, tubuh akan lebih mudah mengenalinya di sesi berikutnya.

Persiapan sebelum bayi melekat

Menyusui yang nyaman dimulai dari tubuh ibu yang tersangga, bukan dari bayi. Duduklah dengan punggung bersandar penuh, bahu rileks, dan kaki menapak atau ditopang bangku kecil. Kalau kamu membungkuk mendekatkan payudara ke bayi, dalam beberapa menit leher dan punggung akan pegal. Prinsip yang lebih baik adalah membawa bayi naik ke payudara, dan gunakan bantal di pangkuan atau di bawah lengan untuk menaikkan posisinya.

Siapkan segelas air minum dalam jangkauan tangan karena menyusui memicu rasa haus, terutama di awal. Pilih tempat yang tenang untuk beberapa minggu pertama supaya kamu dan bayi bisa fokus belajar tanpa banyak gangguan. Nanti setelah terbiasa, kamu akan bisa menyusui di mana saja dengan santai.

Sebelum melekatkan, sejajarkan tubuh bayi: perutnya menempel ke perutmu, serta telinga, bahu, dan pinggulnya berada dalam satu garis lurus. Tubuh yang terpelintir membuat bayi sulit menelan dan cepat melepas.

Kalau kamu ingin menyangga payudara, bentuk tangan seperti huruf C: ibu jari di atas dan empat jari lain di bawah, semuanya di belakang areola supaya tidak menghalangi mulut bayi. Sangga ini berguna untuk payudara yang penuh atau berat, tetapi jangan menjepit terlalu dekat ke puting karena bisa menekan saluran ASI dan mengubah bentuk mulut bayi saat melekat. Begitu bayi melekat dengan baik dan stabil, kamu biasanya bisa melepas sangga tangan itu perlahan.

Empat posisi menyusui yang umum

Tidak ada satu posisi yang paling benar untuk semua orang. Yang terbaik adalah posisi yang membuat kamu nyaman dan bayi melekat dalam. Cobalah beberapa berikut ini dan pertahankan yang paling cocok, atau berganti-ganti sesuai situasi.

Posisi mendekap. Ini posisi klasik yang paling dikenal. Kepala bayi bersandar di lekuk siku pada sisi payudara yang sedang menyusui, sementara lenganmu menopang punggung dan bokongnya. Posisi ini praktis untuk bayi yang sudah lebih besar dan pandai melekat, tetapi untuk bayi baru lahir sering kurang memberi kontrol pada kepala.

Posisi silang. Mirip mendekap, tetapi kepala bayi ditopang oleh telapak tangan dari lengan yang berlawanan dengan payudara. Karena tanganmu langsung mengarahkan kepala, posisi ini memberi kontrol lebih besar dan sangat membantu di minggu-minggu pertama saat bayi belum pandai menangkap payudara. Letakkan jari di belakang telinga dan leher, bukan di puncak kepala.

Posisi mengepit. Badan bayi diselipkan di samping tubuhmu, di bawah lengan, seperti membawa tas atau bola, dengan kaki mengarah ke belakang. Kepalanya kamu topang dengan telapak tangan di depan payudara. Posisi ini nyaman setelah operasi caesar karena berat bayi tidak menekan perut, cocok untuk payudara besar, dan memudahkan menyusui bayi kembar secara bersamaan.

Posisi berbaring miring. Kamu dan bayi berbaring saling berhadapan, perut bertemu perut, dan bayi melekat dari payudara yang berada di bawah. Ini pilihan berharga untuk menyusui malam hari dan saat kamu masih memulihkan diri setelah melahirkan. Pastikan permukaan rata dan aman, serta jauhkan bantal dan selimut tebal dari wajah bayi.

Berganti posisi antar sesi punya manfaat tambahan: titik tekan isapan berpindah sehingga bagian payudara yang berbeda ikut terperah, dan risiko saluran ASI tersumbat berkurang.

Tanda pelekatan yang benar dan yang keliru

Setelah bayi melekat, luangkan beberapa detik untuk memeriksa apakah pelekatannya sudah dalam. Berikut tanda yang menunjukkan posisi sudah tepat:

  • Mulut bayi terbuka lebar dan menangkap sebagian besar areola, bukan hanya puting.
  • Bibir atas dan bawah mekar keluar seperti bibir ikan, tidak terlipat ke dalam.
  • Dagu bayi menempel ke payudara dan hidungnya bebas untuk bernapas.
  • Kamu mendengar suara menelan yang teratur setelah beberapa isapan cepat di awal.
  • Pipi bayi tampak membulat penuh, bukan cekung ke dalam.
  • Menyusu terasa seperti tarikan yang kuat, bukan cubitan atau nyeri menusuk.

Sebaliknya, ini tanda pelekatan perlu diperbaiki: kamu merasa nyeri tajam sepanjang sesi, terdengar bunyi berdecak atau menyeruput, pipi bayi cekung, bibir terlipat ke dalam, atau kamu hanya melihat puting terjepit di antara gusi. Nyeri ringan beberapa detik saat bayi mulai mengisap masih wajar, tetapi nyeri yang menetap bukan hal yang harus ditahan.

Kalau pelekatan kurang baik, jangan menarik paksa puting karena bisa melukainya. Selipkan jari kelingking yang bersih ke sudut mulut bayi untuk memutus vakum, lepaskan dengan lembut, tenangkan bayi sebentar, lalu coba melekatkan ulang dari awal. Mengulang beberapa kali di masa belajar adalah hal biasa, bukan tanda kamu gagal.

Merawat diri ibu: puting, payudara, dan istirahat

Menyusui yang berhasil bukan hanya soal bayi, tetapi juga kondisi ibu. Kalau puting lecet, penyebab paling umum adalah pelekatan yang dangkal, jadi perbaikan pertama selalu memperbaiki posisi. Setelah menyusu, kamu bisa mengoleskan sedikit ASI ke puting dan membiarkannya mengering karena ASI membantu melembapkan kulit. Hindari sabun keras atau alkohol di area puting yang justru membuatnya kering dan pecah.

Perhatikan juga payudara secara keseluruhan. Payudara yang terasa penuh, keras, dan nyeri bisa jadi tanda bendungan ASI karena tidak cukup sering dikosongkan. Menyusui lebih sering, mengganti posisi, dan mengompres hangat sebelum menyusu biasanya membantu. Namun kalau muncul area merah yang terasa panas dan nyeri disertai demam serta badan menggigil, itu bisa menandakan mastitis, sebuah infeksi yang perlu penanganan bidan atau dokter, kadang dengan obat. Jangan menunda memeriksakannya.

Hal yang sering dilupakan adalah istirahat ibu. Bayi baru lahir menyusu siang dan malam, sehingga kelelahan menumpuk cepat. Bergantianlah dengan pasangan untuk mengurus bayi di luar sesi menyusu, dan tidurlah saat bayi tidur bila memungkinkan. Kalau setelah melahirkan kamu merasa sangat sedih, cemas berlebihan, kosong, mudah menangis, atau kewalahan sampai sulit merawat diri dan bayi, itu bukan kelemahan dan bukan salahmu. Bicarakan dengan orang terdekat atau tenaga kesehatan, dan kamu bisa menghubungi layanan kesehatan jiwa SEJIWA di nomor 119 ekstensi 8. Ibu yang terurus lebih mampu merawat bayinya.

Situasi khusus dan anggapan yang perlu diluruskan

Beberapa keadaan menuntut penyesuaian. Setelah operasi caesar, posisi mengepit dan berbaring miring biasanya paling nyaman karena tidak menekan luka. Untuk bayi kembar, posisi mengepit memungkinkan menyusui keduanya sekaligus, meski banyak ibu memilih bergantian di awal sambil belajar. Bayi prematur atau bayi dengan kesulitan mengisap sebaiknya didampingi bidan atau konselor laktasi supaya asupannya terpantau; jangan ragu meminta bantuan langsung.

Ada juga anggapan keliru yang membuat ibu cemas tanpa alasan. Ukuran payudara tidak menentukan jumlah ASI; payudara kecil sama mampunya memproduksi ASI cukup. Puting yang tampak datar atau masuk ke dalam pun umumnya tetap bisa dipakai menyusui karena bayi melekat pada areola, bukan hanya puting, dan konselor laktasi bisa membantu tekniknya. Menyusui juga tidak harus dijadwal kaku dengan jam tetap; menyusui mengikuti tanda lapar bayi justru mendukung produksi ASI lebih baik daripada menahan bayi menunggu jam tertentu.

Seiring waktu, kebutuhan akan berubah. Setelah bayi tumbuh dan mulai makan makanan pendamping, ritme menyusui akan menyesuaikan, dan suatu saat kamu mungkin mempertimbangkan cara menyapih anak dari ASI secara bertahap. Untuk sekarang, fokus dulu pada membangun pelekatan yang nyaman dan pola yang cocok untukmu dan bayi.

Kapan menghubungi tenaga kesehatan

Sebagian besar kesulitan menyusui bisa diperbaiki di rumah dengan menyesuaikan posisi dan memperbanyak latihan. Namun ada tanda yang tidak boleh diabaikan. Bawa bayi ke dokter anak, bidan, atau Posyandu kalau ia tampak lesu dan sulit dibangunkan untuk menyusu, popoknya kering dalam waktu lama, berat badannya tidak naik atau malah turun, atau ia sering muntah menyembur. Dari sisi ibu, periksakan diri kalau puting lecet parah dan tak kunjung membaik, atau payudara merah, nyeri, dan disertai demam.

Setelah setiap sesi, sendawakan bayi dengan lembut supaya udara yang tertelan keluar dan ia tidak begah; kamu bisa membaca teknik lengkapnya di panduan cara menyendawakan bayi setelah menyusu. Ketika bayi tidur, selalu baringkan telentang di alas yang rata dan padat, tanpa bantal, selimut tebal, boneka, atau bumper di sekelilingnya. Menyusui adalah proses belajar bersama; beri dirimu dan bayimu waktu, dan mintalah bantuan lebih awal ketika ragu. Lihat panduan pengasuhan lain di hub parenting.

Langkah-langkahnya

  1. Siapkan tempat dan posisi duduk yang nyaman

    Sebelum mulai, cari kursi dengan sandaran punggung dan sandaran lengan, atau bersandar di dinding dengan bantal. Menyusui bisa berlangsung 15-40 menit, jadi kenyamananmu penting supaya bahu dan punggung tidak pegal. Letakkan bantal di pangkuan atau di bawah lengan untuk menaikkan bayi setinggi payudara sehingga kamu tidak perlu membungkuk. Siapkan air minum dalam jangkauan karena menyusui membuat haus. Kalau kamu lebih nyaman berbaring, siapkan permukaan rata yang aman. Punggung yang tersangga dan bahu yang rileks membuat aliran ASI lebih lancar dan mencegah nyeri leher.

  2. Bawa bayi ke payudara dan sejajarkan tubuhnya

    Angkat bayi mendekat, jangan mencondongkan payudara ke arahnya. Putar seluruh badan bayi menghadap tubuhmu sehingga perutnya menempel ke perutmu. Pastikan telinga, bahu, dan pinggul bayi berada dalam satu garis lurus, tidak terpelintir, supaya ia mudah menelan. Hidung bayi sejajar dengan puting. Topang kepala dan leher bayi baru lahir dengan lembut memakai tangan atau lengan, tetapi jangan menekan belakang kepalanya karena bisa membuatnya melawan. Dekapan yang rapat justru menenangkan bayi dan membantunya fokus mengisap.

  3. Pancing mulut bayi terbuka lebar

    Sentuhkan puting ke bibir atas atau hidung bayi dan tunggu sampai mulutnya membuka lebar seperti menguap. Momen ini penting: kalau kamu memasukkan puting saat mulut baru setengah terbuka, pelekatan jadi dangkal dan puting cepat lecet. Sabar menunggu beberapa detik sampai mulut benar-benar terbuka. Saat itu terjadi, gerakkan bayi cepat ke payudara dengan dagu menyentuh lebih dulu, bukan hidung. Arahkan puting ke arah langit-langit mulutnya. Jangan buru-buru; biarkan bayi yang menangkap, bukan kamu yang menjejalkan.

  4. Pastikan pelekatan dalam, bukan hanya di puting

    Pelekatan yang baik berarti sebagian besar areola bagian bawah masuk ke mulut bayi, bukan hanya ujung puting. Bibir bayi mekar keluar seperti bibir ikan, dagunya menempel ke payudara, dan hidungnya bebas untuk bernapas. Kamu mungkin melihat areola bagian atas sedikit lebih tampak daripada bagian bawah. Kalau terasa nyeri menusuk atau kamu hanya melihat puting di antara bibir yang terlipat ke dalam, lepaskan perlahan dan ulangi. Untuk melepas isapan, selipkan jari kelingking bersih ke sudut mulut bayi supaya vakum terlepas tanpa menarik puting.

  5. Kenali tanda pelekatan sudah benar

    Setelah melekat, perhatikan tandanya. Menyusu seharusnya terasa seperti tarikan yang kuat, bukan cubitan atau nyeri menusuk. Rahang bayi bergerak sampai ke dekat telinga, kamu mendengar suara menelan yang teratur setelah beberapa isapan cepat di awal, dan pipinya membulat, bukan cekung. Bayi tampak tenang dan tangannya melemas saat mulai kenyang. Kalau kamu mendengar bunyi berdecak atau melihat pipi cekung, udara mungkin masuk karena pelekatan dangkal; lepas dan ulangi. Nyeri ringan beberapa detik di awal wajar, tetapi nyeri yang menetap sepanjang sesi adalah tanda pelekatan perlu diperbaiki.

  6. Pilih posisi menyusui sesuai kebutuhan

    Coba beberapa posisi lalu pertahankan yang paling nyaman. Posisi mendekap: kepala bayi bersandar di lekuk sikumu. Posisi silang: kepala bayi ditopang telapak tangan yang berlawanan, memberi kontrol lebih untuk bayi baru lahir. Posisi mengepit: badan bayi diselipkan di samping tubuhmu seperti membawa tas, nyaman setelah operasi caesar karena tidak menekan perut. Posisi berbaring miring: kamu dan bayi berhadapan sambil berbaring, cocok untuk menyusui malam dan masa pemulihan. Berganti posisi antar sesi juga membantu mengosongkan payudara lebih merata dan mencegah saluran ASI tersumbat.

  7. Selalu topang kepala dan jaga jalan napas bayi

    Sepanjang menyusu, jaga agar hidung bayi tidak tertutup payudara. Kalau payudara menekan hidungnya, angkat sedikit bayi atau tekan lembut payudara dengan jari menjauh dari hidung. Untuk bayi baru lahir, kepala dan leher harus selalu tersangga karena ototnya belum kuat. Jangan pernah menyusui sambil meninggalkan bayi tanpa pengawasan, dan jangan menyandarkan botol tanpa dipegang karena berisiko tersedak. Kalau kamu menyusui sambil berbaring dan merasa sangat mengantuk, pindahkan bayi ke tempat tidurnya sendiri setelah selesai.

  8. Sendawakan lalu baringkan bayi dengan aman

    Setelah satu sisi selesai atau bayi melepas sendiri, sendawakan dengan menyandarkannya tegak di bahu sambil menepuk punggung perlahan. Tawarkan sisi payudara satunya; bayi boleh menolak kalau sudah kenyang. Di sesi berikutnya, mulai dari sisi yang terakhir supaya kedua payudara terpakai seimbang. Ketika bayi tidur, selalu baringkan telentang di alas yang rata dan padat, tanpa bantal, selimut tebal, boneka, atau bumper. Gendong tegak sekitar 10-20 menit setelah menyusu bila bayi sering gumoh sebelum dibaringkan.

Pertanyaan yang sering ditanya

Seberapa sering dan berapa lama bayi perlu menyusu?

Bayi baru lahir umumnya menyusu sangat sering, sekitar 8 sampai 12 kali dalam 24 jam termasuk malam hari, karena lambungnya kecil dan cepat kosong. Lama tiap sesi bervariasi, ada yang selesai dalam 10 menit, ada yang sampai 40 menit. Susui saat bayi menunjukkan tanda lapar awal seperti mengisap tangan, menoleh mencari, atau gelisah, jangan menunggu ia menangis keras. Biarkan bayi mengosongkan satu payudara sampai melepas sendiri sebelum menawarkan sisi lain, karena bagian akhir ASI lebih kaya lemak. Tiap bayi berbeda, jadi pola ini hanya gambaran umum, bukan patokan kaku.

Bagaimana tahu ASI cukup dan bayi kenyang?

Tanda paling andal bukan seberapa lama bayi menyusu, melainkan popok dan berat badannya. Setelah beberapa hari pertama, bayi umumnya membasahi beberapa popok setiap hari dan buang air besar teratur. Bayi yang cukup ASI tampak puas dan rileks setelah menyusu, dan berat badannya naik dari waktu ke waktu. Karena tiap bayi berbeda, cara paling pasti adalah menimbang berat badan rutin di Posyandu atau ke bidan. Jangan menilai kecukupan ASI dari payudara yang terasa kosong, karena itu normal setelah produksi menyesuaikan kebutuhan. Kalau bayi lesu, popok kering lama, atau berat badan seret, segera periksa ke tenaga kesehatan.

Kenapa puting saya lecet dan sakit?

Puting lecet paling sering disebabkan pelekatan yang dangkal, saat bayi hanya mengisap ujung puting alih-alih areola. Perbaiki dengan melepas isapan memakai jari kelingking, lalu melekatkan ulang setelah mulut bayi terbuka lebar. Pastikan tubuh bayi menghadap penuh dan dagunya menempel ke payudara. Setelah menyusu, oleskan sedikit ASI ke puting dan biarkan mengering karena membantu melembapkan. Hindari sabun keras di area puting. Kalau lecet disertai retakan dalam, nyeri hebat, payudara merah, bengkak, dan demam, itu bisa menandakan infeksi seperti mastitis dan perlu diperiksa bidan atau dokter. Jangan menahan sakit sendirian; konselor laktasi bisa membantu memperbaiki posisi.

Posisi apa yang paling nyaman setelah operasi caesar?

Setelah operasi caesar, luka di perut membuat sebagian posisi terasa menekan. Posisi mengepit sering paling nyaman karena badan bayi diselipkan di samping tubuh, jauh dari sayatan. Posisi berbaring miring juga membantu karena kamu tidak perlu menahan berat bayi di atas perut. Gunakan bantal untuk menopang bayi dan lenganmu supaya tidak ada tekanan pada luka. Minta bantuan pasangan atau keluarga untuk mengangkat dan menyerahkan bayi selama beberapa hari pertama. Kalau setiap posisi terasa sangat menyakitkan atau luka tampak memerah dan bernanah, sampaikan ke bidan atau dokter yang menangani. Pemulihan tiap ibu berbeda, jadi tidak perlu memaksakan diri.

Bolehkah menyusui sambil berbaring dan tertidur?

Menyusui sambil berbaring miring boleh dan nyaman, terutama malam hari, tetapi keamanan bayi tetap nomor satu. Susui di permukaan yang rata dan aman, bukan di sofa atau kursi tempat bayi bisa terjepit atau jatuh. Jauhkan bantal, selimut tebal, dan boneka dari sekitar bayi. Kalau kamu merasa sangat mengantuk dan takut tertidur, pindahkan bayi ke tempat tidurnya sendiri setelah selesai, dan baringkan telentang di alas padat. Jangan pernah meninggalkan bayi sendirian di tempat tidur dewasa. Kelelahan wajar pada masa menyusui, jadi mintalah bergantian dengan pasangan supaya kamu bisa beristirahat cukup.

Kapan saya harus menghubungi tenaga kesehatan?

Hubungi bidan, dokter anak, konselor laktasi, atau Posyandu kalau bayi tampak lesu dan sulit dibangunkan untuk menyusu, popoknya kering dalam waktu lama, berat badannya tidak naik atau turun, atau ia muntah menyembur berulang. Dari sisi ibu, periksakan diri kalau puting lecet parah, payudara sangat nyeri, merah, dan disertai demam. Jangan memberi bayi di bawah satu tahun madu atau obat tanpa anjuran dokter. Kalau kamu merasa sangat sedih, cemas, kosong, atau kewalahan setelah melahirkan, itu bukan kelemahan dan boleh dibicarakan; kamu bisa menghubungi layanan kesehatan jiwa SEJIWA di 119 ekstensi 8. Meminta bantuan lebih awal selalu lebih baik.