Panduan Kita

Cara merawat tali pusar bayi baru lahir

Merawat tali pusar bayi cukup dengan menjaganya bersih, kering, dan terbuka tanpa dibubuhi apa pun. Ini langkah amannya dan tanda infeksi yang perlu diwaspadai.

Oleh Maya Anggraini 8 menit baca
Cara merawat tali pusar bayi baru lahir
(CC0 1.0) via rawpixel

Setelah bayi lahir, sisa tali pusar masih menempel di pusarnya sebagai potongan kecil yang perlu waktu untuk mengering dan lepas. Bagi banyak orang tua baru, area ini terasa menakutkan untuk disentuh: takut menyakiti bayi, takut salah merawat, atau bingung dengan berbagai saran yang berbeda dari keluarga. Kabar baiknya, merawat tali pusar justru jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan. Prinsipnya cuma tiga: jaga bersih, jaga kering, dan biarkan lepas dengan sendirinya.

Justru banyak masalah tali pusar muncul karena perawatan yang berlebihan, bukan karena kurang dirawat. Membubuhkan ramuan, membungkusnya rapat, atau membersihkannya terlalu sering malah bisa memperlambat penyembuhan dan menambah risiko infeksi. Panduan ini menjelaskan cara merawat tali pusar bayi baru lahir dengan aman, apa yang normal selama proses lepasnya, dan tanda bahaya yang menandakan kamu perlu segera ke tenaga kesehatan.

Tiga prinsip utama: bersih, kering, dan biarkan terbuka

Sisa tali pusar adalah jaringan yang sudah tidak lagi dialiri darah, jadi ia akan mengering pelan-pelan lalu lepas seperti keropeng yang jatuh sendiri. Tugasmu bukan mempercepatnya dengan paksa, melainkan menjaga kondisi agar ia bisa mengering dengan tenang dan tidak terkena kuman selama prosesnya. Dari sinilah tiga prinsip perawatan berasal.

Bersih berarti kamu selalu mencuci tangan sebelum menyentuh area itu, dan hanya membersihkan tali pusar kalau memang terkena kotoran atau air seni. Kering berarti kamu menghindari kelembapan yang memperlambat proses mengering: tidak merendam bayi, melipat popok di bawah pusar, dan memakaikan baju longgar yang menyerap. Biarkan terbuka berarti membiarkan tali pusar terkena udara, tidak dibungkus rapat, dan tidak dibubuhi apa pun.

Ketiganya saling menguatkan. Tali pusar yang bersih, kering, dan terbuka biasanya lepas tanpa masalah dalam beberapa minggu. Sebaliknya, area yang terus lembap, tertutup rapat, atau sering diolesi sesuatu justru lebih rentan meradang. Kalau kamu ragu apakah yang kamu lakukan sudah benar, kembali saja ke tiga prinsip ini sebagai pegangan.

Satu hal yang sering membuat orang tua baru ragu adalah rasa takut menyentuh area itu sama sekali. Menyentuh tali pusar dengan lembut, misalnya saat melipat popok atau memastikan pangkalnya kering, tidak akan menyakiti bayi selama tanganmu bersih dan gerakanmu pelan. Yang perlu dihindari bukan menyentuhnya, melainkan menariknya, mengoreknya, atau menggosoknya keras. Jadi kamu tidak perlu panik setiap kali jari tak sengaja menyenggol pusar; cukup tetap tenang, jaga tangan tetap bersih, dan perlakukan area itu dengan hati-hati.

Kenapa tali pusar tidak perlu dibubuhi apa pun

Ini bagian yang paling sering menimbulkan kebingungan, karena banyak kebiasaan turun-temurun yang menganjurkan mengoleskan sesuatu ke pusar bayi. Padahal, cara yang kini dianjurkan untuk kebanyakan bayi adalah perawatan kering: cukup dijaga bersih dan kering, tanpa dibubuhi cairan atau ramuan apa pun.

Jangan mengoleskan madu, minyak, ramuan tradisional, bedak, kopi, atau abu ke pangkal tali pusar. Bahan-bahan ini tidak mempercepat penyembuhan dan justru bisa membawa kuman ke luka yang belum sembuh. Khusus madu, ada alasan tambahan yang penting: jangan memberi atau mengoleskan madu pada bayi di bawah usia satu tahun, karena berisiko menyebabkan botulisme, yaitu keracunan yang berbahaya bagi bayi.

Dulu banyak orang tua rutin mengusap tali pusar dengan alkohol setiap hari. Sekarang, menjaganya bersih dan kering dianggap sudah cukup dan lebih sederhana untuk kebanyakan bayi. Meski begitu, di sebagian kondisi atau daerah tertentu, tenaga kesehatan bisa menganjurkan cairan antiseptik khusus. Kalau bidan atau dokter anakmu memberi anjuran seperti itu, ikuti persis cara dan takarannya, dan jangan menggantinya dengan bahan lain atas inisiatif sendiri.

Intinya, lebih banyak yang dioleskan bukan berarti lebih baik. Untuk sebagian besar bayi, tangan yang bersih dan area yang kering jauh lebih menolong daripada olesan apa pun.

Menjaga tali pusar tetap kering setiap hari

Kelembapan adalah musuh utama dalam proses ini, jadi sebagian besar perawatan harianmu berkisar pada menjaga area pusar tetap kering. Langkah paling praktis ada di popok. Saat memasang popok, lipat bagian atasnya ke bawah pusar supaya sisa tali pusar tidak tertutup rapat dan tidak ikut basah kalau bayi mengompol. Beberapa popok khusus bayi baru lahir sudah punya lekukan di bagian pusar; kalau popokmu tidak punya, cukup lipat sendiri bagian depannya.

Pilih juga pakaian yang longgar dan berbahan menyerap, bukan yang ketat menekan perut. Sirkulasi udara membantu tali pusar mengering lebih cepat. Kalau cuaca sedang panas dan ruangan hangat, kamu boleh membiarkan bayi hanya berpopok sebentar supaya pusarnya terkena udara, selama ia tidak kedinginan.

Tali pusar yang sehat sebenarnya tidak perlu dibersihkan rutin. Kamu baru perlu membersihkannya kalau memang terkena kotoran atau air seni. Caranya: basahi kapas atau kain kasa bersih dengan sedikit air matang, peras sampai tidak menetes, lalu usap lembut bagian yang kotor termasuk pangkal tempat tali pusar menempel. Setelah itu keringkan dengan menepuk memakai kain bersih, bukan menggosok. Tidak perlu sabun kecuali disarankan tenaga kesehatan, dan jangan mencungkil kerak yang terbentuk di sekitarnya.

Memandikan bayi selama tali pusar belum lepas

Selama tali pusar belum lepas dan pusarnya belum benar-benar kering, sebaiknya kamu tidak merendam bayi di dalam air. Merendam pangkal yang belum sembuh bisa memperlambat proses mengeringnya sekaligus menambah risiko infeksi. Sebagai gantinya, mandikan bayi dengan cara diseka.

Mandi seka berarti membersihkan tubuh bayi bagian demi bagian dengan kain lembap, sambil menjaga area tali pusar tetap kering. Buka baju bayi sedikit demi sedikit supaya ia tidak kedinginan, seka satu bagian, keringkan, lalu tutup kembali sebelum lanjut ke bagian lain. Kalau air tanpa sengaja mengenai tali pusar, segera tepuk kering dengan kain bersih. Selama menyeka, selalu topang kepala dan leher bayi, karena ia belum bisa menahannya sendiri.

Panduan urutan menyeka, mengatur suhu air, sampai kapan bayi boleh mulai direndam bisa kamu baca lengkap di cara memandikan bayi baru lahir. Untuk teknik menopang kepala dan leher dengan aman, lihat juga cara menggendong bayi baru lahir dengan benar. Baru setelah tali pusar lepas dan pusarnya kering, kamu boleh beralih ke mandi rendam di bak kecil dengan air dangkal.

Saat tali pusar mulai lepas: yang normal dan yang tidak

Seiring hari, tali pusar akan mengering, mengeras, dan berubah warna dari kekuningan menjadi cokelat lalu kehitaman. Proses ini normal, begitu pula kalau ia mulai tampak menggantung dan hampir terlepas. Biasanya tali pusar lepas dengan sendirinya dalam satu sampai tiga minggu, meski tiap bayi berbeda dan sebagian perlu waktu sedikit lebih lama.

Yang paling penting: jangan pernah menarik, memutar, atau memaksanya lepas, walau tampak hanya menggantung sedikit. Memaksa bisa merobek kulit yang belum siap dan menyebabkan luka serta perdarahan. Biarkan ia jatuh sendiri saat waktunya tiba. Saat hampir lepas, sedikit noda darah kering atau cairan bening di popok atau baju masih wajar, karena gesekan tipis di pangkalnya.

Setelah tali pusar lepas, pusar bayi kadang masih tampak sedikit basah atau mengeluarkan cairan bening selama beberapa hari. Selama tidak ada bau tidak sedap, kemerahan yang meluas, atau nanah, ini biasanya masih bagian dari proses sembuh. Teruskan perawatan yang sama sampai pusar benar-benar kering. Kalau pusar tetap basah lama atau muncul benjolan kecil yang terus mengeluarkan cairan, periksakan ke bidan atau dokter anak agar dinilai lebih lanjut.

Bentuk pusar yang terlihat setelah tali pusar lepas juga bisa berbeda-beda pada tiap bayi, ada yang tampak lebih masuk ke dalam dan ada yang menonjol keluar. Tonjolan kecil yang muncul saat bayi menangis atau mengejan, dan kembali datar saat ia tenang, umumnya tidak berbahaya dan tidak perlu diikat, dikoin, atau ditekan dengan benda apa pun seperti yang kadang disarankan secara turun-temurun. Kalau tonjolan tampak besar, keras, nyeri, atau kamu ingin memastikan, tanyakan saja ke bidan atau dokter anak saat kontrol, dan jangan menanganinya sendiri dengan cara yang belum tentu aman.

Tanda bahaya: kapan harus ke tenaga kesehatan

Sebagian besar tali pusar sembuh tanpa masalah, tapi kamu tetap perlu mengenali tanda yang tidak boleh diabaikan supaya bisa bertindak cepat. Segera bawa bayi ke bidan, dokter anak, atau Posyandu bila kamu melihat salah satu dari tanda berikut di sekitar pusar:

  • Kulit di sekitar pusar memerah dan meluas, terasa hangat, atau bengkak.
  • Keluar nanah atau cairan yang berbau tidak sedap.
  • Berdarah terus dan tidak berhenti, bukan sekadar noda kering tipis.
  • Muncul benjolan basah yang tidak kunjung mengering.

Perhatikan juga kondisi bayi secara keseluruhan, bukan hanya pusarnya. Demam, rewel yang tidak biasa, tampak lemas, atau malas menyusu adalah tanda yang perlu segera diperiksa, apalagi bila muncul bersama gejala di pusar. Infeksi tali pusar pada bayi baru lahir bisa menyebar dengan cepat, jadi memeriksakannya lebih awal jauh lebih aman daripada menunggu dan berharap membaik sendiri.

Satu hal yang perlu ditegaskan: jangan mengobati sendiri dengan ramuan, antibiotik, atau dosis obat apa pun. Untuk keluhan seperti demam, ruam, atau berat badan yang tidak naik, serahkan penilaian dan penanganannya kepada tenaga kesehatan, dan jangan menentukan dosis obat sendiri.

Rawat juga dirimu, dan jaga tidur bayi tetap aman

Merawat tali pusar memang tidak rumit, tapi masa-masa awal punya bayi tetap melelahkan secara fisik dan emosional, apalagi dengan tidur yang terpotong-potong. Kalau kamu merasa sedih, cemas, atau kewalahan yang tidak kunjung hilang setelah melahirkan, itu bukan tanda kamu orang tua yang buruk. Kamu bisa menghubungi layanan kesehatan jiwa SEJIWA Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8, dan berbicara dengan pasangan, keluarga, atau tenaga kesehatan.

Selagi merawat pusar, jaga juga hal mendasar lain yang menyangkut keselamatan bayi, terutama saat tidur. Selalu baringkan bayi dalam posisi telentang di alas yang rata dan padat, tanpa bantal, selimut tebal, bumper, atau boneka di dalam boks, karena barang-barang empuk ini bisa menutup jalan napas. Jangan pula meninggalkan bayi sendirian di tempat tinggi atau di dekat air, bahkan sedetik pun.

Merawat tali pusar pada akhirnya hanya butuh ketelatenan sederhana: cuci tangan lebih dulu, jaga bersih dan kering, lipat popok di bawah pusar, jangan bubuhi apa pun, dan biarkan lepas sendiri. Kenali tanda bahayanya, dan jangan ragu ke tenaga kesehatan bila ada yang tidak beres. Untuk panduan merawat bayi dan menemani tumbuh kembangnya yang lain, telusuri kumpulan artikel di kategori Parenting & Anak.

Langkah-langkahnya

  1. Cuci tangan sebelum menyentuh area tali pusar

    Sebelum menyentuh tali pusar atau mengganti popok, cuci tanganmu dengan sabun dan air mengalir sampai bersih. Tangan adalah jalur paling umum kuman masuk ke pangkal tali pusar yang belum sembuh. Lepas cincin dan jam tangan supaya tidak ada tempat kotoran menyelip. Kalau kamu sedang di luar dan tidak ada air, pakai pembersih tangan berbahan alkohol dulu, lalu tetap cuci dengan air begitu memungkinkan. Kebiasaan sederhana ini jauh lebih penting daripada mengoleskan cairan apa pun ke tali pusar. Pastikan juga orang lain yang ikut merawat bayi mencuci tangan sebelum memegang area pusar.

  2. Biarkan tali pusar terbuka dan kering, jangan dibubuhi apa pun

    Cara perawatan yang kini dianjurkan untuk kebanyakan bayi adalah membiarkan tali pusar tetap kering dan terbuka terkena udara, tanpa dibubuhi apa pun. Jangan mengoleskan madu, ramuan tradisional, minyak, bedak, kopi, atau abu ke pangkal tali pusar, karena bisa menambah risiko infeksi. Dulu banyak yang rutin mengusap dengan alkohol, tapi sekarang menjaga bersih dan kering sudah dianggap cukup. Kalau bidan atau dokter anakmu menganjurkan cairan antiseptik tertentu, ikuti anjuran itu beserta cara pakainya. Biarkan pangkal tali pusar bernapas; makin kering, makin cepat ia mengering dan lepas dengan sendirinya.

  3. Jaga tetap kering dengan melipat popok di bawah pusar

    Kelembapan memperlambat tali pusar mengering, jadi jaga area itu tetap kering sepanjang hari. Saat memasang popok, lipat bagian atasnya ke bawah pusar supaya sisa tali pusar tidak tertutup rapat dan tidak terkena air seni. Sebagian popok bayi baru lahir sudah punya lekukan khusus di bagian pusar; kalau tidak ada, cukup lipat sendiri. Pakaikan baju yang longgar dan menyerap, bukan yang ketat menekan perut. Kalau cuaca panas, biarkan bayi hanya berpopok sebentar agar pusarnya terkena udara. Periksa setiap kali ganti popok apakah areanya kering dan bersih.

  4. Bersihkan hanya kalau memang kotor, lalu keringkan

    Tali pusar yang sehat tidak perlu dibersihkan rutin. Kamu baru perlu membersihkannya kalau memang terkena kotoran atau air seni. Basahi kapas atau kain kasa bersih dengan sedikit air matang, peras, lalu usap lembut bagian yang kotor, termasuk pangkal tempat tali pusar menempel ke kulit. Setelah itu keringkan dengan menepuk memakai kain bersih atau kapas kering, jangan menggosok. Tidak perlu sabun kecuali kalau tenaga kesehatan menyarankan. Jangan mencungkil kerak atau menarik bagian yang tampak hampir lepas. Cukup bersihkan seperlunya, keringkan, lalu biarkan kembali terbuka terkena udara.

  5. Selama belum lepas, mandikan dengan diseka bukan direndam

    Selama tali pusar belum lepas dan pusarnya belum benar-benar kering, jangan merendam bayi di dalam air. Mandikan dengan cara diseka: bersihkan tubuh bayi bagian demi bagian memakai kain lembap sambil menjaga area tali pusar tetap kering. Merendam pangkal yang belum sembuh bisa memperlambat proses mengeringnya dan menambah risiko infeksi. Kalau air sempat mengenai tali pusar, segera tepuk kering dengan kain bersih. Baru setelah tali pusar lepas dan pusarnya kering, kamu boleh memandikan bayi dengan cara direndam di air dangkal. Selama menyeka, selalu topang kepala dan leher bayi.

  6. Biarkan tali pusar lepas dengan sendirinya

    Tali pusar akan mengering, berubah warna menjadi cokelat kehitaman, lalu lepas dengan sendirinya, biasanya dalam satu sampai tiga minggu, meski tiap bayi berbeda. Jangan pernah menarik, memutar, atau memaksanya lepas walau tampak hanya menggantung sedikit; memaksa bisa membuat luka dan berdarah. Biarkan ia jatuh sendiri saat waktunya tiba. Saat hampir lepas, sedikit noda darah kering atau cairan bening di popok atau baju masih wajar. Setelah lepas, pusar mungkin tampak sedikit basah selama beberapa hari; teruskan menjaganya bersih dan kering sampai benar-benar sembuh.

  7. Kenali tanda bahaya dan segera periksakan

    Sebagian besar tali pusar sembuh tanpa masalah, tapi kamu perlu tahu tanda yang tidak boleh diabaikan. Bawa bayi ke bidan, dokter anak, atau Posyandu bila kulit di sekitar pusar memerah dan meluas, terasa hangat atau bengkak, keluar nanah atau cairan berbau, berdarah terus dan tidak berhenti, atau muncul benjolan basah yang tidak kunjung kering. Waspadai juga tanda pada bayinya: demam, rewel berlebihan, lemas, atau malas menyusu. Jangan menunda dan jangan mengobati sendiri dengan ramuan atau obat. Infeksi tali pusar bisa menyebar cepat pada bayi baru lahir, jadi lebih baik memeriksakannya lebih awal.

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa lama tali pusar bayi biasanya lepas?

Tali pusar biasanya mengering lalu lepas dengan sendirinya dalam satu sampai tiga minggu setelah bayi lahir, meski tiap bayi berbeda. Ada yang lepas lebih cepat, ada juga yang perlu waktu sedikit lebih lama, dan keduanya masih wajar selama tidak ada tanda infeksi. Yang membantu mempercepat prosesnya adalah menjaga area itu tetap bersih, kering, dan terkena udara, bukan menariknya. Jangan pernah memaksa tali pusar agar cepat lepas walau tampak hanya menggantung. Kalau sudah lewat beberapa minggu dan tali pusar belum juga lepas, atau area itu tampak merah, basah, dan berbau, tanyakan ke bidan atau dokter anak untuk memastikan tidak ada masalah.

Bolehkah membersihkan tali pusar dengan alkohol atau betadine?

Untuk kebanyakan bayi, kamu tidak perlu rutin mengusap tali pusar dengan alkohol atau cairan antiseptik. Cara yang kini dianjurkan adalah menjaganya tetap bersih dan kering serta membiarkannya terkena udara. Dulu mengusap dengan alkohol setiap hari memang umum, tapi sekarang perawatan kering dianggap cukup dan lebih sederhana. Meski begitu, di sebagian kondisi atau daerah, tenaga kesehatan bisa menganjurkan antiseptik tertentu. Kalau bidan atau dokter anakmu memberi anjuran seperti itu, ikuti persis cara dan takarannya. Yang tidak boleh dilakukan adalah membubuhkan ramuan, madu, minyak, atau bedak sendiri tanpa anjuran, karena justru bisa menambah risiko infeksi pada bayi.

Tali pusar bayi berdarah sedikit, apakah berbahaya?

Sedikit noda darah kering di popok atau baju, terutama menjelang tali pusar lepas, biasanya masih wajar dan tidak berbahaya. Gesekan popok atau baju bisa membuat pangkalnya merembes tipis. Yang perlu kamu lakukan cukup menjaga area itu tetap bersih dan kering, dan jangan menariknya. Namun kamu perlu waspada bila darah keluar cukup banyak, terus mengalir dan tidak berhenti, atau muncul bersama nanah dan bau tidak sedap. Bila darah disertai kulit sekitar pusar yang memerah, bengkak, atau bayi demam dan lemas, jangan menunggu; segera bawa ke bidan, dokter anak, atau Posyandu. Jangan mengoleskan apa pun untuk menghentikan darah tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Bolehkah memandikan bayi dengan direndam sebelum tali pusar lepas?

Sebelum tali pusar lepas dan pusarnya benar-benar kering, sebaiknya jangan merendam bayi di dalam air. Cara yang lebih aman adalah mandi seka, yaitu membersihkan tubuh bayi bagian demi bagian dengan kain lembap sambil menjaga area tali pusar tetap kering. Merendam pangkal yang belum sembuh bisa memperlambat proses mengeringnya dan menambah risiko infeksi. Kalau tanpa sengaja air mengenai tali pusar, segera tepuk kering memakai kain bersih. Setelah tali pusar lepas dan pusarnya kering, barulah kamu boleh memandikan bayi dengan cara direndam di air dangkal. Selama masa ini, selalu topang kepala dan leher bayi dan jangan pernah meninggalkannya sendirian di dekat air.

Apa tanda tali pusar infeksi dan kapan harus ke dokter?

Segera bawa bayi ke bidan, dokter anak, atau Posyandu bila kamu melihat tanda infeksi di sekitar tali pusar: kulit yang memerah dan meluas, terasa hangat atau bengkak, keluar nanah atau cairan berbau tidak sedap, atau berdarah terus tanpa berhenti. Perhatikan juga kondisi bayinya secara keseluruhan; demam, rewel yang tidak biasa, tampak lemas, atau malas menyusu adalah tanda yang tidak boleh diabaikan. Infeksi tali pusar pada bayi baru lahir bisa menyebar dengan cepat, jadi memeriksakannya lebih awal jauh lebih aman daripada menunggu. Jangan mengobati sendiri dengan ramuan, antibiotik, atau dosis obat apa pun; biarkan tenaga kesehatan yang menilai dan menentukan penanganannya.

Setelah tali pusar lepas, pusarnya masih basah, apa yang harus dilakukan?

Setelah tali pusar lepas, pusar bayi kadang masih tampak sedikit basah, lembap, atau mengeluarkan cairan bening dalam beberapa hari. Selama tidak ada bau tidak sedap, kemerahan yang meluas, atau nanah, biasanya ini masih bagian dari proses sembuh. Yang perlu kamu lakukan adalah meneruskan perawatan yang sama: cuci tangan dulu, jaga area itu bersih dan kering, lipat popok di bawah pusar, dan biarkan terkena udara. Jangan mengorek atau membubuhkan apa pun ke dalam pusar. Bila pusar tetap basah lama, muncul benjolan kecil yang terus mengeluarkan cairan, atau kulit sekitarnya memerah dan berbau, periksakan ke bidan atau dokter anak untuk dinilai lebih lanjut.